January 22nd, 2007

Tentunya inilah pertama kalinya bagiku memegang uang yang bukan Rupiah. Bukan Dolar maupun Euro. Tapi Dinar Kuwait. Orang-orang di sini biasa menyebut KD (baca: Keidi). Sejauh yang aku tahu, Dinar Kuwait adalah yang paling besar nilainya. Jika 1 dolar berharga sama dengan sekitar 9000 rupiah, atau Euro yang berharga sekitar 13 ribu rupiah, maka Dinar Kuwait jauh berada di atas mereka, 30 ribu rupiah.
Senang, itu pasti. Tapi ada beberapa masalah yang rasanya mungkin menjadi aneh ketika ingin mengeluarkan uang untuk sekedar berbelanja.
Suka membandingkan dengan rupiah
Awalnya, sepertinya faktor ini menjadi sebuah hal yang lumrah untuk orang-orang yang baru pertama datang di negeri lain. Jika melihat sebuah harga, maka aku pasti membandingkan dengan harga rupiah. Alhasil, aku jadi agak malas membeli.
Bayangkan, 4 buah kaus kaki yang terikat rapi dan dibandrol dengan merek tertentu, berharga 1 Dinar. Itu berarti 30 ribu rupiah. Di Indonesia, aku bisa mendapatkannya dengan hanya 10 ribu rupiah! *tepok jidat* Tapi akhirnya aku beli juga, karena itu yang termurah! hahaha… :D
Tapi sekarang, aku sudah tidak lagi (baca: jarang) membandingkan lagi dengan rupiah. Jika masih saja membandingkan, mungkin tidak akan terbeli. Dan akhirnya tidak punya. Tapi kok jadi kesetanan ya? :P
Faktor angka 0
Tahu sendiri, Rupiah di Indonesia berlimpah angka 0. 1 Dinar saja berbanding dengan 30 ribu rupiah yang punya 4 angka 0. Mungkin Rupiah di Indonesia harus dihilangkan 3 angka 0 kali ya. 1000 rupiah jadi 1 rupiah, 10 ribu rupiah, jadi hanya 10 rupiah. *ngasal*
Jujur saja, ketika masih di Indonesia, untuk mengeluarkan uang sekitar 100.000 untuk sebuah baju rasanya agak sulit. Bukan pelit, tapi memang dalam rangka penghematan *ahlesan*. Toh masih banyak baju yang berharga jauh di bawah itu dengan kualitas lumayan. Walaupun tidak bermerek. Di Kuwait, uang 100 ribu rupiah yang mempunyai 5 angka 0, hanya berharga sekitar 3,5 dinar yang tidak punya angka 0 sama sekali.
Ketika memilih dan membeli sih tak jadi soal mungkin. Karena tidak terdapat angka 0 sama sekali di angka 3,5, tapi ketika sampai di rumah, dan dihitung-hitung, kok ya jadi mahal… :P
Faktor norak
Secara ini pertama kali, jadinya mungkin berkesan norak. Uang rupiah yang aku punya sekarang tinggal pecahan 50 ribuan, ditambah beberapa lembar uang 1000an. Dan itu tergeletak entah di mana :p
Ternyata uang kertas 1000 rupiah, disini hanya berharga kurang dari 50 fils. Dan 50 fils itu hanya logam kecil, sebesar uang jigo‘-an. Hihhi… :D
Gaji kecil pengeluaran kecil, gaji besar pengeluaran besar
Setelah menerima gaji pertama, sebenarnya aku sudah membagi-bagikan ke setiap pengeluaran. Belanja bulanan, transport, makan siang, sedikit foya-foya :P dan menabung. Tapi ternyata semua diluar perkiraan! Hahaha….
Yah, mungkin karena faktor kaget, norak, dan tidak bermoral, beli ini bisa dan beli itu bisa, jadi kurang bisa menetralisir keinginan.
Yang jadi masalah, bulan Februari adalah waktunya Sale di Kuwait. Tidak seperti Indonesia, harga dinaikkan terlebih dahulu baru dipotong diskon. Disini, memang benar-benar diskon.
*berdoa biar ga terbujuk untuk belanja*
74 Responses
Emang…dasar otak rupiah…dapet mata uang lain bingung pertamanya…setelah cuex…jadi kalap kekekekek…gw juga mengalami hal yang sama juga heuheuheuehue
datz, bagi satu dinar donk … :p
pulang2 bli BM seri Z neh..
kyaaaaaa… :D
Pak bos… kalo kerja disana enak ga ??? oh iya SALAM kenal yaa dari IAN AT PONDOKIKLAN DOT COM
uang oh uang kenapa meski uang ya
belanja buat kebutuhan sendiri ato kebutuhan orang lain mas?? hihihhi
disana kan cew cakep2!!
kapan naik haji datsuper????
(Cell wujud sempurna)
you only live once
masih bingung juga??? kirimin ke jkt dunx buat nyumbang korban banjir;((
halo…????
Sorry, OOT. gimana kalau list of catagories di blogmu ditambah satu. One of the list I recommend is “KUWAIT”
(siape gue berani recomend hihi..)
online terus
jadi inget kejadian, salah seorang rekan yang orang singapore asli, dimaki-maki pegawe di batam karena ngasih tip 3,000 perak… hehehe terus dia bilang hmm emangnya gua ngasih berapa?.. gua bilang 50 cents, gossh.. i thought it was 5 dollar :P … too many zeros man, chaos :D *dia yang ga biasa ngitung uang banyak nol nya :D
Belum pernah saya temukan web/blog sebagus ini. Salam Kenal ya … Jangan lupa duitnya di tabung he.. he…he…
jangan makan melulu lihat tuh perut kaya ular nelen kodok
Di Kuwait Pak Udin buka cabang ga? … ha ha … jadi ingat saat-saat di Cempaka Putih:), GBU
lo menghilang dari dunia maya yak???
Mas, mungkin lebih baik pake prinsip lunch money (LM).
Di Surabaya, lunch money sekitar Rp 6.000, harga kos saya per bulan LM 70.
Teman saya di US, Lunch money-nya US$7, harga apartment dia per bulan LM 106.
Beda tipis, kan? :D
Nah, yang jadi pertanyaan berapa harga lunch money Anda di sana?
haha! aku juga tuh, pas baru pindah ke singapur, smuanya diconvert ke rupiah dulu. Tapi mengikuti saran temen, katanya jangan pake diconvert2 lagi, ntar malah ga makan! Bener juga sih… XD
gw pgn ngrim gmbr paz wkt bnjir tp gw ga tw crana…he…20x
mungkin emang bener, lhah wong skarang aja 100 cuman bisa buat beli permen gak jelas judulnya…
Lam kenal..:)
iyah… ga usah belanja! mending nge-blog aja! hahaha… kayaknya asik yah di kuwait :)
jng mau dijajah sama bangsa lain ya… lebih baik cintai rupiah kwekkwek22…
dinar no way…. GBU:)
tanyaa dooong ???
kalo gaji 2000 K.D. cukup ngak bawa keluarga dengan anak 1 dan seorang istri tercinta.
apakah masih morat marit dengan gaji 2000 KD