Nonton Gu Family Book

GuFamilyBook-p001
Akhirnya, setelah Coffee Prince, ada drama korea lain yang layak ditonton. Dari jalan ceritanya, karakternya, dan semuanya, saya sangat menikmati drama ini.

Detail Drama

Gu Family Book ada 24 episode. Cara bercerita drama ini agak lain dari biasanya. Karena pada bagian tertentu hanya diceritakan sekilas, kemudian di bagian selanjutnya akan diceritakan kembali secara detil. Tidak seperti drama lain yang saya tonton.

Drama ini diperankan dengan baik oleh Lee Seung Gi dan Baek Su Ji, yang bercerita tentang setengah Gumiho dan setengah manusia menumpas kejahatan manusia dijamannya. Gumiho sendiri adalah legenda terkenal di Korea sana, mungkin sama dengan nama-nama hantu versi Indonesia yang tidak ada di negara lain.

Alur cerita

Diceritakan seorang Gumiho bernama Gu Wol-ryung menikah dengan manusia yang telah ditolongnya dari kejaran manusia jahat yang kemudian berkhianat karena tidak mau menerima nasibnya yang mempunya suami seorang Gumiho. Wanita ini adalah Yoon Seo-Hwa, yang kemudian melahirkan bayi. Tapi karena ia masih tidak menerima nasibnya, bayinya dititipkan kepada seorang rahib. Rahib tersebut sengaja membuang bayi tersebut di sungai agar ditemui saudagar kaya.

Continue reading

Seberapa tua Anda di jalan?

Jalanan makin padat. Waktu yang ditempuh menuju kantor atau tujuan lain makin kesini makin lama. Anda merasa bahwa waktu yang Anda habiskan di jalan mungkin bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna. Permasalahannya, Anda tidak tahu persis berapa lama waktu Anda terbuang di jalan.

Berangkat dari masalah di atas, saya membuat aplikasi sederhana. Bahkan saking sederhannya, hanya ada 3 halaman utama. Tentu saja aplikasi ini untuk sementara hanya tersedia untuk pengguna iOS.

Dan berikut presentasi saya:

presentation1a

presentation2

presentation3

presentation4

Petualangan bersama Android dimulai

Jadi saya resmi berkenalan dengan Android seminggu yang lalu. Karena tidak punya perangkat Android, akhirnya saya beli Nexus 7 beberapa hari yang lalu.

Ada beberapa alasan kenapa saya membeli Nexus 7 dibanding dengan telepon genggam Android. Alasan paling kuat adalah, saya tidak butuh telepon genggam lagi. iPhone 4s masih bagus, dan menjadi satu-satunya pilihan utama saya. Alasan lainnya, Nexus 7 lebih murah dan kualitasnya pasti bagus karena diperkenalkan oleh Google sendiri.

Namanya petualangan pertama, kesan saya pengembangan aplikasi Android ini bukan perkara mudah. Karena dalam benak saya, ketika sekitar 1 dekade yang lalu, bahasa Java adalah berat dan saya membencinya. Untuk berkenalan kembali rasanya agak sulit. Karena riwayat masa lalu yang kelam. Halah.

Kenapa Android?

Satu-satunya alasan saya masuk ke Android karena penggunanya banyak. Tidak perduli kalau pengembang dari Kuwait (dan Indonesia) tidak bisa berjualan sampai saat ini, walaupun umur Google Play Store sudah 4 tahun lebih.

Dikarenakan saya mau masuk pasar Indonesia, membuat aplikasi Indonesia, maka saya harus masuk ke basis yang penggunanya banyak. Karena selama mengerjakan aplikasi untuk iOS, saya agak kecewa dengan penggunanya yang tidak terlalu banyak.

Kenapa pasar Indonesia?

Karena saya orang Indonesia.

Apa yang kurang dari aplikasi Android Indonesia?

Kebanyakan aplikasi Indonesia dibuat dengan asal jadi. Saya bilang kebanyakan berarti bukan semua ya. Ini juga dikarenakan Google tidak memberikan filter terhadap aplikasi yang masuk.

