Review Apple Watch

Sebenarnya sudah banyak review pemakai Apple Watch, tapi tidak ada salahnya saya buat versi saya sendiri sebagai seorang pengembang juga pemakai. Di bahasan kali ini, saya akan menulis sebagai pemakai dulu. Kalau sempat, akan saya review sebagai pengembang.

Seperti kebanyakan produk Apple, atau mungkin ini pengalaman pribadi saya saja, ketika Anda sudah enak di platform buatan Apple, Anda mungkin tidak ingin lagi pindah ke lain hati. Beberapa orang sudah saya tanya, dan mereka bilang persis seperti yang saya tulis ini.

Begitu juga dengan Apple Watch, setelah menggunakannya selama kurang lebih 1 bulan, saya sudah tidak lagi tertarik dengan jam biasa. Ya iya pasti, harga termurah Apple watch bisa beli hampir 3 buah jam merek Swatch asli yang terhitung lumayan bagus.

Berikut ini adalah pengalaman pribadi saya sebagai pengguna Apple Watch. Sebagai informasi, saya menggunakan Apple Watch Alumunium 42″.

Apakah layak dibeli?

Kalau Anda pengguna iOS, dan akan terus menggunakan iOS, tidak perlu ngutang atau nyicil untuk membeli Apple Watch, dan ada dananya, maka jawabannya adalah layak.

Dengan perangkat ini, Anda akan lebih jarang nengak-nengok ke layar iPhone karena notifikasi akan datang ke pergelangan tangan Anda. Yang perlu diingat, jika Anda sedang menggunakan iPhone, maka notifikasi hanya akan datang ke iPhone Anda, bukan Apple Watch.

Baterai?

Selama ini tidak ada masalah dengan baterai jika Anda tidak terlalu aktif. Hari teraktif saya waktu itu, kondisi 100% baterai saat bangun tidur, kemudian lari 10km di jam 6 – 7, ditambah bersepeda 24km, maka jam makan siang baterai sudah berkurang lebih dari setengahnya.

Jika Anda tidak lari, tidak olahraga aktif seperti saya di paragraf atas, pekerjaan Anda lebih banyak duduk, maka saat akan tidur jam 10 – 11 malam, baterai bisa tersisa sekitar 30%.

Kelebihan dan kekurangan

Salah satu hal yang saya suka dari Apple Watch adalah, tali jam yang bisa diganti-ganti. Bentuknya yang unik, keren dan cocok disandingkan dengan tali jam model apapun. Walaupun sampai saat ini tali jam yang saya punya masih yang untuk olahraga saja, tapi dalam waktu dekat ini versi lainnya akan datang.

Selain tali jam, Apple Watch juga meminimalisasi kebutuhan saya untuk selalu melihat layar iPhone ketika ada notifikasi.

Kekurangannya adalah, harganya yang masih terbilang mahal dan kurang responsifnya aplikasi yang ada. Entah karena perangkat keras yang ada di dalamnya, atau perangkat lunaknya. Selain itu, tidak ada lagi kekurangan.

Untuk olah raga?

Jika Anda aktif berolahraga, Apple Watch adalah pilihan tepat. Saya dulu pengguna Fitbit Flex, lalu setelah pemakaian beberapa bulan, karet Fitbit sudah gak jelas kemana dikarenakan kualitasnya yang kurang mumpuni. Ditambah, lebih cepat bau karena bercampur keringat.

Untuk fitur olahraga, Apple Watch punya aplikasi native yang berjalan lebih cepat dibandingkan Nike+ atau aplikasi lain. Tapi untuk bisa menggunakannya, Anda harus tetap membawa iPhone dikarenakan Apple Watch tidak mempunyai GPS sendiri.

Kesimpulan saya, selain sisir sebagai obat ganteng, Apple Watch juga bisa bikin ganteng.

Hackathon Merdeka 2.0 di Malang

Saya memang paling senang kalo ada acara Hackathon, walaupun sudah tak lagi muda, tapi cukup percaya dengan kemampuan sendiri untuk tetap melek semalaman.

Tapi sayangnya, saya ditakdirkan untuk jadi Mentor daripada jadi peserta Hackathon. Walaupun sudah saya bilang dari awal kalau saya akan jadi peserta, tapi panitia di Malang bersikukuh kalau saya sudah tidak lagi cocok jadi peserta. Jadi begitulah, akhirnya saya menyerah dan memilih jadi mentor.

Kondisi peserta di Malang

Dari 68 tim yang terdaftar (1 tim hanya beranggotakan 3 orang), hanya ada 48 tim yang akhirnya datang dan ikut berkompetisi. Itu artinya ada sekitar 150 sampai 160an orang (ditambah panitia) dalam ruangan Dilo Malang yang tidak terlalu besar itu.

Dari total 48 tim yang hadir, saya bisa bilang 90%-nya adalah mahasiswa semester 3 – 5 yang belum pernah ikut hackathon sama sekali. Sisanya dari kalangan anak muda yang sudah lulus, dan ada 3 tim dari SMK.

