Komentator

Sebagai seorang pengembang aplikasi hape, saya punya beberapa aplikasi di iPhone dan Android. Untuk yang Android memang bukan buatan saya, tapi untuk yang versi iOS saya berani klaim. Dengan terdapatnya tautan untuk menulis saran dan kritik, paling tidak setiap harinya saya mendapatkan 1 email dari orang yang tidak saya kenal.

Dari semua email yang masuk, banyak orang Indonesia yang kemungkinan tidak mengerti betapa sulitnya membuat aplikasi, hanya tinggal melempar kritik tanpa memberi solusi apapun. Beruntung kritik itu tidak dituliskan dalam bentuk review di Appstore, kalau iya, bisa-bisa semua aplikasi saya cuma punya bintang 2 atau 3.

Kritik-kritik itu mirip seperti ini misalnya:

Mas, saya gak akan pake aplikasi ini kalau belum ada tanda ‘ain-nya. Karena tanda ‘ain ini penting sekali dan harus diberitahu ke semua pengguna aplikasi sampean.

Apa jawaban saya?

Gak apa-apa sampean gak pake aplikasi saya. Saya gak punya keuntungan apa-apa kalo sampean mau pake atau ngga. Aplikasinya gratis dan tanpa iklan kok. Untuk tanda ‘ain, kalo sampean punya silahkan kasih saya.

Dan sukses diam.

Ada lagi yang model lain, tapi ini lebih sebagai saran sih. Tapi ya hampir sama, cuma bisa kasih usul tanpa memberikan solusi.

Coba tiap ayatnya ada asbabun nuzul-nya. Jadi bisa tau dan baca sejarahnya.

Ketika saya tanya balik apakah dia punya datanya, diam.

===

Kita kembali ke jaman sekarang, dimana pemerintahan saat ini punya 2 kondisi, fans dan hater. Untuk beberapa fans, apapun yang dilakukan pemerintah saat ini, benar. Dan sebaliknya untuk hater, apapun yang dilakukan pemerintah, baik atau buruk, pasti jelek. Mungkin Presiden bernafas saja itu sudah salah.

Saya jadi kembali ke email-email yang pernah dikirimkan. Dan menyimpulkan bahwa banyak orang Indonesia yang hanya bisa berlindung dibalik komputer mereka. Cuma komentar tanpa memberikan solusi. Kebetulan saya belum bisa memberikan solusi apapun, jadi saya Alhamdulillah masih dijauhkan untuk terlibat dalam diskusi yang tidak ada ujungnya, baik di Facebook atau Twitter.

Sebagai seseorang yang pernah tinggal di Arab, semoga kesatuan Indonesia adalah nomor satu. Dan tidak mudah diadu domba seperti layaknya Belanda ketika datang ke tanah air.