November 3rd, 2009

Rasanya saya tak sabar lagi untuk segera mengemas barang-barang yang akan saya bawa ke Indonesia waktu itu. Setelah 2 tahun tak menginjak tanah kelahiran, rasanya begitu ngangenin. Badan saya boleh saja masih berada di Kuwait, tapi pikiran saya rasanya sudah jalan-jalan duluan di Indonesia, mendahului badannya yang masih terkekang di negara lain.
Begitulah, pulang ke Indonesia adalah saat-saat yang menyenangkan bagi kami-kami pencari kerja di negara orang. Jangankan menginjakkan kaki, menyantap masakan khas Indonesia saja girangnya bukan main. Indonesia boleh saja banyak bom, boleh saja pemerintahnya tak tau malu, tapi Indonesia tetaplah Indonesia. Tempat saya dilahirkan dulu. Ngangenin.
Semua agenda saya tulis. Pertanggal. iCal dan Google Calendar saya gunakan. alat GPS sudah terinstall peta Indonesia. Begitulah hebohnya orang-orang yang tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun dan akhirnya berkesempatan menginjakkan kaki di Indonesia dalam rangka liburan.
Tersebutlah, tiket saya yang sudah saya siapkan jauh-jauh hari tercantum tanggal 15 September 2009, pukul 10 malam waktu Kuwait (GMT +3). Saya, Istri, dan 2 orang yang sudah saya anggap ibu dan bapak saya di Kuwait, bersiap-siap menuju bandara.
Sampai di Indonesia, hawa gerah sudah menusuk-nusuk kulit saya. Keringat mengucur, tanda tak terbiasa lagi dengan cuaca Indonesia. Rasanya memang gak enak, mirip seperti ketika Kuwait berada diantara musim panas dan musim dingin. Kalo bahasa internasionalnya, humidity.
Kebetulan ketika saya pulang, ada banyak sekali teman-teman TKW yang kurang beruntung itu ikut pulang. Dengan keluguan mereka, yang polos, dan yang belum bisa membedakan mana orang yang benar-benar baik, dan mana orang yang ada maunya, dimanfaatkan oleh oknum-oknum bandara.
Menurut saya, gak benar juga sih kalau dibilang oknum, wong semua orang di bandara tampak dengan muka mupeng mereka, seperti singa yang berfikir akan mendapatkan banyak makanan ketika melihat rusa-rusa berterbaran.
Oknum-oknum bandara itu tak tahu, nasib para TKW di negara arab bisa jadi lebih buruk dari nasib mereka sendiri. Si TKW ditawari macam-macam. Mulai dari pertukaran uang arab yang rate-nya sangat tidak manusiawi, harga nomor perdana yang biasa 10 ribu dijual bisa lebih dari 50 ribu, “membantu” mengangkat barang-barang yang tidak seberapa dengan imbalan ratusan ribu yang dipaksa, dan acara-acara lain.
Sayapun kena. Ketika memesan taksi, ada 1 orang yang tidak saya kenal dengan baiknya menegur dan membantu saya mengangkat barang bawaan saya yang cuma satu itu. Tapi setelah taksi mau berangkat, orang itu tiba-tiba nyamperin dan bilang “Bos, minta buat buka puasa dong”.
Di perjalanan pulang, macet sudah menanti saya. Bukan macet biasa, karena terjadi di jalan-bebas-hambatan. Mungkin biasa buat orang Jakarta kali ya. Dan para pedangang asongan menyebar di sudut2 jalan. Padahal sedang berada di jalan-bebas-hambatan.
Begitulah, sambutan Indonesia kepada saya. Melihat banyak orang tak punya pekerjaan yang jelas, membuat Indonesia makin tak jelas nasibnya. Sayapun tak bisa menyalahkan orang-orang itu, karena mereka juga tak akan mau begitu jika keadaan tidak memaksa mereka.
Dengan sambutan yang seperti ini, saya jadi makin benci dengan orang-orang yang duduk sebagai pemimpin. Mulai dari presiden, mentri, pejabat daerah, wakil rakyat, dan polisi. Serius. Kadar kebencian saya sudah pada titik paling tinggi.
—
Cerita akan bersambung dengan cerita di beberapa tempat seperti Sukabumi, Bandung, Semarang, Kendal, Wonosobo, Dieng, dan Jogja.
6 Responses
*menunggu postingan berikut* :)
@didut: besok sudah tak jadwalkan untuk post selanjutnya.
dan njenengan salah mengira saya zam yang di Malang. hihihih..
wah ya kepiye. mangkanya sempet bingung kok jeneng’e podo tapi muka’e bedo.
besok mangsudnya hari ini khan? dawam lagi gak sibuk nih sempet posting..? :))
@bang aziz: itu cerita yang dulu-nya bang. saya udah balik lagi ke kuwait sekarang.