Kebetulan Rimbunesia ikut serta dalam Hackathon kali ini, dan akan sayangnya tidak menjuarai kompetisi ini, walaupun saya yakin mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Apa yang rata-rata dibuat

Karena kondisi sebagian besar peserta yang masih mahasiswa, rata-rata mereka berkutat dengan data. Ada yang membahas data kemiskinan, data anak jalanan, data anak putus sekolah, dan lain-lain. Jadi kalau bahasa kita yang sudah lulus dan tua ini, mereka hanya membuat CRUD (Create, Read, Update, Delete) saja.

Sangat bisa dimaklumi, karena mungkin kalau saya seusia mereka, sayapun mungkin akan membuat hal yang sama. Hehe.

Yang jadi juara

Perlu diingat, saya hanya mentor di acara kali ini, jadi penentuan pemenang murni di tangan para juri.

Juara pertama, mereka hanya terdiri dari 2 orang yang mengandalkan reader RFID e-ktp. Mereka berharap pemerintah yang punya data penduduk akan bisa mengandalkan reader ini dan ketika e-ktp ditempelkan ke alat, data penduduk akan keluar. Data ini akan bisa digunakan dalam pendataan bencana (CRUD saja), dan atau pembagian raskin (CRUD juga).

Juara kedua, mereka membuat aplikasi antrian yang lebih efektif dengan cara memberikan push notifikasi ke telepon genggam pengantri.

Juara ketiga, mereka membuat aplikasi untuk melaporkan jalan rusak dengan menyertakan latitude dan langitude.

Apa yang Rimbunesia buat?

Ide yang kami tawarkan adalah yang tidak terkait dengan birokrasi kependudukan di lingkup nasional. Sejauh pengalaman saya selama tinggal di luar negeri dan menjadi panitia pendaftaran PEMILU, ternyata KBRI tidak punya data pasti WNI yang tinggal di suatu negara karena tidak adanya koneksi antara bagian imigrasi dan pihak KBRI.

Aplikasi dari kami menawarkan solusi untuk permasalahan di atas yaitu dengan membuat pengguna mendaftarkan data dirinya, kemudian ketika terdeteksi pindah negara, aplikasi akan mengunggah dokumen tersebut langsung ke KBRI terkait. Sehingga setiap KBRI bisa punya data real-time siapa saja WNI yang saat ini berada di negara tempat KBRI berdiri.

Berikut video dari tim Rimbunesia.

Seminggu di Kuwait

Kemarin saya baru sampe lagi di Malang, setelah kira-kira seminggu berada di Kuwait untuk mengurus ijin tinggal dan kerja keras. Ini adalah kunjungan kedua saya setelah resmi keluar dari Kuwait dan memulai hidup di Indonesia.

Nah loh?

Jadi menurut hukum Kuwait, ijin tinggal yang ada akan otomatis kadaluarsa ketika orang yang mempunyai ijin tinggal meninggalkan tanah Kuwait lebih dari 6 bulan terhitung sejak dia keluar. Dengan kata lain, untuk tetap mempunyai ijin tinggal di sana, saya harus hadir di Kuwait tiap 6 bulan sekali.

Dan kenapa saya masih saja kembali ke sana ketika sudah balik ke Indonesia? Yang ini panjang ceritanya. Dan tidak akan saya bahas di sini, karena judulnya adalah Seminggu di Kuwait. Hehe.

Yang berubah?

Tidak banyak perubahan yang bisa saya lihat. Tapi ada satu mall baru yang sudah selesai dan saya punya kesempatan melihat-lihat. Tidak ada yang menarik, semua tampak seperti mall seperti biasa. Kebiasaan dan perilaku orang arab juga sama saja. Tidak ada yang berubah sama sekali. Saya sungguh harus bersyukur tinggal di Malang.

Ada satu perubahan yang jelas kentara pada saya sendiri. Kini bahasa inggris saya mulai pudar karena jarang terpakai. Walaupun masih bisa ngomong dan masih lumayan lancar, tapi lebih sering keseleo. Ngomong masih tercampur dengan bahasa Indonesia, walaupun sedikit sekali. Cukup mengkhawatirkan, tapi gak apa-apalah.

Harga-harga?

Tinggal di Malang ini benar-benar membuat semua harga di luar Malang jauh terlihat lebih mahal. Ketika dulu saya tinggal di Kuwait dan pergi ke Istanbul dan Seoul, saya berpikir semua harga di sana terlihat lebih murah.

Dan selama setahun tinggal di Malang, saya melihat harga-hara di Kuwait sudah tidak lagi bersahabat dengan hati saya. Jangankan Kuwait yang sudah di luar negeri sana, dibanding dengan Jakarta saja saya sudah mikir beberapa kali.

Kesimpulannya, bersyukur saja saya tinggal di Malang. Tiap pagi bisa menikmati udara pagi yang sejuk sambil lari-lari cari keringat. Malamnya bisa keliling naik sepeda sekadar membeli sesuatu dengan harga yang sangat bersahabat.

Teringat ibu saya bertanya beberapa hari lalu, enak mana, tinggal di Malang apa Kuwait? Tentu saja, jawabannya enak di Malang!