Perkenalkan Praktees

Cerita di balik layar

Praktees

Jadi ceritanya sekitar 3 minggu yang lalu saya bingung mau buat apa. Beberapa coretan nama aplikasi selanjutnya sudah ada di papan tulis rumah, tapi masih banyak kendala untuk mulai dikerjakan. Ditambah kerjaan di kantor sudah selesai semua, dan akan memulai mengerjakan projek baru.

Jadilah keisengan saya menyasar ke Tees.co.id, situs yang menyediakan berbagai desain kaos yang dibuat oleh penggunanya sendiri. Mereka sudah punya API, dan saya dapat 5 ribu rupiah untuk tiap kaos yang dibeli melalui aplikasi pihak ketiga.

Desain selesai dalam 2 hari, dan sekitar 1,5 minggu implementasinya. Termasuk kolaborasi dengan yang punya Tees. Kenapa lama sekali? Ya karena saya harus membagi waktu antara kerjaan kantor, kerjaan sendiri, waktu buat keluarga, dan sedikit main-main. Sisanya menunggu waktu review Apple. Jadi total waktunya antara 2,5 sampai 3 minggu.

Komisi 5 ribu perkaos yang terbeli memang tidak banyak, tapi tidak juga sedikit. Karena dari penjualan in-app purchase, setelah dipotong Apple, bisa jadi saya menerima sekitar 6500 rupiah. Jadi hitung-hitung cuma beda sedikit dengan in-app purchase-nya Apple, toh saya juga lagi gak ada kerjaan di rumah.

Apa yang spesial dari aplikasi Praktees

Sampai saat tulisan ini ditulis, cuma ada 2 aplikasi yang menggunakan API Tees. NekoTees, yaitu aplikasi untuk Windows Phone, dan tentunya aplikasi saya ini. Melalui aplikasi ini, pengguna bisa langsung memesan kaos, dan juga melakukan konfirmasi pembayaran. Aplikasi lain hanya bisa melakukan pembelian kaos.

Berikut beberapa tangkapan layar dari aplikasi ini:

Berpaling sebentar ke Windows Phone

metro

Memang sejak pertama kali melihat desain metro buatan Microsoft, saya cukup jatuh hati. Cuma kotak-kotak sih, tapi saya melihat ada hal lain selain kotak-kotak tersebut. Tipografi di aplikasi-aplikasi yang berjalan di Windows Phone atau Windows 8 terasa lebih dominan.

Dan entah ada angin apa, seminggu yang lalu (7 Februari 2013), ada Nokia Lumia 820 di meja kerja. Setelah beberapa lama menggunakannya, saya belum cukup tertarik. Tapi saat itu sudah terbesit pikiran, “Wah, jadi juga nih Windows Phone Developer”.

Sekadar informasi, saya adalah pengguna macbook, seingat saya, terakhir kali menggunakan (artinya, lebih dari 1 jam) Windows adalah sekitar 3 – 4 tahun yang lalu. Jadi saya bisa dibilang lupa dan tidak terbiasa lagi.

Jadilah saya pergi ke glodoknya Kuwait. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, membeli Windows 8 yang asli. Hahaha. Kalau ingat gimana saya agak ragu mengeluarkan kartu ATM untuk membeli perangkat lunak yang cukup mahal itu.

Dengan Bootcamp, saya bisa menggunakan Mac dan WIndows dalam satu mesin. Dan saya benar-benar terjun untuk mulai mengembangkan aplikasi untuk Windows Phone. Unduh Visual Studio, coba beberapa tutorial, akhirnya mulai bisa sedikit memahami bagaimana membuat aplikasi yang sederhana.

Karena saya juga suka desain, saya coba ikut-ikutan untuk bergaya metro. Sampai saat ini bisa dibilang gagal. Saya kesulitan untuk membuat desain aplikasi bergaya metro. Entah kesulitannya di sebelah mana. Referensi aplikasi-aplikasi bagus di Windows Phone juga masih bisa dibilang sedikit, jadi butuh imajinasi yang kreatif untuk bisa bermain dengan gaya metro ini.

