Facebook Graph no longer give you friend list

Since the Graph API 2.0, you will no longer get the friend list of the user. For developer like me, this is bad move from Facebook. Sending me/friends to Graph API will give you a an empty data.

So, move on Developers, no need to use Facebook Connect anymore. Use Twitter or Instagram instead.

Komentator

Sebagai seorang pengembang aplikasi hape, saya punya beberapa aplikasi di iPhone dan Android. Untuk yang Android memang bukan buatan saya, tapi untuk yang versi iOS saya berani klaim. Dengan terdapatnya tautan untuk menulis saran dan kritik, paling tidak setiap harinya saya mendapatkan 1 email dari orang yang tidak saya kenal.

Dari semua email yang masuk, banyak orang Indonesia yang kemungkinan tidak mengerti betapa sulitnya membuat aplikasi, hanya tinggal melempar kritik tanpa memberi solusi apapun. Beruntung kritik itu tidak dituliskan dalam bentuk review di Appstore, kalau iya, bisa-bisa semua aplikasi saya cuma punya bintang 2 atau 3.

Kritik-kritik itu mirip seperti ini misalnya:

Mas, saya gak akan pake aplikasi ini kalau belum ada tanda ‘ain-nya. Karena tanda ‘ain ini penting sekali dan harus diberitahu ke semua pengguna aplikasi sampean.

Apa jawaban saya?

Gak apa-apa sampean gak pake aplikasi saya. Saya gak punya keuntungan apa-apa kalo sampean mau pake atau ngga. Aplikasinya gratis dan tanpa iklan kok. Untuk tanda ‘ain, kalo sampean punya silahkan kasih saya.

Dan sukses diam.

Ada lagi yang model lain, tapi ini lebih sebagai saran sih. Tapi ya hampir sama, cuma bisa kasih usul tanpa memberikan solusi.

Coba tiap ayatnya ada asbabun nuzul-nya. Jadi bisa tau dan baca sejarahnya.

Ketika saya tanya balik apakah dia punya datanya, diam.

===

Kita kembali ke jaman sekarang, dimana pemerintahan saat ini punya 2 kondisi, fans dan hater. Untuk beberapa fans, apapun yang dilakukan pemerintah saat ini, benar. Dan sebaliknya untuk hater, apapun yang dilakukan pemerintah, baik atau buruk, pasti jelek. Mungkin Presiden bernafas saja itu sudah salah.

Saya jadi kembali ke email-email yang pernah dikirimkan. Dan menyimpulkan bahwa banyak orang Indonesia yang hanya bisa berlindung dibalik komputer mereka. Cuma komentar tanpa memberikan solusi. Kebetulan saya belum bisa memberikan solusi apapun, jadi saya Alhamdulillah masih dijauhkan untuk terlibat dalam diskusi yang tidak ada ujungnya, baik di Facebook atau Twitter.

Sebagai seseorang yang pernah tinggal di Arab, semoga kesatuan Indonesia adalah nomor satu. Dan tidak mudah diadu domba seperti layaknya Belanda ketika datang ke tanah air.

Twitter login on iOS with Social Framework

There are many library to get authentication with Twitter. Most of them using oAuth, and others don’t provide the easy access. As you might know, Social Framework support Twitter since iOS 5. So its been 4 major version update and I think we should use that instead.

In short, I couldn’t find any on github and then I created for my self. It has been used and working as expected. The library is self-explaning, you will have no worry using it. Download the library on my Github profile and follow these steps below.

