Setahun di Indonesia

Bulan Oktober tahun ini menandai saya kembali ke Indonesia satu tahun yang lalu. Keputusan yang cukup berani dengan meninggalkan zona nyaman saya di sana. Mungkin banyak orang yang mengernyitkan dahinya ketika tahu saya akan meninggalkan Kuwait dan kembali lagi ke Indonesia.

Terus terang kepulangan saya juga ditentukan dengan hasil Pemilu 2014 kemarin. Kalau saja bukan Jokowi yang menang, saya mungkin masih di sana. Dan terus terang setelah setahun ini saya sangat bersyukur diberikan petunjuk untuk pulang kampung setahun yang lalu.

Penyakit baru

Yang saya takutkan beberapa tahun ke belakang terjadi. Saya menderita penyakit yang disebabkan oleh kurang teraturnya makan, kurang makan sayur, dan kurang berolahraga. Kolesterol. Jikalau saya masih di Kuwait, akan menjadi sulit untuk berolahraga dikarenakan situasi tempat tinggal saya yang kurang mendukung.

Sejak tinggal di Malang, semua ikut mendukung. Lari pagi, tapi makan enak jalan terus. Akhirnya di akhir bulan puasa kemarin tercatat kolesterol saya mencapai 265 dari yang seharusnya 200. Inilah yang menyebabkan saya rutin lari pagi (walaupun kadang bolong-bolong), dan berhenti dari makan sembarangan.

Dan siapa yang sangka, dibandingkan setahun lalu, berat badan saya berkurang sampai 10kg. Memang tidak semua penyakit membawa dampak buruk buat tubuh. Ada juga yang berlaku sebagai peringatan jikalau umur tak lagi muda.

Rejeki baru

Sayapun tidak mengira, rejeki saya bertambah sejak tinggal di Malang melebihi versi Kuwait. Tapi ini mungkin dikarenakan lebih banyak kepala yang rejekinya diberikan melalui saya. Jadi kelebihan itu adalah jatah mereka.

Begitulah, yang jelas saya senang dengan keputusan meninggalkan Kuwait setahun yang lalu. Jika ditanya untuk balik lagi untuk hidup ke sana,

Gak mau ah.

One thought on “Setahun di Indonesia”

Comments are closed.