Begitulah kisah saya berpaling sebentar ke Windows Phone. Sampai saat ini saya sedang mendalami lebih lanjut bahasa C# sekaligus mencoba membuat aplikasi Windows Phone. Belum banyak peningkatan, tapi saya bisa melihat sendiri kalau ada kemajuan. Perlu dimaklumi, karena terakhir saya menggunakan Visual Studio ketika masih jamannya Visual Basic 5(?).

2012 dan 2013

Beberapa hari lagi 2012 akan berakhir. Kiamat tidak jadi, dan orang-orang akan terus berprediksi kapan terjadi. Hidup jalan terus, rencana-rencana jangka pendek dan panjang disiapkan.

Ada beberapa catatan di tahun 2012 ini yang mungkin penting untuk saya. Diantaranya akan mempengaruhi bagaimana saya di tahun 2013 mendatang. Berikut beberapa catatan saya di tahun 2012 ini.

Resmi meninggalkan Appcelerator

Setelah beberapa aplikasi iOS dan Android berhasil saya buat sejak mulai kenal Appcelerator di pertengahan tahun 2011, akhirnya saya resmi meninggalkannya untuk beralih ke Obj-C.

Aplikasi yang membuat saya meninggalkan Appcelerator adalah VIVA Kuwait yang membuka mata saya, bahwa menggunakan Appcelerator adalah menambah daftar catatan masalah.

Beralih ke Objective C

Salah satu momen dimana saya bisa bangga dan senang dengan perpindahan ini. Terima kasih juga untuk Appcelerator yang telah membuka jalan setelah satu tahun menggelutinya.

Bisa dibilang saya masih taraf pemula di Objective-C, dan memulai ketika iOS 5 muncul. Artinya, saya masih belum terlalu mengerti konsep manajemen memori, karena itu semua sudah dipegang oleh ARC (Automatic Reference Counting), dan saya sangat dimudahkan untuk membuat aplikasi.

Karena saya berangkat dari PHP, Objective-C tidak terlalu membuat saya pusing. Karena jika sudah terbiasa, akan terasa mudah dan berjalan lancar layaknya air mengalir ke laut.

Berlibur ke Indonesia dan merasa senang

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di beberapa hari terakhir rasanya ingin balik lagi ke Kuwait. Tapi tahun ini saya merasa senang setiap hari. Kami biasa pergi di jam-jam sibuk kantor dan naik busway, jadi tidak terlalu merasakan macet parah di Jakarta. Jalan-jalan ke Bali, dan merasa senang. Walaupun jalanan Denpasar sudah dipenuhi motor dimana-mana.

Lagipula, banyak sekali acara-acara untuk developer di Jakarta. Walau sudah termasuk tidak muda lagi, saya menikmatinya. Coba dulu waktu saya masih di Jakarta, banyak juga acara untuk developer.

Entah pertanda apa. Huehehe.

Peralihan kantor baru

Setelah kira-kira 2 tahun lamanya saya punya kerjaan di 2 kantor, dikarenakan tenaga saya yang dibutuhkan untuk parent company dan child company (ceritanya panjang, tapi 2 kantor tersebut punya manajemen yang sama). Yang satu dibidang telekomunikasi, dan satu lagi dibidang aplikasi perangkat bergerak.

Mulai Desember ini saya murni kerja di 1 perusahaan saja, yaitu dibidang aplikasi perangkat bergerak. Walaupun pekerjaannya masih bisa dibilang Superman, karena selain sebagai iOS Developer, saya juga jadi UI Designer. Kadang malah juga disertakan di back-end. Tapi dengan begitu, saya jadi belajar dan tahu lebih banyak.

Membuat banyak aplikasi iOS

Setelah tahu dan sedikit mengerti bagaimana membuat aplikasi iOS, saya mulai membuat banyak aplikasi iOS atas nama sendiri. Sampai dengan tahun ini sudah ada 7 aplikasi. Dan kemungkinan akan menambah lagi sekitar 3 aplikasi di bulan Januari.

