Petualangan bersama Android dimulai

Jadi saya resmi berkenalan dengan Android seminggu yang lalu. Karena tidak punya perangkat Android, akhirnya saya beli Nexus 7 beberapa hari yang lalu.

Ada beberapa alasan kenapa saya membeli Nexus 7 dibanding dengan telepon genggam Android. Alasan paling kuat adalah, saya tidak butuh telepon genggam lagi. iPhone 4s masih bagus, dan menjadi satu-satunya pilihan utama saya. Alasan lainnya, Nexus 7 lebih murah dan kualitasnya pasti bagus karena diperkenalkan oleh Google sendiri.

Namanya petualangan pertama, kesan saya pengembangan aplikasi Android ini bukan perkara mudah. Karena dalam benak saya, ketika sekitar 1 dekade yang lalu, bahasa Java adalah berat dan saya membencinya. Untuk berkenalan kembali rasanya agak sulit. Karena riwayat masa lalu yang kelam. Halah.

Kenapa Android?

Satu-satunya alasan saya masuk ke Android karena penggunanya banyak. Tidak perduli kalau pengembang dari Kuwait (dan Indonesia) tidak bisa berjualan sampai saat ini, walaupun umur Google Play Store sudah 4 tahun lebih.

Dikarenakan saya mau masuk pasar Indonesia, membuat aplikasi Indonesia, maka saya harus masuk ke basis yang penggunanya banyak. Karena selama mengerjakan aplikasi untuk iOS, saya agak kecewa dengan penggunanya yang tidak terlalu banyak.

Kenapa pasar Indonesia?

Karena saya orang Indonesia.

Apa yang kurang dari aplikasi Android Indonesia?

Kebanyakan aplikasi Indonesia dibuat dengan asal jadi. Saya bilang kebanyakan berarti bukan semua ya. Ini juga dikarenakan Google tidak memberikan filter terhadap aplikasi yang masuk.

Yang paling kentara adalah banyak aplikasi Indonesia yang masih menggunakan desain default (nah, apa bahasa Indonesianya). Tidak banyak yang bereksperimen. Faktor ini juga dikarenakan Google yang hanya memperbolehkan pengembang Indonesia mendapatkan keuntungan selain dari pembelian aplikasi. Jika keuntungan yang didapat sedikit, tentu saja pengembang tidak perlu repot-repot membuat aplikasi mereka bagus.

Kapan aplikasi pertama muncul?

Ditunggu saja. Sementara masih belajar-belajar nih.

Review: Komuter versi iOS

Blog ini sudah lama cuma dijadikan tempat rilis aplikasi-aplikasi iOS saya. Sekarang mau coba me-review aplikasi-aplikasi lokal di iOS atau Windows Phone (karena cuma 2 jenis itu yang saya punya). Review-nya bisa dilihat dari sisi desain, dan juga dari sisi teknis.

Sebagai disclaimer, review ini tidak bermaksud sok pintar. Tapi cuma jadi ajang berbagi. Jika ada kesalahan kata, mohon dimaafkan.

Apa itu Komuter?

icon_512Komuter menyebut dirinya aplikasi sosial media yang diperuntukkan untuk pengguna kereta KRL yang senasib. Jadi aplikasi ini bukan saja memperlihatkan Anda jadwal KRL, tapi juga berbagi berita kepada sesama pengguna Komuter lain. Dikarenakan mereka juga tersedia untuk Android, maka interaksi yang terjadi sesama pengguna KRL bisa dipastikan cukup ramai.

Cara menggunakan

Tidak ada yang spesial dari cara menggunakan aplikasi ini. Begitu melihat dan berinteraksi sebentar, dipastikan Anda tahu bagaimana menggunakan aplikasi ini.

screen1Di halaman pertama, Anda akan disajikan nama-nama stasiun kereta. Karena ada lebih dari 50 data, Anda juga bisa mencari langsung stasiun melalui kotak pencarian. Data stasiun disortir berdasarkan favorit dan abjad. Stasiun yang menjadi favorit Anda akan terlihat gambar bintang di sebelah kanan, sedangkan yang tidak akan muncul tanda panah yang menandakan Anda untuk menuju ke halaman detil.