Put these below on your .m file:

#import "DTTwitterLogin.h"

Then when the user clicked on some button, put these below:

[DTTwitterLogin loginWithCompletion:^(NSDictionary *twitterDetail, ACAccount *twitterAccount) {
    
    [DTTwitterLogin requestLoginWithAccount:twitterAccount completionBlock:^(NSData *responseData, NSHTTPURLResponse *urlResponse, NSError *error) {
        
        dispatch_sync(dispatch_get_main_queue(), ^{
            
            if (error == nil) {
                NSError *jsonError;
                NSDictionary *item = [NSJSONSerialization JSONObjectWithData:responseData
                                                                     options:NSJSONReadingMutableLeaves
                                                                       error:&jsonError];
                NSLog(@"Item: %@", item);
            }
            
        });
        
    }];
    
} andError:^(NSError *error) {
    NSLog(@"Error: %@", error);
}];

If you have multiple account, the library will ask a user which account he wanted to use. Then it will ask Twitter API to get the details of that user.

Happy coding!

Berhasil lari 10km!

Tanggal 11 September 2015 adalah hari yang patut saya tulis dalam sejarah hidup saya sendiri. Karena pada hari itu akhirnya saya bisa menyelesaikan lari pagi 10km pertama kalinya selama 1 jam 13 menit.

Seingat saya, aktifitas lari pagi saya mulai sejak pindah ke Malang. Mungkin sekitar bulan Januari 2015. Saat itu saya belum menggunakan aplikasi apapun untuk mencatat karena masih kurang dari 1km dan malu bila digembar-gembor.

Mulai tanggal 27 Januari 2015, saya mulai menggunakan Endomondo dan berhasil mencatatkan 2,11km dalam waktu 18 menit! Ya, waktu segitu banyak pastinya diselingi dengan jalan kaki. Hahaha.

Dan tanggal 20 Februari 2015, saya mulai mencatat latihan dengan Nike+ dengan catatan lari 4,25km dalam waktu 26 menit saja. Terus terang ini terbantu dengan keadaan. Entah aplikasinya salah tulis, atau saya menggunakan beberapa trik. Soalnya ketika dicoba lagi keesokan harinya sudah normal lagi.

Sejak saat itu, kekuatan lari saya mulai meningkat, dan berhasil mencapai 5km dengan waktu rata-rata 7 menitan per satu kilometer. Tapi begitu terus sampai berbulan-bulan.

Karena lebih sering berlari, saya jadi lebih tahu kalau trek lari dibuat mengitari jalanan, dan bukan puter-balik saja. Dari situlah saya mulai mencatatkan lari lebih dari 5km.

Dan begitulah, sampai saat ini saya jadi hobi berlari. Bawaannya senang. Tapi efek sampingnya, saya jadi jauh lebih hitam keling. 😐

Halo (lagi) dunia!

Blog ini kembali hidup setelah beberapa lama mati tak bersisa. Ya, sama sekali gak bersisa karena kecerobohan dan nasib sial saya.

Cerita dibalik

Jadi sejak pulang kampung ke Indonesia, saya sudah beberapa kali (padahal cuma 2 kali) berusaha untuk membuat kartu kredit. Tujuan utama saya adalah untuk memperpanjang masa sebagai pengembang di iOS. Bonusnya adalah bisa belanja keperluan digital seperti hosting dan lain-lain.

Usaha saya gagal. Tidak ada yang percaya saya punya penghasilan yang lumayan tiap bulan tanpa pekerjaan yang jelas. Walaupun nominal di tabungan sengaja saya taruh banyak-banyak, tetap tidak bisa dipercaya begitu saja oleh Bank. Ini yang saya anggap nasib sial.

Jadilah saya tidak berhasil dan akhirnya teman di Kuwait berbaik hati untuk meminjamkan kartu kreditnya untuk membayar perpanjangan masa sebagai pengembang iOS di Apple.

Saya pun bergerak cepat karena beberapa hari lagi akun hosting untuk beberapa domain saya akan habis. Sengaja saya back-up datanya, dan tanpa mengecek datanya, saya santai saja.

Setelah masa hosting habis, saya pindahkan semua domain yang saya butuhkan ke akun Digital Ocean. Ketika back-up data saya buka,

ndarakadah…

Corrupt. Saya lupa koneksi Internet di Indonesia itu semacam ‘internet-cepat-buat-apa’.