March 8th, 2005
Mobil mini itu kita kenal dengan sebutan angkot(angkutan kota). Dan siapa sangka,
nama angkot itu bisa berkembang jadi macam-macam. Didaerah saya, mungkin Jakarta, juga biasa disebut Mikrolet. Juga, pernah mendengar nama Kopamilet untuk sebutan mobil mini tersebut. Dan jangan heran, kalau-kalau anda menemukan istilah Kopabun. Tapi tenang saja, nama Kopabun hanya anda temui disekitar daerah Ciledug.
Mungkin, didaerah Jakarta dan sekitarnya, keberadaan angkot mengganggu. Tapi kadar gangguan didaerah Jakarta tak separah dengan daerah Ciledug. Bayangkan saja, disepanjang jalan Ciledug Raya, banyaknya angkot sampai tak bisa dihitung. Ditambah, seringnya mereka ngetem menunggu penumpang penuh.
Tak ayal lagi, rebutan jalan antara angkot dan pengendara motor sering terjadi. Apalagi, keduanya tak ada yang mengalah. Lampu merah, sudah tak ada gunanya lagi. Kedisiplinan anda dijalan, harus diuji dengan melewati jalan “keramat” tersebut. Saya, yang membiasakan diri berhenti saat lampu merah menyala, tak lulus uji dalam melewati jalan tersebut. Bagaimana mau berhenti, kalau ternyata saat anda mencoba berhenti saat lampu merah, ada klakson dibelakang anda, yang menyuruh untuk jalan terus. Bahkan, bukan tidak mungkin anda akan diklakson bukan dengan motor, tapi oleh teriakan. hahaha… :D
8 Responses
di palembang namanya oplet. jurusan oplet disini ngga berdasarkan nomor kaya di jakarta. tapi di lihat dari warna opletnya. merah untuk jurusan km,5, hijau untuk jurusan lemabang, kuning untuk jurusan sekip, abu-abu jurusan bukit, dll. oplet disini tapi masih lumayan tertib di bandingkan dengan bus kota.
bwahahahahhaaha…ada ga ngaku
itulah bedanya di indo ama sini. angkot di indo udah keluar dari kode etik perangkotan. mengapa? angkot bertugas menjemput penumpang. padahal, sejatinya penumpanglah yang menjemput angkot di halte. yaa jadinya gini :(
Di beberapa daerah di Bandung masih ada yg menyebut angkot dgn *honda*. Sementara di Tasikmalaya, angkot biasa disebut *taksi*…
Angkot? Angkut aja dah semua :)
di sini gak ada angkot adanya “METROTRANS” sama “TRANSKIB” dg
Taksi.jurusan tergantung warna juga,jadi sama di plbg :))
angkot emang kadang membuat esmosi.. klo ngetem seenaknya.. klo ngebut juga seenaknya.. tp kasian juga si, itu kan cara mereka nyari duit…
rebutan jalan itu kan akibat etika yg bobrok. etika diabaikan krn alasan ekonomi (cari uang), alasan demi kerja, efektifitas waktu (time is money); krn tdk tahu, tdk pernah diajari ber-etika.
Yang harus (dan bahkan mendesak) kita pikirkan bersama adalah apakah jumlah angkot di tiap wilayah operasi telah diperhitungkan dampak untung ruginya?
coba kita lebih teliti ketika kita lihat angkot lewat di depan mata. brp prosentase penumpangnya? di jalur pulogadung – terminal bekasi misalnya. Hampir semua angkot lebih sering terisi kurang dari separo penumpang.
jumlah angkot yg lewat jl Raya bekasi lebih dari 20 trayek. kalau 1 rit PP tiap jurusan beroperasi sedikitnya 20 angkot, berarti yang beredar di jalanan rentang waktu 1-2 jam sekitar 20 x 20 = 400 angkot. kalau panjang jalan P Gadung-bekasi 20 km, maka tiap 1 km bergerak 400/20 , 20 angkot. Jadi jln ke bekasi 10 angkot, ke p gdg 10 angkot.
simpul2 kemacetan biasanya di stasiun bekasi, seputar terminal, pasar/tempat belanja spt mol. yang jaraknya relatif berdekatan. tak heran terjadi penjubelan angkot di simpul kemacetan.
Data ini memang tidak akurat. jika akurat bisa lebih besar frekuensi angkot.
mereka ngetem untuk cari penumpang. meski hasilnya tetap saja tdk sampai bisa memenuhi angkot mereka.
kapasitas angkot yang kurang dari separo jelas merupakan pemborosan BBM. pemborosannya juga bisa dihitung.
umpama 1 rit beredar 400 angkot. kalau satu hari bisa 7 rit, ada 2400 angkot. 1 rit menghabiskan 20 lt bensin, maka biaya BBM 20x2400xRp 4500 = Rp 216juta.
kalo kapasitas yg terisi 50% berarti pemborosan bisa 100jutan an per hari.
jadi kerugian akibat terlalu banyaknya angkot yang beredar
1. menambah kemacetan
2. mendorong orang untuk beli motor atau mobil. naik angkot tidak nyaman krn macet
3. pemborosan 100 juta/hari atau 3 milyar/bln. bisa lebih kalau data akurat. perhitungan lain mungkin ada yg lebih bagus.
Tugas pemerintah pusat (Dep Hub?) meneliti efisiensi angkot terutama dikaitan dgn harga minyak mentah yg melambung sampai USD 93
solusinya, pertama adalah pengurangan secara drastis freuensi angkot:
1 tetapkan trayek angkot o1 Bekasi – Pulo Gadung menjadi angkot massal
2. trayek lain (semuanya kecuali 01), melayani dari perumahan ke jalan besar. misal dari komplek harapan jaya (trayek 33) ke jl raya bekasi.
solusi kedua: polisi tegas kpd pengguna jalan. jangan tebang pilih, jangan melindungi pe ngeteman. jika polisi tegas, sehingga pengguna jalan jadi lebih patuh maka tak perlu banyak polisi patroli. sesekali polantas turun ke jalan untuk menilang kendaraan yg nakal, untuk kemudian disidangkan, bukan untuk cari “damai”
kasus di area bekasi p gadung ini bisa terjadi di area pinggiran lain di sekeliling metropolitan jakarta