blog
Bahasa arab dan Islam adalah hal yang berbeda
April 7th, 2007

Aku punya beberapa teman yang ketika di Indonesia dulu, lebih sering menggunakan bahasa-bahasa arab untuk hal-hal kecil. Terima kasih menjadi syukron, maaf jadi afwan, dan kata-kata lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah bahasa arab.
Kebiasaan menggunakan bahasa arab biasanya terjadi di lingkungan ikhwan dan akhwat (sebutan untuk laki-laki dan perempuan yang biasanya aktifis masjid). Diantara mereka, ada sebagian yang ternyata cukup bangga untuk membiasakan diri untuk sekedar bercuap-cuap dengan bahasa arab. Ini tentunya terlihat dari gaya bicaranya.
Aku sendiri risih sejak awal. Ada beberapa hal yang membuatku risih, diantaranya:
- orang yg mengucapkan terasa sangaaat bangga bisa berbahasa arab walaupun sedikit (ini faktor utama)
- yang aku lihat, sebagian dari mereka ingin menunjukkan keislamannya dengan berbahasa arab
- apa salahnya menggunakan bahasa indonesia? kalau pertanyaannya dibalik, apa salahnya berbahasa arab, sebenarnya tak ada masalah asalkan tidak ada faktor nomor 1 dan nomor 2
Dan, setelah tinggal di Kuwait dalam waktu sekitar 4 bulan (wah, cepet ya). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
- orang kuwait kalo dugem pake bahasa arab
- bahasa arab juga digunakan untuk nyanyi-nyanyi masalah cinta, jadi bukan untuk kosidahan aja
- orang kuwait kalo lagi marah dan mengumpat, pake bahasa arab
- orang kuwait kalo godain cewek, pake bahasa arab
Got the points? kalo nggak, silahkan teruskan membaca.
Poin-poin kenapa aku sebutkan 4 poin di atas adalah:
Jangan pernah beranggapan dunia arab = islam
Ini biasanya yang terjadi. Aku dulu juga seperti itu. Memang, disini lebih banyak wanita yang menggunakan jilbab, cadar, dan jubah-jubah lain. Tapi kelakuan mereka jangan pernah dianalogikan sebagai kelakuan orang Islam.
Dan sekarang pun aku sedikit tahu, kenapa para nabi dan rasul lebih banyak didatangkan di dunia arab.
Kenapa bangga dengan bahasa arab?
Merujuk pada poin di atas, bahasa arab juga bukan bahasa yang menunjukkan keislaman seseorang. Loh, disini cukup banyak kok yang berjenggot dan memakai jubah bagai seorang syeikh, tapi pergi ke gereja atau tempat-tempat peribadatan lain.
Bahasa arab itu cuma bahasa. Seperti layaknya bahasa-bahasa lain. Tidak ada yang spesial dari bahasa arab. Sama sekali tidak ada. Tidak ada hubungan antara keislaman seseorang dan bahasa arab.
Beberapa teman ada yang coba berbicara bahasa arab ke aku. Tapi akhirnya, mereka bingung karena ngga ngerti dengan apa yang aku tulis. Teman-teman yang ada di Kuwait yang sebelumnya sempat belajar bahasa arab di pesantren saja perlu waktu 1 tahun lagi untuk belajar bahasa arab versi dunia arab.
Jadi, jangan pernah menunjukkan keislaman kalian hanya dengan cas-cis-cus berbahasa arab. Dan buat FPI, tolong jangan rusak nama Islam di Indonesia.
Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog
















pertama lagi, komen kemudian :P