Seminggu di Kuwait

Kemarin saya baru sampe lagi di Malang, setelah kira-kira seminggu berada di Kuwait untuk mengurus ijin tinggal dan kerja keras. Ini adalah kunjungan kedua saya setelah resmi keluar dari Kuwait dan memulai hidup di Indonesia.

Nah loh?

Jadi menurut hukum Kuwait, ijin tinggal yang ada akan otomatis kadaluarsa ketika orang yang mempunyai ijin tinggal meninggalkan tanah Kuwait lebih dari 6 bulan terhitung sejak dia keluar. Dengan kata lain, untuk tetap mempunyai ijin tinggal di sana, saya harus hadir di Kuwait tiap 6 bulan sekali.

Dan kenapa saya masih saja kembali ke sana ketika sudah balik ke Indonesia? Yang ini panjang ceritanya. Dan tidak akan saya bahas di sini, karena judulnya adalah Seminggu di Kuwait. Hehe.

Yang berubah?

Tidak banyak perubahan yang bisa saya lihat. Tapi ada satu mall baru yang sudah selesai dan saya punya kesempatan melihat-lihat. Tidak ada yang menarik, semua tampak seperti mall seperti biasa. Kebiasaan dan perilaku orang arab juga sama saja. Tidak ada yang berubah sama sekali. Saya sungguh harus bersyukur tinggal di Malang.

Ada satu perubahan yang jelas kentara pada saya sendiri. Kini bahasa inggris saya mulai pudar karena jarang terpakai. Walaupun masih bisa ngomong dan masih lumayan lancar, tapi lebih sering keseleo. Ngomong masih tercampur dengan bahasa Indonesia, walaupun sedikit sekali. Cukup mengkhawatirkan, tapi gak apa-apalah.

Harga-harga?

Tinggal di Malang ini benar-benar membuat semua harga di luar Malang jauh terlihat lebih mahal. Ketika dulu saya tinggal di Kuwait dan pergi ke Istanbul dan Seoul, saya berpikir semua harga di sana terlihat lebih murah.

Dan selama setahun tinggal di Malang, saya melihat harga-hara di Kuwait sudah tidak lagi bersahabat dengan hati saya. Jangankan Kuwait yang sudah di luar negeri sana, dibanding dengan Jakarta saja saya sudah mikir beberapa kali.

Kesimpulannya, bersyukur saja saya tinggal di Malang. Tiap pagi bisa menikmati udara pagi yang sejuk sambil lari-lari cari keringat. Malamnya bisa keliling naik sepeda sekadar membeli sesuatu dengan harga yang sangat bersahabat.

Teringat ibu saya bertanya beberapa hari lalu, enak mana, tinggal di Malang apa Kuwait? Tentu saja, jawabannya enak di Malang!

One thought on “Seminggu di Kuwait”

  1. Pengalaman naik pesawat Malang-Jakarta (PP) di musim kering, dari atas pesawat, semua tanah di daerah Pulau Jawa terlihat kering kecoklatan, tapi anehnya dari atas pesawat, Malang terlihat hijau, masih banyak sawah dan ladang, pohon-pohon kelapa, gunung-gunung dan sungai-sungai penuh pepohonan, entah ini cuma perasaan saya saja atau memang benar adanya 🙂

Comments are closed.