Membawa nama Indonesia itu berat

Aku dilahirkan dari seorang ibu yang berasal dari Semarang dan ayah dari Bogor. Jika ditanya orang mana, tentu muncul keraguan di sana-sini. Mengaku orang jawa, bahasa jawaku aneh. Mengaku orang sunda, bahasa sundaku malah lebih parah. Mengaku orang jakarta hanya karena aku lahir di Jakarta, kok rasanya juga malah aneh.

Itu di Indonesia. Jika di luar Indonesia, maka aku tidak akan sebingung itu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “where are you come from”, “Which country are you from?” atau “Min 3ina enta? (Min ‘aina anta)”.

Jawabku jelas dan pasti, Indonesia.

Tapi, tidak selamanya aku menjawab Indonesia. Tergantung siapa yang bertanya.

Pernah suatu waktu, ketika naik bis, aku duduk di belakang. Hehehe. Baru kali ini aku cukup berani duduk di bagian belakang bis. Secara sejak jaman SMP selalu saja kena “palak”.

Lalu muncullah segerombol anak-anak Kuwaiti yang aku perkirakan SMP kelas 2 atau kelas 3. Perlu diketahui, 1 orang anak Kuwaiti yang bandel, bisa disamaratakan dengan 10 orang anak Indonesia yang bandel. Dan, saat itu ada sekitar 5 sampai 7 orang. Berarti, aku sedang menghadapi sekitar 70 anak Indonesia yang bandel!

Mereka membuat kegaduhan di dalam bis yang dimataku jelas norak. Ngerokok di dalam bis ber-ac. Berteriak-teriak di dalam bis, menyampah, dan segalah hal yang norak-norak.

“Eh, elu dari mana?” Tanya mereka dengan suara kencang. Layaknya ngobrol dengan teman biasa. Yang jelas, mereka tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku masih diam.

“Woi! elu dari mana?” tanya mereka lagi dengan suara lebih keras.
“Dari jepang? Dari China?” tanya mereka lagi.

“Goblok! emang mata gue sipit?” Aku bilang gitu dengan bahasa Indonesia tentunya.

“Malaysia” jawabku singkat.

Maaf Indonesia, jika aku mengaku orang Indonesia kepada anak-anak kecil tidak berotak itu, pasti aku akan lebih mendapatkan hal yang bisa jadi di luar dugaan. Karena yang mereka tahu, Indonesia adalah pembantu. Their home maid. Dan mereka Kuwaiti. Mereka kebal terhadap hukum di negara mereka.

Kemudian di suatu saat yang lain.

“Didats, how much 1 KD in your currency” tanya seorang teman kantor.
“Ooops!” tiba-tiba aku tertelan biskuit yang sedang aku makan.
“Why you asking that question?” tanyaku balik.
“Why you not answer it directly?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum kecut.

“Its thirty thousand” jawabku singkat.
“It’s three and zero or one and zero?” tanyanya lagi meyakinkan.
“It’s three and zero” jawabku.

“Wow! that’s much man! I thought currency from (some country) was bad already” Dan semua orang dikantor menanyaiku tentang hal ini.

Dan aku senyum-senyum menahan malu.

No related posts.

Kategori: blog, kuwait

 

53

Komentar

Gravatar
 

mr.bambang @02.07.2007

Koq berat itu emang sampe berapa ton sih beratnya Dat? :P

 
 
Gravatar
 

Anang @02.07.2007

berat karena indonesia sarang koruptor kelas kakap

 
 
Gravatar
 

Yoki @02.07.2007

Well jangan berkecil hati…right or wrong is our beloved country that we should proud of! it is our duty to make it much better and fix it every time we realize there’s something wrong.

 
 
Gravatar
 

agam @02.07.2007

Serba salah ya jadi orang Indonesia.
btw, tuh anak2nya nakal2 banget. Gak diajari apa ama ortunya?

 
 
Gravatar
 

CronOS @02.07.2007

nggak perlu malu Dats, lain kali bales bilang gini:

“dude, your english sucks!”

 
 
Gravatar
 

irwansyah @02.07.2007

Itu baru anak-2 dats nakalnya mintak ampun. Jika ortunya? malah lebih parah lagi memang. Mungkin kenakalan sesuatu bangsa itu berlainan barangkali. Kalau ada 70 orang anak kuwaits disitu kayaknya seperti 700 orang anak indonesia dats.. hehhehehe…

 
 
Gravatar
 

Suwahadi @02.07.2007

Iya, serba salah dech…
Tapi apapun itu, pastinya kita tetep orang Indonesia. (* semangat *)

 
 
Gravatar
 

Brahmasta @02.07.2007

Sedih ya, negara kita kok kayaknya jelek banget.
Itu anak-anak kurang ajar banget ya. Di Indonesia kayaknya ga mungkin anak SMP ngelakuin kayak gitu.
Itu sisi positifnya negara kita :D