Yang paling kentara adalah banyak aplikasi Indonesia yang masih menggunakan desain default (nah, apa bahasa Indonesianya). Tidak banyak yang bereksperimen. Faktor ini juga dikarenakan Google yang hanya memperbolehkan pengembang Indonesia mendapatkan keuntungan selain dari pembelian aplikasi. Jika keuntungan yang didapat sedikit, tentu saja pengembang tidak perlu repot-repot membuat aplikasi mereka bagus.

Kapan aplikasi pertama muncul?

Ditunggu saja. Sementara masih belajar-belajar nih.

Review: Komuter versi iOS

Blog ini sudah lama cuma dijadikan tempat rilis aplikasi-aplikasi iOS saya. Sekarang mau coba me-review aplikasi-aplikasi lokal di iOS atau Windows Phone (karena cuma 2 jenis itu yang saya punya). Review-nya bisa dilihat dari sisi desain, dan juga dari sisi teknis.

Sebagai disclaimer, review ini tidak bermaksud sok pintar. Tapi cuma jadi ajang berbagi. Jika ada kesalahan kata, mohon dimaafkan.

Apa itu Komuter?

icon_512Komuter menyebut dirinya aplikasi sosial media yang diperuntukkan untuk pengguna kereta KRL yang senasib. Jadi aplikasi ini bukan saja memperlihatkan Anda jadwal KRL, tapi juga berbagi berita kepada sesama pengguna Komuter lain. Dikarenakan mereka juga tersedia untuk Android, maka interaksi yang terjadi sesama pengguna KRL bisa dipastikan cukup ramai.

Cara menggunakan

Tidak ada yang spesial dari cara menggunakan aplikasi ini. Begitu melihat dan berinteraksi sebentar, dipastikan Anda tahu bagaimana menggunakan aplikasi ini.

screen1Di halaman pertama, Anda akan disajikan nama-nama stasiun kereta. Karena ada lebih dari 50 data, Anda juga bisa mencari langsung stasiun melalui kotak pencarian. Data stasiun disortir berdasarkan favorit dan abjad. Stasiun yang menjadi favorit Anda akan terlihat gambar bintang di sebelah kanan, sedangkan yang tidak akan muncul tanda panah yang menandakan Anda untuk menuju ke halaman detil.

Di halaman kedua, yaitu halaman detil, aplikasi akan menyajikan menu aktifitas, jadwal, dan rute. Aktifitas akan menampilkan semua aktifitas dari penggua Komuter baik berupa komentar atau informasi.

Kelebihan Komuter

Pertama, Komuter jelas mempunyai kelebihan dari fungsinya. Saya yakin aplikasi ini akan banyak membantu banyak orang di Indonesia yang menggunakan KRL. Ditambah, yang membuat aplikasi ini adalah pengguna KRL juga, jadi mereka sangat tahu persis bagaimana situasi di lapangan, dan apa yang dibutuhkan oleh pengguna KRL.

Kelebihan yang kedua, aplikasi ini GRATIS. Tidak ada biaya apapun untuk menggunakan aplikasi ini. Saya juga tidak tahu, bagaimana rencana mereka memonetasi aplikasi ini nantinya. Kemungkinan mereka masih dalam tahap mencari pengguna setia, lalu memikirkan monetasinya di kemudian hari.

Ketiga, desain aplikasi ini bagus banget. Warna merah dan gelap begitu mendominasi aplikasi ini. Saya, sejujurnya, belum pernah bisa membuat desain di latar gelap seperti itu. Kalau melihat desain-desain saya terdahulu, dipastikan Anda tidak akan pernah menemukan yang berlatar gelap.

Setelah tahu siapa desainer aplikasi ini, saya tak perlu ragu lagi. Tentu saja, karena aplikasi ini didesain oleh Gage Batubara, salah satu desainer web yang dulu pernah menginspirasi saya yang aslinya developer ini. Jadi terlihat makin banyak yang dulunya punya bidang di web, pindah ke layar telepon genggam.

Kekurangan Komuter

Setelah membahas kelebihannya, mari kita membahas beberapa kekurangan dari aplikasi ini. Tentu saja ini menurut pandangan saya sendiri, dan semoga yang membuat aplikasinya tidak tersinggung ya :D

Tombol favorit yang tidak terlihat beda

Photo Apr 09, 7 48 56 PMGambar di halaman detil stasiun ini cukup mengganggu saya. Karena jika diperhatikan, hampir tidak ada perbedaan antara stasiun favorit dan yang bukan. Jika dilihat pada siang hari mungkin agak terlihat beda. Tapi di malam hari, akan sangat terlihat kedua tombol tersebut adalah sama.