Di halaman kedua, yaitu halaman detil, aplikasi akan menyajikan menu aktifitas, jadwal, dan rute. Aktifitas akan menampilkan semua aktifitas dari penggua Komuter baik berupa komentar atau informasi.

Kelebihan Komuter

Pertama, Komuter jelas mempunyai kelebihan dari fungsinya. Saya yakin aplikasi ini akan banyak membantu banyak orang di Indonesia yang menggunakan KRL. Ditambah, yang membuat aplikasi ini adalah pengguna KRL juga, jadi mereka sangat tahu persis bagaimana situasi di lapangan, dan apa yang dibutuhkan oleh pengguna KRL.

Kelebihan yang kedua, aplikasi ini GRATIS. Tidak ada biaya apapun untuk menggunakan aplikasi ini. Saya juga tidak tahu, bagaimana rencana mereka memonetasi aplikasi ini nantinya. Kemungkinan mereka masih dalam tahap mencari pengguna setia, lalu memikirkan monetasinya di kemudian hari.

Ketiga, desain aplikasi ini bagus banget. Warna merah dan gelap begitu mendominasi aplikasi ini. Saya, sejujurnya, belum pernah bisa membuat desain di latar gelap seperti itu. Kalau melihat desain-desain saya terdahulu, dipastikan Anda tidak akan pernah menemukan yang berlatar gelap.

Setelah tahu siapa desainer aplikasi ini, saya tak perlu ragu lagi. Tentu saja, karena aplikasi ini didesain oleh Gage Batubara, salah satu desainer web yang dulu pernah menginspirasi saya yang aslinya developer ini. Jadi terlihat makin banyak yang dulunya punya bidang di web, pindah ke layar telepon genggam.

Kekurangan Komuter

Setelah membahas kelebihannya, mari kita membahas beberapa kekurangan dari aplikasi ini. Tentu saja ini menurut pandangan saya sendiri, dan semoga yang membuat aplikasinya tidak tersinggung ya :D

Tombol favorit yang tidak terlihat beda

Photo Apr 09, 7 48 56 PMGambar di halaman detil stasiun ini cukup mengganggu saya. Karena jika diperhatikan, hampir tidak ada perbedaan antara stasiun favorit dan yang bukan. Jika dilihat pada siang hari mungkin agak terlihat beda. Tapi di malam hari, akan sangat terlihat kedua tombol tersebut adalah sama.

Atau mungkin karena saya menggunakan kacamata dengan minus 2?

Jarak judul teks di Navigation bar

Kekurangan kedua, mungkin sedikit pengaruhnya, tapi jelas terlihat. Jika diperhatikan, gambar di bawah ini akan terlihat perbedaannya. Apa itu?

navbarYa, jarak judul di Navigation Bar yang berbeda. Teks Komuter terlihat lebih ke atas dibandingkan dengan teks Station.

Di halaman lain, yaitu di bagian depan, juga terlihat hal yang sama dengan teks nama-nama stasiun.

komuter1Tombol Menu dan kata fetching

Ketiga, ada kejanggalan pada gambar di samping ini. Gambar icon menu ada di samping tulisan “Choose Destination“. Saat pertama kali menggunakan, saya mencoba untuk menarik dan mengetuk icon tersebut, tapi tak ada apapun yang terjadi.

Setelah beberapa kali percobaan, saya baru tahu kalau saya harus mengetuk tulisan “Choose Destination“, dan setelah terpilih, icon menu akan berubah menjadi tanda silang. Jadi kesimpulan saya, gambar icon menu tidak ada pengaruh apa-apa. Jika boleh memberi usul, akan lebih baik dibuat tanda segitiga mengarah ke bawah saja, sehingga lebih jelas kalau itu berupa menu dropdown.

Oh iya, di halaman yang sama, ketika memilih salah satu stasiun, ada daftar stasiun di bagian bawah dan terdapat tulisan “Fetching” terus menerus. Saya tidak tahu apa yang coba diambil aplikasi ini. Mungkin saja bug?

Berbahasa Inggris?

Kekurangan keempat, aplikasi ini berbahasa Inggris. Memang sudah banyak orang Indonesia yang bisa membaca dan mengeri bahasa Inggris, tapi karena saya pikir aplikasi ini 90% digunakan oleh orang Indonesia, harusnya bahasa Indonesia adalah bahasa pertama.