 
 
Gravatar
 

edwin @02.07.2007

kang, cerita aja atuh kelebihan Indonesia itu apa aja, cerita Bali kan bisa tuh secara anta udah pernah di sana…jangan sampe jd bulan2an omongan mereka…

 
 
Gravatar
 

dental @02.07.2007

hahaha… begitulah indonesia. *)bukannya sara sih tapi gw masih beruntung klo ada yang nanyak “where you come from?” – gw masih bisa nyahut “Bali :)”

 
 
Gravatar
 

lilis @02.07.2007

hadapai sEmua dengaN semyuman

hanya itu yang bisa lilis ucapain

:)

 
 
Gravatar
 

alex @02.07.2007

sabar sajalah, dat…
mau diapain lagi, kalo emang uda nasib…

*keluh*

 
 
Gravatar
 

saylow @02.07.2007

Mudik kok ya ke Jakarta! hahahaha Ahk Metropolitan kamuh!

 
 
Gravatar
 

rinnie @02.07.2007

Sing sabar Did menghadapi mereka.

Jelek atau bagus kan negaramu juga, a place where you born in. Kalau ngomongin “membawa nama bangsa” jadi inget atlet yang berjuang dengan berlabelkan nama INDONESIA di dada sebelah kanannya itu, bermandikan keringat dan berjuang sebisa mungkin untuk menang, and absolutely they are proud to be one of indonesia citizen..

Masihkan kamu bangga jadi salah satu warga Indonesia Did?

 
 
Gravatar
 

Jauhari @03.07.2007

La Tahzan

*kaburrr

 
 
Gravatar
 

Jauhari @03.07.2007

Saya jadi menafsirkan lain percakapan cak didats ini

“Didats, how much 1 KD in your currency” tanya seorang teman kantor.
“Ooops!” tiba-tiba aku tertelan biskuit yang sedang aku makan.
“Why you asking that question?” tanyaku balik.
“Why you not answer it directly?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum kecut.

“Its thirty thousand” jawabku singkat.
“It’s three and zero or one and zero?” tanyanya lagi meyakinkan.
“It’s three and zero” jawabku.

“Wow! that’s much man! I thought currency from (some country) was bad already” Dan semua orang dikantor menanyaiku tentang hal ini.

Sepertinya cak Didats secara menumpuk KD di negeri sana agar bisa PESTA di Indonesia tentunya….

Bagus cak… salute salute… kalau dah sampe ID lagi, sempatkan ke Malang dan NRAKTIR CAK MAN “maneh” ke ke kee

Go!!!!!!!!!

 
 
Gravatar
 

diana @03.07.2007

duh, kok jadi sedih ya…mbacanya :(

 
 
Gravatar
 

Mela @03.07.2007

jadi miris ngebacanya…
emang setiap orang indonesia yang pergi keluar negeri pasti jadi pembantu ya…
sedih euy…

 
 
Gravatar
 

Luthfi @03.07.2007

ini posting abis gajian?

 
 
Gravatar
 

Mics @03.07.2007

Dat, mestinya temen kantor lo bilang
“It’s three and zero or one and three?”
trus lo jawab “ndesooo…”

 
 
Gravatar
 

rifie @03.07.2007

Hmm,
sewaktu saya di korsel dulu saya tetep bilang sebagai WNI kok, mereka juga tau kalo ada banyak TKI di pabrik sana. Dan no problem at all pas mereka tau saya dari indonesia..

Terserah om didats sih.. tapi ya bersikap jujurly juga gpp (coba aja)..

 
 
Gravatar
 

didats @03.07.2007

#21 bukan gag mau ngaku,
cuma liat-liat yg tanya.

kalo dia orang yang dewasa, aku bilang kok dari Indonesia. tapi kalo anak2 kecil itu, wuiih.. tambah parah mereka bandelnya kali.

cuma ke anak kecil doang kok… yg laen kagag.

 
 
Gravatar
 

vnz @03.07.2007

Indonesia.. Indonesia..
nasibmu..

 
 
Gravatar
 

Leo @03.07.2007

Indon Indon

 
 
Gravatar
 

bimoseptyop @03.07.2007

tetep PD

 
 
Gravatar
 

raida @03.07.2007

katanya sih anak2 yg sering naek bus gt anak2 bidun dats, dan kamu ngerti sendiri bidun di kwt itu bejimana.

di t4 gaweku jg sering ditanyain tuker rupiahnya berapa ke dinar, tapi setelah itu ku bilang juga kalo harga roti splastik kecil di tempatku 10rebu rupiah geleng2 kepala juga mereka, jadi harga di ina dah mo saingan ma harga kuwait yakk..

entar kalo mereka bilang lagi tentang indonesia yg sering bencana, pesawat hilang pokoknya yg banyak masalahnya di ina, tanyain juga yak ma mereka ‘how about your country?’ hahahha..biasanya seh pada diem :D

ini koment apa numpang ngeblog yakk..

