blog
Kembali lagi ke Jakarta
October 20th, 2006
Sudah hampir lebih dari 1 minggu yang lalu aku kembali ke Jakarta. Setelah kemarin mengundurkan diri dari Bali, sekarang waktunya kembali lagi merasakan menjadi pengangguran. Aksiku ini memang tergolong nekat bagi sebagian orang. Tapi biarlah, inilah jalan yang aku pilih.
Kesan selama tinggal di Bali
Menyenangkan jika tinggal di sebuah daerah dimana banyak teman yang peduli. Kira-kira 10 bulan sudah aku tinggal di Bali, belajar banyak hal yang mungkin tidak pernah akan aku dapatkan di Jakarta.
Di Bali aku baru merasakan hidup. Bagaimana di awal-awal bulan sebelum menerima gaji, aku hidup dengan sisa-sisa duit yang ada. Kemudian setelah itu bagaimana secara sporadis nafsu makanku menjadi sangat besar. Pagi hari memang agak jarang merasakan sarapan, di siang hari makan seadanya. Dan setelah pulang dari kantor, beberapa tempat makan aku coba. Minimal, aku merasakan 2 porsi makanan setiap malamnya. Sampai pernah dalam 1 malam aku mengunjungi 3 tempat makan! Tidak heran jika berat badanku naik drastis sekitar 10 kilogram! Dan sepertinya lebih… hihihi… :D
Bagaimana aku bisa dengan tidak sengaja menjalin hubungan pertemanan dengan beberapa orang yang tadinya tidak aku kenal. Mempunyai banyak teman memang sangat menyenangkan.
Yang paling aku senangi dari Bali adalah masalah keamanan. Di Jakarta, rasanya aku tidak pernah menyingkirkan rasa waspada bila berpergian, apalagi malam hari. Sejak di Bali, aku merasakan bagaimana damainya pergi malam, berjalan kaki sendiri, dan menyingkirkan rasa curiga kepada setiap orang.
Kesimpulannya, aku mungkin akan coba tinggal lebih lama lagi di Bali (nantinya).
Jakarta kini
Setelah sampai di Jakarta, kota ini ternyata makin padat saja. Macet sudah menjadi makanan keseharian yang tampaknya orang-orang Jakarta sudah sangat memaklumi.
Jika dulu, ketika pagi-pagi berangkat ke kantor, aku sama sekali tidak menemui kemacetan, atau paling tidak sedikit kemacetan di daerah tertentu. Lalu kira-kira beberapa hari yang lalu, aku mencoba jalan itu juga dengan waktu yang sama, kemacetan sudah berada di depan mata.
Jalur busway yang dulu sangat terlarang itupun sekarang sudah tidak menjadi keramat lagi. Beberapa kendaraan sudah mulai berani untuk mencoba masuk ke jalur tersebut. Dan, polisi sudah tidak berbuat apa-apa lagi, karena jumlahnya banyak!
Kedisiplinan di lampu merah juga rasanya sangat mencemaskan. Rasanya polisi sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena hal itu sudah dianggap biasa. Yang tidak biasa adalah polisi menilang pengendara hanya karena melewati garis lampu lalu lintas!
Masalah helm juga rasanya sangat mengkhawatirkan. Aku melihat beberapa pengendara yang membonceng tidak lagi menggunakan helm. Beberapa helm punya fasilitas lepas-pakai (biasanya helm tukang ojeg). Jadi jika berada di depan polisi, helm itu ditempelkan di kepala, kemudian ketika jauh dari polisi, helm tersebut kembali dilepaskan dari kepala. Praktis bukan?
Tapi memang dari beberapa kenyataan yang mengkhawatirkan, ada juga hal-hal yang membuatku merasa ‘agak’ betah berada di Jakarta. Wanitanya cantik-cantik! Hahahaha… :D
Secara keseluruhan, rasanya pemerintah kota Jakarta harus melakukan sesuatu, bukan malah membuat parah dengan hal-hal yang tidak perlu lainnya. Masalah Jakarta bukan Narkoba pak Basuki, tapi kedisiplinan dan kemacetan!
Selamat datang di Jakarta!
Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog
















selamat meninggalkan bali :D
mau dong ke jkt bli