Entah karena pertimbangan apa aplikasi ini dibuat dengan hanya bahasa Inggris. Bukan hanya aplikasinya saja yang berbahasa Inggris, tapi halaman di App store juga berbahasa Inggris.

Statistik

Aplikasi ini resmi rilis ke App store pada tanggal 25 Maret 2013. Sampai pada saat tulisan ini ditulis, rating rata-rata aplikasi ini adalah 3,5 bintang dari 5 bintang. Prestasi yang cukup bagus. Menurut App Annie, Komuter berada pada peringkat 69 di kategori Sosial Media di App store Indonesia setelah kira-kira 2 minggu setelah rilis.

Siapa yang membuat aplikasi ini?

Aplikasi ini dibuat oleh 3 orang. 1 desainer, 1 pengembang iOS dan 1 pengembang Android. Mereka adalah Gage, Suprie, dan Tuxer

Kesimpulan

Saya suka aplikasi ini. Kalau saja saya senasib dengan mereka yang menggunakan KRL, pastilah saya akan menggunakannya. Beberapa kekurangan di atas hanyalah hal-hal kecil yang tidak terlalu terpengaruh terhadap fungsi aplikasinya sendiri.

Akhir kata, selamat buat ketiga orang yang saya sebut di atas. Merilis aplikasi itu memang punya kepuasan tersendiri. Apalagi, jika aplikasi kita diunduh oleh banyak orang dan banyak membantu meringankan hidup banyak orang. Tapi, kenapa yang jadi nama developer di App store itu cewek ya? Pinjam kartu kreditkah? :p

Harga: GratisSitus aplikasiURL di App storeURL di Google Play

Perkenalkan Praktees

Cerita di balik layar

Praktees

Jadi ceritanya sekitar 3 minggu yang lalu saya bingung mau buat apa. Beberapa coretan nama aplikasi selanjutnya sudah ada di papan tulis rumah, tapi masih banyak kendala untuk mulai dikerjakan. Ditambah kerjaan di kantor sudah selesai semua, dan akan memulai mengerjakan projek baru.

Jadilah keisengan saya menyasar ke Tees.co.id, situs yang menyediakan berbagai desain kaos yang dibuat oleh penggunanya sendiri. Mereka sudah punya API, dan saya dapat 5 ribu rupiah untuk tiap kaos yang dibeli melalui aplikasi pihak ketiga.

Desain selesai dalam 2 hari, dan sekitar 1,5 minggu implementasinya. Termasuk kolaborasi dengan yang punya Tees. Kenapa lama sekali? Ya karena saya harus membagi waktu antara kerjaan kantor, kerjaan sendiri, waktu buat keluarga, dan sedikit main-main. Sisanya menunggu waktu review Apple. Jadi total waktunya antara 2,5 sampai 3 minggu.

Komisi 5 ribu perkaos yang terbeli memang tidak banyak, tapi tidak juga sedikit. Karena dari penjualan in-app purchase, setelah dipotong Apple, bisa jadi saya menerima sekitar 6500 rupiah. Jadi hitung-hitung cuma beda sedikit dengan in-app purchase-nya Apple, toh saya juga lagi gak ada kerjaan di rumah.

Apa yang spesial dari aplikasi Praktees

Sampai saat tulisan ini ditulis, cuma ada 2 aplikasi yang menggunakan API Tees. NekoTees, yaitu aplikasi untuk Windows Phone, dan tentunya aplikasi saya ini. Melalui aplikasi ini, pengguna bisa langsung memesan kaos, dan juga melakukan konfirmasi pembayaran. Aplikasi lain hanya bisa melakukan pembelian kaos.

Berikut beberapa tangkapan layar dari aplikasi ini:

Berpaling sebentar ke Windows Phone

metro

Memang sejak pertama kali melihat desain metro buatan Microsoft, saya cukup jatuh hati. Cuma kotak-kotak sih, tapi saya melihat ada hal lain selain kotak-kotak tersebut. Tipografi di aplikasi-aplikasi yang berjalan di Windows Phone atau Windows 8 terasa lebih dominan.