Atau mungkin karena saya menggunakan kacamata dengan minus 2?

Jarak judul teks di Navigation bar

Kekurangan kedua, mungkin sedikit pengaruhnya, tapi jelas terlihat. Jika diperhatikan, gambar di bawah ini akan terlihat perbedaannya. Apa itu?

navbarYa, jarak judul di Navigation Bar yang berbeda. Teks Komuter terlihat lebih ke atas dibandingkan dengan teks Station.

Di halaman lain, yaitu di bagian depan, juga terlihat hal yang sama dengan teks nama-nama stasiun.

komuter1Tombol Menu dan kata fetching

Ketiga, ada kejanggalan pada gambar di samping ini. Gambar icon menu ada di samping tulisan “Choose Destination“. Saat pertama kali menggunakan, saya mencoba untuk menarik dan mengetuk icon tersebut, tapi tak ada apapun yang terjadi.

Setelah beberapa kali percobaan, saya baru tahu kalau saya harus mengetuk tulisan “Choose Destination“, dan setelah terpilih, icon menu akan berubah menjadi tanda silang. Jadi kesimpulan saya, gambar icon menu tidak ada pengaruh apa-apa. Jika boleh memberi usul, akan lebih baik dibuat tanda segitiga mengarah ke bawah saja, sehingga lebih jelas kalau itu berupa menu dropdown.

Oh iya, di halaman yang sama, ketika memilih salah satu stasiun, ada daftar stasiun di bagian bawah dan terdapat tulisan “Fetching” terus menerus. Saya tidak tahu apa yang coba diambil aplikasi ini. Mungkin saja bug?

Berbahasa Inggris?

Kekurangan keempat, aplikasi ini berbahasa Inggris. Memang sudah banyak orang Indonesia yang bisa membaca dan mengeri bahasa Inggris, tapi karena saya pikir aplikasi ini 90% digunakan oleh orang Indonesia, harusnya bahasa Indonesia adalah bahasa pertama.

Entah karena pertimbangan apa aplikasi ini dibuat dengan hanya bahasa Inggris. Bukan hanya aplikasinya saja yang berbahasa Inggris, tapi halaman di App store juga berbahasa Inggris.

Statistik

Aplikasi ini resmi rilis ke App store pada tanggal 25 Maret 2013. Sampai pada saat tulisan ini ditulis, rating rata-rata aplikasi ini adalah 3,5 bintang dari 5 bintang. Prestasi yang cukup bagus. Menurut App Annie, Komuter berada pada peringkat 69 di kategori Sosial Media di App store Indonesia setelah kira-kira 2 minggu setelah rilis.

Siapa yang membuat aplikasi ini?

Aplikasi ini dibuat oleh 3 orang. 1 desainer, 1 pengembang iOS dan 1 pengembang Android. Mereka adalah Gage, Suprie, dan Tuxer

Kesimpulan

Saya suka aplikasi ini. Kalau saja saya senasib dengan mereka yang menggunakan KRL, pastilah saya akan menggunakannya. Beberapa kekurangan di atas hanyalah hal-hal kecil yang tidak terlalu terpengaruh terhadap fungsi aplikasinya sendiri.

Akhir kata, selamat buat ketiga orang yang saya sebut di atas. Merilis aplikasi itu memang punya kepuasan tersendiri. Apalagi, jika aplikasi kita diunduh oleh banyak orang dan banyak membantu meringankan hidup banyak orang. Tapi, kenapa yang jadi nama developer di App store itu cewek ya? Pinjam kartu kreditkah? :p

Harga: GratisSitus aplikasiURL di App storeURL di Google Play

Perkenalkan Praktees

Cerita di balik layar

Praktees

Jadi ceritanya sekitar 3 minggu yang lalu saya bingung mau buat apa. Beberapa coretan nama aplikasi selanjutnya sudah ada di papan tulis rumah, tapi masih banyak kendala untuk mulai dikerjakan. Ditambah kerjaan di kantor sudah selesai semua, dan akan memulai mengerjakan projek baru.

