dolanesia1

Hackathon Merdeka 2.0 di Malang

Saya memang paling senang kalo ada acara Hackathon, walaupun sudah tak lagi muda, tapi cukup percaya dengan kemampuan sendiri untuk tetap melek semalaman.

Tapi sayangnya, saya ditakdirkan untuk jadi Mentor daripada jadi peserta Hackathon. Walaupun sudah saya bilang dari awal kalau saya akan jadi peserta, tapi panitia di Malang bersikukuh kalau saya sudah tidak lagi cocok jadi peserta. Jadi begitulah, akhirnya saya menyerah dan memilih jadi mentor.

Kondisi peserta di Malang

Dari 68 tim yang terdaftar (1 tim hanya beranggotakan 3 orang), hanya ada 48 tim yang akhirnya datang dan ikut berkompetisi. Itu artinya ada sekitar 150 sampai 160an orang (ditambah panitia) dalam ruangan Dilo Malang yang tidak terlalu besar itu.

Dari total 48 tim yang hadir, saya bisa bilang 90%-nya adalah mahasiswa semester 3 – 5 yang belum pernah ikut hackathon sama sekali. Sisanya dari kalangan anak muda yang sudah lulus, dan ada 3 tim dari SMK.

Kebetulan Rimbunesia ikut serta dalam Hackathon kali ini, dan akan sayangnya tidak menjuarai kompetisi ini, walaupun saya yakin mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Apa yang rata-rata dibuat

Karena kondisi sebagian besar peserta yang masih mahasiswa, rata-rata mereka berkutat dengan data. Ada yang membahas data kemiskinan, data anak jalanan, data anak putus sekolah, dan lain-lain. Jadi kalau bahasa kita yang sudah lulus dan tua ini, mereka hanya membuat CRUD (Create, Read, Update, Delete) saja.

Sangat bisa dimaklumi, karena mungkin kalau saya seusia mereka, sayapun mungkin akan membuat hal yang sama. Hehe.

Yang jadi juara

Perlu diingat, saya hanya mentor di acara kali ini, jadi penentuan pemenang murni di tangan para juri.

Juara pertama, mereka hanya terdiri dari 2 orang yang mengandalkan reader RFID e-ktp. Mereka berharap pemerintah yang punya data penduduk akan bisa mengandalkan reader ini dan ketika e-ktp ditempelkan ke alat, data penduduk akan keluar. Data ini akan bisa digunakan dalam pendataan bencana (CRUD saja), dan atau pembagian raskin (CRUD juga).

Juara kedua, mereka membuat aplikasi antrian yang lebih efektif dengan cara memberikan push notifikasi ke telepon genggam pengantri.

Juara ketiga, mereka membuat aplikasi untuk melaporkan jalan rusak dengan menyertakan latitude dan langitude.

Apa yang Rimbunesia buat?

Ide yang kami tawarkan adalah yang tidak terkait dengan birokrasi kependudukan di lingkup nasional. Sejauh pengalaman saya selama tinggal di luar negeri dan menjadi panitia pendaftaran PEMILU, ternyata KBRI tidak punya data pasti WNI yang tinggal di suatu negara karena tidak adanya koneksi antara bagian imigrasi dan pihak KBRI.

Aplikasi dari kami menawarkan solusi untuk permasalahan di atas yaitu dengan membuat pengguna mendaftarkan data dirinya, kemudian ketika terdeteksi pindah negara, aplikasi akan mengunggah dokumen tersebut langsung ke KBRI terkait. Sehingga setiap KBRI bisa punya data real-time siapa saja WNI yang saat ini berada di negara tempat KBRI berdiri.

Berikut video dari tim Rimbunesia.

2 thoughts on “Hackathon Merdeka 2.0 di Malang”

Comments are closed.