Dan entah ada angin apa, seminggu yang lalu (7 Februari 2013), ada Nokia Lumia 820 di meja kerja. Setelah beberapa lama menggunakannya, saya belum cukup tertarik. Tapi saat itu sudah terbesit pikiran, “Wah, jadi juga nih Windows Phone Developer”.

Sekadar informasi, saya adalah pengguna macbook, seingat saya, terakhir kali menggunakan (artinya, lebih dari 1 jam) Windows adalah sekitar 3 – 4 tahun yang lalu. Jadi saya bisa dibilang lupa dan tidak terbiasa lagi.

Jadilah saya pergi ke glodoknya Kuwait. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, membeli Windows 8 yang asli. Hahaha. Kalau ingat gimana saya agak ragu mengeluarkan kartu ATM untuk membeli perangkat lunak yang cukup mahal itu.

Dengan Bootcamp, saya bisa menggunakan Mac dan WIndows dalam satu mesin. Dan saya benar-benar terjun untuk mulai mengembangkan aplikasi untuk Windows Phone. Unduh Visual Studio, coba beberapa tutorial, akhirnya mulai bisa sedikit memahami bagaimana membuat aplikasi yang sederhana.

Karena saya juga suka desain, saya coba ikut-ikutan untuk bergaya metro. Sampai saat ini bisa dibilang gagal. Saya kesulitan untuk membuat desain aplikasi bergaya metro. Entah kesulitannya di sebelah mana. Referensi aplikasi-aplikasi bagus di Windows Phone juga masih bisa dibilang sedikit, jadi butuh imajinasi yang kreatif untuk bisa bermain dengan gaya metro ini.

Begitulah kisah saya berpaling sebentar ke Windows Phone. Sampai saat ini saya sedang mendalami lebih lanjut bahasa C# sekaligus mencoba membuat aplikasi Windows Phone. Belum banyak peningkatan, tapi saya bisa melihat sendiri kalau ada kemajuan. Perlu dimaklumi, karena terakhir saya menggunakan Visual Studio ketika masih jamannya Visual Basic 5(?).

2012 dan 2013

Beberapa hari lagi 2012 akan berakhir. Kiamat tidak jadi, dan orang-orang akan terus berprediksi kapan terjadi. Hidup jalan terus, rencana-rencana jangka pendek dan panjang disiapkan.

Ada beberapa catatan di tahun 2012 ini yang mungkin penting untuk saya. Diantaranya akan mempengaruhi bagaimana saya di tahun 2013 mendatang. Berikut beberapa catatan saya di tahun 2012 ini.

Resmi meninggalkan Appcelerator

Setelah beberapa aplikasi iOS dan Android berhasil saya buat sejak mulai kenal Appcelerator di pertengahan tahun 2011, akhirnya saya resmi meninggalkannya untuk beralih ke Obj-C.

Aplikasi yang membuat saya meninggalkan Appcelerator adalah VIVA Kuwait yang membuka mata saya, bahwa menggunakan Appcelerator adalah menambah daftar catatan masalah.

Beralih ke Objective C

Salah satu momen dimana saya bisa bangga dan senang dengan perpindahan ini. Terima kasih juga untuk Appcelerator yang telah membuka jalan setelah satu tahun menggelutinya.

Bisa dibilang saya masih taraf pemula di Objective-C, dan memulai ketika iOS 5 muncul. Artinya, saya masih belum terlalu mengerti konsep manajemen memori, karena itu semua sudah dipegang oleh ARC (Automatic Reference Counting), dan saya sangat dimudahkan untuk membuat aplikasi.

Karena saya berangkat dari PHP, Objective-C tidak terlalu membuat saya pusing. Karena jika sudah terbiasa, akan terasa mudah dan berjalan lancar layaknya air mengalir ke laut.

Berlibur ke Indonesia dan merasa senang

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di beberapa hari terakhir rasanya ingin balik lagi ke Kuwait. Tapi tahun ini saya merasa senang setiap hari. Kami biasa pergi di jam-jam sibuk kantor dan naik busway, jadi tidak terlalu merasakan macet parah di Jakarta. Jalan-jalan ke Bali, dan merasa senang. Walaupun jalanan Denpasar sudah dipenuhi motor dimana-mana.

