November 10th, 2004
Detik-detik menjelang lebaran kini tiba. Ada rasa sedih karena
Ramadhan hampir usai, ada rasa haru karena lebaran kian dekat.
Dari satu sisi, saya merasa sedih jika Ramadhan tahun ini hampir
usai, karena tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menambahkan
modal diakhirat nanti, disisi lain, saya pun merasa sedih, karena
ada yang harus pergi dalam waktu dekat ini. Dan disisi sebelah yang lain
saya merasa bingung, dan tak ingin menulisnya disini. Cukup saya
tulis dalam hati saja.
Seperti biasa, hari-hari menjelang lebaran akan berakibat banyak hal,
jalanan sepi, mall ramai dan penuh sesak, dan tak ketinggalan, Masjid
semakin sepi. Tradisi ini selalu saja terulang, dimana semua orang
tidak lagi memikirkan Ramadhan yang tinggal sebentar lagi, tapi lebih
banyak memikirkan bagaimana menghadapi lebaran.
Baju baru
Tradisi baju baru saat lebaran sangat melekat di indonesia, entah jika
dinegara lain. Dengan sangat rendah hati, Om Imponk sudah membahas
di blognya. Saya sendiri sudah menyiapkan 2 potong baju secara tidak sengaja.
Hal itu terjadi, karena ada tetangga dan teman kantor yang salah dalam membeli
baju untuk anaknya. Akhirnya, menjadi jatah saya yang males pergi-pergi untuk
sekedar membeli baju baru lebaran.
Ketika kecil, secara tidak langsung, saya dididik untuk mengambil kesimpulan
bahwa lebaran adalah baju baru, dan baju baru adalah lebaran.
Bagi keluarga seperti saya, saatnya membeli baju baru adalah saat lebaran,
karena tidak ada acara lain yang mengharuskan saya dibelikan baju baru saat itu.
Mungkin orang tua bermaksud baik, agar anaknya tidak merasa minder dengan teman-temannya
yang berbaju baru, sambil berharap akan mengerti saat besar nanti.
Dan setelah saya besar seperti sekarang, saya pun sedikit
demi sedikit mengerti, bahwa tidak selamanya lebaran adalah baju baru.
Buktinya, tak ada niat saya untuk mencar baju baru lebaran ini. Hanya
karena ketidaksengajaan, akhirnya sama membeli baju baru.
Liburan ?
Huh! tak ada istilah liburan di kantor saya saat ini. Saya tetap saja masuk
kantor hari Rabu, 17 November nanti. Tahun kemarin, saat saya masih bekerja
sebagai web programmer di PT. SIP, cukuplah
seminggu menjadi waktu liburan. Tapi tahun ini?
THR
Tunjangan Hari Raya (THR) sudah saya dapatkan, tidak lupa untuk memberi
jatah untuk orang tua, dan adik-adik saya. Sungguh, melihat muka berseri
mereka saat menerima uang dari saya, sudah cukup menjadi penghilang rasa
capek saat itu. Sisanya, saya tabung dan rencananya akan saya belikan
HP CDMA yang memang sudah menjadi tujuan saya sebulan ini.
One Response
Kamu baik Didat, masih ingat ortu dan saudara :). Insha Allah, Allah SWT melipatgandakan rejeki kamu :D. Waktu aku kecil, lebaran ku jg identik dengan baju baru. Tapi stlh dewasa, rutinitas pasca lebaran spt itu mulai menghilang. M