 
 
Gravatar
 

aribowo @04.07.2007

duh parah banget indo, meraka cuma taunya indo itu pembokat.

btw soalny percakapan yang terakhir apa sih maksudnya, gak nangkep neeh

 
 
Gravatar
 

sigit @04.07.2007

#22: masak sama anak kecil aja takut dats??? percuma donk, badan udah makin gede dikuwait hehehe…:p

 
 
Gravatar
 

sigit @04.07.2007

Finally, I have removed the spam! Die you spammer! Die you!

wak… abis comment dikira spammer :(

 
 
Gravatar
 

rd Limosin @04.07.2007

Endonneeessaaaaaa tanah airku…..

 
 
Gravatar
 

oesyil @04.07.2007

Wah udah lama ga mantau.. tauk2 udah di kuwait? Waaaaa…….

 
 
Gravatar
 

azfaaziz @04.07.2007

#22
hiiiii bo’ongin anak kecil yah???

 
 
Gravatar
 

azfaaziz @04.07.2007

katanya sih anak2 yg sering naek bus gt anak2 bidun dats, dan kamu ngerti sendiri bidun di kwt itu bejimana

bidun dari kata bidoon jinsiya artinya “without nationality” see here

 
 
Gravatar
 

ShOFa @04.07.2007

ya ampyun itu anak” nakal ga ada sopan”nya ya..

 
 
Gravatar
 

amudi @04.07.2007

kecilnya aja gitu, gimana gedenya?

 
 
Gravatar
 

raida @04.07.2007

sapa bilang badannya didats itu gede, aslinya kurus kok..wakakaa..*kabur tanpa berdosa*

 
 
Gravatar
 

Jauhari @04.07.2007

Wah Petisi Dukung Lilisnya KEREN :D

 
 
Gravatar
 

lantip @05.07.2007

apa salahnya dikira pembantu?
masih nggak ngerti saya..

 
 
Gravatar
 

didats @05.07.2007

#36 senangnya dibilang kurus… hihihi… :D

#38 bung roni ikut aja yuk ke sini. gimana rasanya diberlakukan sebagai pembantu. it’s beyooond your imagination.

 
 
Gravatar
 

aribowo @05.07.2007

maaf mas cuma mau tes gravatar

 
 
Gravatar
 

dewi @05.07.2007

ah, penghianat kamuh, dats! kulaporkan sajah di KBRI kuwait biar di deportasi dirimu ke malaysia. *loh?!*

hihihi..

betewe, pante nya geger kali…. kok gogok seh?? jauhhhhhh

 
 
Gravatar
 

widya wiwaha @06.07.2007

Kasihan dikau Indonesia :-(

 
 
Gravatar
 

ndoro kakung @06.07.2007

loh, kamu sekantor sama kris dayanti ya, dats? *gak mudeng*

 
 
Gravatar
 

geblek @06.07.2007

segede apaan nama indonesia dats kok berat

 
 
Gravatar
 

gita @08.07.2007

ah orang semarang apa orang boja dats? *wink* tp ga prnh ke semarang yaks *heran*

 
 
Gravatar
 

Fendy Siamala @08.07.2007

Baru tahu kalau orang Indo banyak yg jadi pembantu di sana. BTW, Kuwait itu negara dengan dasar agama tertentu nggak?

 
 
Gravatar
 

Kuy @09.07.2007

ahaha, ternyata orang Kuwait lebih ndesoo dari orang indo :P

 
 
Gravatar
 

Hedi @10.07.2007

Udah pernah ngalami kaya gitu Dat, ga enak.

 
 
Gravatar
 

OM Abri @10.07.2007

yo sing sabar aja namanya di lahan orang kita kan ga merasa memiliki … sabar subur (sekarang makin subur aja ya daits) + sabar disayang Tuhan lho.

 
 
Gravatar
 

erika @16.07.2007

welcome citizen of maid…
Indonesia tanah pembantu…
gpp toh…senang membantu kan dapat pahala….hihihihihi

 
 
Gravatar
 

bebek @22.07.2007

dengan kondisi indonesia yang seperti sekarang jujur aku ga pernah bangga…
karena memang ga bisa dibanggakan, cuman aku tetap saja orang indonesia. karena itu memang kenyataannya… sad huh? :(

 
 
Gravatar
 

funkshit @24.10.2007

hix sedih.. ternyata bangsa indonesia kalah nakalnya. . .

 
 
Gravatar
 

Cara Menghapus Blog Bermasalah @03.11.2008

[...] http://didats.net/page/membawa-nama-indonesia-itu-berat/ Related Posts (Artikel Terkait) : [...]

 
 

Maaf, form komentar saya tutup. Jika ada pertanyaan atau pendapat, langsung saja ke halaman kontak.