Lagipula, banyak sekali acara-acara untuk developer di Jakarta. Walau sudah termasuk tidak muda lagi, saya menikmatinya. Coba dulu waktu saya masih di Jakarta, banyak juga acara untuk developer.

Entah pertanda apa. Huehehe.

Peralihan kantor baru

Setelah kira-kira 2 tahun lamanya saya punya kerjaan di 2 kantor, dikarenakan tenaga saya yang dibutuhkan untuk parent company dan child company (ceritanya panjang, tapi 2 kantor tersebut punya manajemen yang sama). Yang satu dibidang telekomunikasi, dan satu lagi dibidang aplikasi perangkat bergerak.

Mulai Desember ini saya murni kerja di 1 perusahaan saja, yaitu dibidang aplikasi perangkat bergerak. Walaupun pekerjaannya masih bisa dibilang Superman, karena selain sebagai iOS Developer, saya juga jadi UI Designer. Kadang malah juga disertakan di back-end. Tapi dengan begitu, saya jadi belajar dan tahu lebih banyak.

Membuat banyak aplikasi iOS

Setelah tahu dan sedikit mengerti bagaimana membuat aplikasi iOS, saya mulai membuat banyak aplikasi iOS atas nama sendiri. Sampai dengan tahun ini sudah ada 7 aplikasi. Dan kemungkinan akan menambah lagi sekitar 3 aplikasi di bulan Januari.

Pendapatan dari aplikasi di iOS belum bisa dibilang bagus, tapi juga tidak terlalu buruk. Maka dari itu saya akan terus meneliti dan membuat aplikasi.

Dari catatan di atas, sekarang waktunya menyambut tahun baru, 2013. Dan beberapa hal yang ingin saya wujudkan adalah sebagai berikut.

Punya anak

Sebenarnya dari dulu pengen, tapi entah kenapa belum dikasih-kasih juga. Huehehe. Mungkin saja salah saya, karena masih kurang menunjukkan ke Tuhan kalau saya ini laki-laki bertanggung jawab dan layak dititipkan anak. Jadi, usaha teruuus.

Punya 25 – 30 aplikasi iOS

Banyak orang bilang kualitas lebih penting dibandingkan kuantitas. Tapi beda dengan aplikasi iOS. Asumsinya, jika dari 2 aplikasi menghasilkan 0,5 sampai 1 dolar, maka mempunyai 25-30 aplikasi akan bisa mendapatkan penghasilan rata-rata 12-15 dolar perhari. Artinya, dalam 1 bulan saya bisa mendapatkan sekitar 450 dolar amerika.

Angka yang tidak bisa dibilang banyak, tapi juga tidak sedikit. Lumayan buat membiayai saya belajar hal lain.

Bisa buat aplikasi Android, Blackberry, dan Windows Phone

Saya sudah terlanjur senang dengan aplikasi versi perangkat bergerak, jadi mumpung masih bisa dibilang muda, saya mau bisa dengan platform lain. Walaupun saya tahu, saya bisa menggunakan kemampuan saya di HTML dan Javascript, tapi saya ingin native.

Untuk Windows Phone sepertinya tidak terlalu sulit, karena saya sudah kenal dengan bahasa C. Yang sulit adalah membeli komputer Windows. Karena agak sayang juga kalau cuma dibeli dan nantinya jarang terpakai gara-gara saya lagi banyak kerjaan.

Untuk Blackberry, saya sudah bisa dikit-dikit menggunakan Cascades. Tapi masih belum menyempatkan banyak waktu di sini dikarenakan kerjaan lain.

Untuk Android, saya sudah coba beberapa bulan yang lalu, dan beberapa minggu lalu, tetap saja sulit. Kemungkinan saya masih belum terlalu serius dan masih dengan alasan klasik, banyak kerjaan.

Punya beberapa aplikasi di Android, Blackberry, dan Windows Phone atas nama sendiri

Sudah banyak API saya buat untuk aplikasi iOS saya, tentunya hanya tinggal mengubah kode Objective C menjadi bahasa di platform lain. Targetnya tidak perlu banyak, tapi minimal ada.