Pendapatan dari aplikasi di iOS belum bisa dibilang bagus, tapi juga tidak terlalu buruk. Maka dari itu saya akan terus meneliti dan membuat aplikasi.

Dari catatan di atas, sekarang waktunya menyambut tahun baru, 2013. Dan beberapa hal yang ingin saya wujudkan adalah sebagai berikut.

Punya anak

Sebenarnya dari dulu pengen, tapi entah kenapa belum dikasih-kasih juga. Huehehe. Mungkin saja salah saya, karena masih kurang menunjukkan ke Tuhan kalau saya ini laki-laki bertanggung jawab dan layak dititipkan anak. Jadi, usaha teruuus.

Punya 25 – 30 aplikasi iOS

Banyak orang bilang kualitas lebih penting dibandingkan kuantitas. Tapi beda dengan aplikasi iOS. Asumsinya, jika dari 2 aplikasi menghasilkan 0,5 sampai 1 dolar, maka mempunyai 25-30 aplikasi akan bisa mendapatkan penghasilan rata-rata 12-15 dolar perhari. Artinya, dalam 1 bulan saya bisa mendapatkan sekitar 450 dolar amerika.

Angka yang tidak bisa dibilang banyak, tapi juga tidak sedikit. Lumayan buat membiayai saya belajar hal lain.

Bisa buat aplikasi Android, Blackberry, dan Windows Phone

Saya sudah terlanjur senang dengan aplikasi versi perangkat bergerak, jadi mumpung masih bisa dibilang muda, saya mau bisa dengan platform lain. Walaupun saya tahu, saya bisa menggunakan kemampuan saya di HTML dan Javascript, tapi saya ingin native.

Untuk Windows Phone sepertinya tidak terlalu sulit, karena saya sudah kenal dengan bahasa C. Yang sulit adalah membeli komputer Windows. Karena agak sayang juga kalau cuma dibeli dan nantinya jarang terpakai gara-gara saya lagi banyak kerjaan.

Untuk Blackberry, saya sudah bisa dikit-dikit menggunakan Cascades. Tapi masih belum menyempatkan banyak waktu di sini dikarenakan kerjaan lain.

Untuk Android, saya sudah coba beberapa bulan yang lalu, dan beberapa minggu lalu, tetap saja sulit. Kemungkinan saya masih belum terlalu serius dan masih dengan alasan klasik, banyak kerjaan.

Punya beberapa aplikasi di Android, Blackberry, dan Windows Phone atas nama sendiri

Sudah banyak API saya buat untuk aplikasi iOS saya, tentunya hanya tinggal mengubah kode Objective C menjadi bahasa di platform lain. Targetnya tidak perlu banyak, tapi minimal ada.

Pengen belajar bahasa lain

Saya serius untuk masalah ini. Mau ambil kursus, dan bukan belajar sendiri. Beberapa bahasa yang pernah saya sentuh selama ini cuma mampir sebentar dan karena tidak digunakan lagi, jadi hilang begitu saja. Beberapa bahasa yang menarik minat saya adalah Jepang, Korea dan Spanyol. Bahasa Arab nanti saja. Huehehe :p

Itu saja untuk tahun 2013. Hal-hal lain biar saya buat catatan sendiri. Nanti tahun depan saya mau lihat berapa poin yang sudah saya lakukan.

Catatan: Tulisan ini belum diedit sedemikian rupa sehingga sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nanti dulu :D

Aplikasi Ibadah versi 2

Tanpa basa-basi. Aplikasi ini adalah versi kedua dari aplikasi Bulan Ramadhan yang saya rilis di Bulan puasa kemarin. Pergantian nama aplikasi juga disertai beberapa fitur baru. Berikut fitur baru yang ada di aplikasi ini:

  1. Jadwal sholat yang bisa digunakan seluruh negara dan kota di dunia.
    Sebelumnya, aplikasi ini hanya khusus diperuntukkan yang tinggal di Indonesia, Malaysia, dan Kuwait. Dengan bisa mencakup seluruh lokasi, maka makin banyak juga yang bisa mengambil manfaat dari aplikasi ini.
  2. Pemilihan metode kalkulasi untuk menentukan jadwal sholat.
  3. Arah Kiblat.
    Beberapa pengguna melaporkan kesalahan arah jarum. Huehehe. Saya sendiri sudah tes beberapa kali, dan dibandingkan dengan aplikasi lain mirip arah jarumnya. Jadi saya kurang ngerti juga salah dimana. Nanti saya cek lagi.
  4. Beberapa perbaikan di halaman Tadarus Quran.
  5. Notifikasi yang berjalan seterusnya.
    Sebelumnya, notifikasi berjalan ketika pengguna memilih mau diingatkan apa. Kali ini, pengguna bisa mendapatkan notifikasi seterusnya.
  6. Puasa Sunnah.
    Saya mendaftarkan puasa-puasa sunnah dan menuliskan tanggal persis kapan mulai puasa beserta notifikasinya.
  7. Mengganti lokasi.
    Versi terdahulu tidak memungkinkan untuk menggantinya. Huehehe.

Perlu saya tulis sekali lagi, aplikasi ini tidak tersedia untuk perangkat Android. Untuk sementara hanya untuk iPhone 3GS, iPhone 4 dan iPhone 4s dengan iOS versi 5.0 keatas.

Rencana selanjutnya?

Saya sebetulnya punya pe-er aplikasi yang lain, tapi kalau nanti ada waktu, beberapa yang menjadi jadwal saya adalah sebagi berikut:

  1. Tentunya memperbaiki beberapa kesalahan.
    Setelah menggunakan beberapa minggu versi yang baru ini ada beberapa kesalahan kecil. Tidak mengganggu, tapi cukup terlihat :P
  2. Versi iPad.
    Entah kenapa, buat saya desain di iPad ini lebih sulit, proses development sih sama aja. Sudah beberapa kali mencoba membuat desain, tapi belum puas.
  3. Ada usulan untuk menambahkan daftar sholat sunnah dan doa sehari-hari.
    Saya masih pikir-pikir apa usulan ini layak diterima. Kalau banyak yang kasih usul yang sama, mungkin saya bisa pertimbangkan
  4. Statistik tadarus
    Siapa tak suka statistik. Apalagi jika kita bisa melihat berapa ayat tiap harinya yang kita baca berupa grafik batang atau kurva. Jadi tiap bulan bisa di-review sendiri.
  5. Terjamahan di tadarus.
    Terkadang, saya ingin membaca terjemahan dari ayat yang baru saja saya baca. Bukan Quran, tapi cukup terjemahan bahasa Indonesianya saja.
  6. Informasi lain di halaman tadarus
    Sampai saat ini cuma ada prosentasi bacaan sampai khatam. Terkadang saya juga mau tau berapa ayat lagi sampai khatam, atau berapa ayat lagi untuk menyelesaikan surat yang sedang dibaca.

Sampai di sini dulu. Silahkan untuk mengunduhnya jika berminat.

Coda 2

Coba perhatikan dan baca baik-baik tangkapan layar di atas. Menarik? bagus? mau beli juga? Eit, jangan dulu. Baca tulisan saya dulu.

Saya suka Coda versi pertama. Mungkin tarafnya bukan suka lagi, tapi jatuh cinta. Aplikasi pertama yang saya beli dari kantong sendiri. Karena biasanya saya minta ke kantor untuk dibelikan. Alasannya, saya tidak ingin nanti-nanti kalau saya pindah kantor Coda bukan hak milik saya lagi, maka saya keluarkan duit sendiri.

Setelah sekitar 3-4 tahun saya menggunakan Coda versi pertama, tepatnya bulan Mei 2012, mereka merilis Coda versi kedua. Yang kata mereka jauh lebih bagus, dari segi desain, fitur, dan segala hal. Dan tanpa ragu saya membelinya. Karena saya suka Coda versi pertama, plus dengan Diet Coda (aplikasi Coda yang berjalan di iPad). Total yang saya keluarkan saat itu $60. Sekitar setengah juta lebih.

Dan sukses besar, saya kecewa berat.