Jadilah keisengan saya menyasar ke Tees.co.id, situs yang menyediakan berbagai desain kaos yang dibuat oleh penggunanya sendiri. Mereka sudah punya API, dan saya dapat 5 ribu rupiah untuk tiap kaos yang dibeli melalui aplikasi pihak ketiga.

Desain selesai dalam 2 hari, dan sekitar 1,5 minggu implementasinya. Termasuk kolaborasi dengan yang punya Tees. Kenapa lama sekali? Ya karena saya harus membagi waktu antara kerjaan kantor, kerjaan sendiri, waktu buat keluarga, dan sedikit main-main. Sisanya menunggu waktu review Apple. Jadi total waktunya antara 2,5 sampai 3 minggu.

Komisi 5 ribu perkaos yang terbeli memang tidak banyak, tapi tidak juga sedikit. Karena dari penjualan in-app purchase, setelah dipotong Apple, bisa jadi saya menerima sekitar 6500 rupiah. Jadi hitung-hitung cuma beda sedikit dengan in-app purchase-nya Apple, toh saya juga lagi gak ada kerjaan di rumah.

Apa yang spesial dari aplikasi Praktees

Sampai saat tulisan ini ditulis, cuma ada 2 aplikasi yang menggunakan API Tees. NekoTees, yaitu aplikasi untuk Windows Phone, dan tentunya aplikasi saya ini. Melalui aplikasi ini, pengguna bisa langsung memesan kaos, dan juga melakukan konfirmasi pembayaran. Aplikasi lain hanya bisa melakukan pembelian kaos.

Berikut beberapa tangkapan layar dari aplikasi ini:

Berpaling sebentar ke Windows Phone

metro

Memang sejak pertama kali melihat desain metro buatan Microsoft, saya cukup jatuh hati. Cuma kotak-kotak sih, tapi saya melihat ada hal lain selain kotak-kotak tersebut. Tipografi di aplikasi-aplikasi yang berjalan di Windows Phone atau Windows 8 terasa lebih dominan.

Dan entah ada angin apa, seminggu yang lalu (7 Februari 2013), ada Nokia Lumia 820 di meja kerja. Setelah beberapa lama menggunakannya, saya belum cukup tertarik. Tapi saat itu sudah terbesit pikiran, “Wah, jadi juga nih Windows Phone Developer”.

Sekadar informasi, saya adalah pengguna macbook, seingat saya, terakhir kali menggunakan (artinya, lebih dari 1 jam) Windows adalah sekitar 3 – 4 tahun yang lalu. Jadi saya bisa dibilang lupa dan tidak terbiasa lagi.

Jadilah saya pergi ke glodoknya Kuwait. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, membeli Windows 8 yang asli. Hahaha. Kalau ingat gimana saya agak ragu mengeluarkan kartu ATM untuk membeli perangkat lunak yang cukup mahal itu.

Dengan Bootcamp, saya bisa menggunakan Mac dan WIndows dalam satu mesin. Dan saya benar-benar terjun untuk mulai mengembangkan aplikasi untuk Windows Phone. Unduh Visual Studio, coba beberapa tutorial, akhirnya mulai bisa sedikit memahami bagaimana membuat aplikasi yang sederhana.

Karena saya juga suka desain, saya coba ikut-ikutan untuk bergaya metro. Sampai saat ini bisa dibilang gagal. Saya kesulitan untuk membuat desain aplikasi bergaya metro. Entah kesulitannya di sebelah mana. Referensi aplikasi-aplikasi bagus di Windows Phone juga masih bisa dibilang sedikit, jadi butuh imajinasi yang kreatif untuk bisa bermain dengan gaya metro ini.

Begitulah kisah saya berpaling sebentar ke Windows Phone. Sampai saat ini saya sedang mendalami lebih lanjut bahasa C# sekaligus mencoba membuat aplikasi Windows Phone. Belum banyak peningkatan, tapi saya bisa melihat sendiri kalau ada kemajuan. Perlu dimaklumi, karena terakhir saya menggunakan Visual Studio ketika masih jamannya Visual Basic 5(?).