Pengen belajar bahasa lain

Saya serius untuk masalah ini. Mau ambil kursus, dan bukan belajar sendiri. Beberapa bahasa yang pernah saya sentuh selama ini cuma mampir sebentar dan karena tidak digunakan lagi, jadi hilang begitu saja. Beberapa bahasa yang menarik minat saya adalah Jepang, Korea dan Spanyol. Bahasa Arab nanti saja. Huehehe :p

Itu saja untuk tahun 2013. Hal-hal lain biar saya buat catatan sendiri. Nanti tahun depan saya mau lihat berapa poin yang sudah saya lakukan.

Catatan: Tulisan ini belum diedit sedemikian rupa sehingga sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nanti dulu :D

Aplikasi Ibadah versi 2

Tanpa basa-basi. Aplikasi ini adalah versi kedua dari aplikasi Bulan Ramadhan yang saya rilis di Bulan puasa kemarin. Pergantian nama aplikasi juga disertai beberapa fitur baru. Berikut fitur baru yang ada di aplikasi ini:

  1. Jadwal sholat yang bisa digunakan seluruh negara dan kota di dunia.
    Sebelumnya, aplikasi ini hanya khusus diperuntukkan yang tinggal di Indonesia, Malaysia, dan Kuwait. Dengan bisa mencakup seluruh lokasi, maka makin banyak juga yang bisa mengambil manfaat dari aplikasi ini.
  2. Pemilihan metode kalkulasi untuk menentukan jadwal sholat.
  3. Arah Kiblat.
    Beberapa pengguna melaporkan kesalahan arah jarum. Huehehe. Saya sendiri sudah tes beberapa kali, dan dibandingkan dengan aplikasi lain mirip arah jarumnya. Jadi saya kurang ngerti juga salah dimana. Nanti saya cek lagi.
  4. Beberapa perbaikan di halaman Tadarus Quran.
  5. Notifikasi yang berjalan seterusnya.
    Sebelumnya, notifikasi berjalan ketika pengguna memilih mau diingatkan apa. Kali ini, pengguna bisa mendapatkan notifikasi seterusnya.
  6. Puasa Sunnah.
    Saya mendaftarkan puasa-puasa sunnah dan menuliskan tanggal persis kapan mulai puasa beserta notifikasinya.
  7. Mengganti lokasi.
    Versi terdahulu tidak memungkinkan untuk menggantinya. Huehehe.

Perlu saya tulis sekali lagi, aplikasi ini tidak tersedia untuk perangkat Android. Untuk sementara hanya untuk iPhone 3GS, iPhone 4 dan iPhone 4s dengan iOS versi 5.0 keatas.

Rencana selanjutnya?

Saya sebetulnya punya pe-er aplikasi yang lain, tapi kalau nanti ada waktu, beberapa yang menjadi jadwal saya adalah sebagi berikut:

  1. Tentunya memperbaiki beberapa kesalahan.
    Setelah menggunakan beberapa minggu versi yang baru ini ada beberapa kesalahan kecil. Tidak mengganggu, tapi cukup terlihat :P
  2. Versi iPad.
    Entah kenapa, buat saya desain di iPad ini lebih sulit, proses development sih sama aja. Sudah beberapa kali mencoba membuat desain, tapi belum puas.
  3. Ada usulan untuk menambahkan daftar sholat sunnah dan doa sehari-hari.
    Saya masih pikir-pikir apa usulan ini layak diterima. Kalau banyak yang kasih usul yang sama, mungkin saya bisa pertimbangkan
  4. Statistik tadarus
    Siapa tak suka statistik. Apalagi jika kita bisa melihat berapa ayat tiap harinya yang kita baca berupa grafik batang atau kurva. Jadi tiap bulan bisa di-review sendiri.
  5. Terjamahan di tadarus.
    Terkadang, saya ingin membaca terjemahan dari ayat yang baru saja saya baca. Bukan Quran, tapi cukup terjemahan bahasa Indonesianya saja.
  6. Informasi lain di halaman tadarus
    Sampai saat ini cuma ada prosentasi bacaan sampai khatam. Terkadang saya juga mau tau berapa ayat lagi sampai khatam, atau berapa ayat lagi untuk menyelesaikan surat yang sedang dibaca.

Sampai di sini dulu. Silahkan untuk mengunduhnya jika berminat.