Yang Panic (perusahaan pembuat Coda) lakukan bukan melakukan pembaruan, tapi mereka menulis ulang aplikasi tersebut. Hasilnya? banyak hal yang sudah sempurna di Coda versi pertama, berubah jadi lebih jelek atau tidak ada lagi di Coda versi kedua.

Sampai saat ini Coda sudah beranjak ke versi 2.0.2, dan katanya mereka sedang mengerjakan versi 2.0.3. Dari mulai versi 2.0, 2.0.1, dan 2.0.2, semua ada celah. Jika kesalahan di versi 2.0 sudah diatasi di versi 2.0.1, versi lebih baru membuat lebih banyak kesalahan. Dan sangat menggangu. Dan begitu seterusnya. Saya berani bertaruh, versi 2.0.3 yang mereka siapkan juga ada kesalahan baru, atau mengubah fitur di versi sebelumnya yang berjalan baik, menjadi hancur berantakan.

Saya mengerti tidak ada aplikasi yang sempurna. Tapi masa aplikasi editor kode membuat saya kesulitan menulis kode yang ratusan atau bahkan ribuan baris dengan memperlambat keluarnya huruf yang saya ketik hampir 1 detik lamanya. Berasa menggunakan komputer intel 486 versi jaman kuda makan orang.

Dan sukses besar, saya kecewa berat.

Kebetulan saya ikut milis pengguna Coda. Banyak komplain di sana. Dan Panic tetap tidak mau meminta maaf telah menjual aplikasi masih mentah. Mereka pintar sekali berkelit dengan mengatakan, “Oh kesalahan itu sudah dibenarkan di versi 2.0.x kok. Nanti dicoba ya kalau sudah keluar”. Atau, “Kesalahan itu sudah dibenarkan di versi 2.0.x. Ditunggu aja kita rilis.”. Begitu terus sejak versi 2.0 keluar.

Dan sukses besar, saya kecewa berat. Makanya saya tulis ini. Tak pernah saya mengalami galau sampai 3 bulan (sejak Mei – Agustus 2012) lamanya gara-gara beli aplikasi mentah itu.

Meh!

Tentang Ubud

Masih banyak hari yang perlu saya lalui untuk bisa jalan-jalan di Indonesia. Entah sudah berapa tahun saya di Kuwait, sampai saya tidak pernah lagi menghitungnya. Jadi sebelum saya berangkat, saya mau galau dulu sebentar, mengingat-ingat masa lalu mengunjungi beberapa kota.

Ubud

Saya dulu cuma mampir ke Ubud, karena dulu tinggal di Denpasar. Kebetulan ada teman di sana, jadi punya alasan untuk mampir. Bisa dibilang setiap bulan saya pasti melipir ke sana, karena saya suka dengan suasana kotanya. Tenang, damai, dan nyaman. Tidak banyak tempat wisata di sana, tapi suasananya cukup membuat saya tentram.

Foto di samping terlihat saya menemani teman-teman dari Bandung yang main ke Ubud. Masih gondrong. Sekarang sudah botak. Hihihi.

Sekali-kalinya, saya menginap cuma 1 malam saja. Di sebuah tempat yang biaya permalamnya cuma 100 ribu (tahun 2006-an). Bangun paginya terasa dingin, kabut dimana-mana, suara burung berkicau, dan suara angin yang menderu-deru. Jika di Jakarta hujan adalah bencana, hujan di Ubud adalah surga dunia.

Tapi tinggal di Ubud termasuk mahal di jaman saya dulu. Karena Ubud jadi tempat tinggal turis Jepang yang terkenal banyak duitnya. Di sepanjang jalannya, Anda akan melihat deretan kafe. Yang kadang di malam harinya mereka mengadakan konser kecil-kecilan (live music).

Sepanjang ini saja galau saya. Di lain waktu saya mau cerita tentang kota-kota lain yang pernah saya kunjungi. Kenapa saya cerita Ubud lebih dulu? karena ada lowongan kerja di Ubud. Walau saya tak tertarik dengan pekerjaan tersebut, tapi cukup membuat saya membayangkan bagaimana bekerja di sana. Huehehe.