July 2nd, 2007

Aku dilahirkan dari seorang ibu yang berasal dari Semarang dan ayah dari Bogor. Jika ditanya orang mana, tentu muncul keraguan di sana-sini. Mengaku orang jawa, bahasa jawaku aneh. Mengaku orang sunda, bahasa sundaku malah lebih parah. Mengaku orang jakarta hanya karena aku lahir di Jakarta, kok rasanya juga malah aneh.

Itu di Indonesia. Jika di luar Indonesia, maka aku tidak akan sebingung itu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “where are you come from”, “Which country are you from?” atau “Min 3ina enta? (Min ‘aina anta)”.

Jawabku jelas dan pasti, Indonesia.

Tapi, tidak selamanya aku menjawab Indonesia. Tergantung siapa yang bertanya.

Pernah suatu waktu, ketika naik bis, aku duduk di belakang. Hehehe. Baru kali ini aku cukup berani duduk di bagian belakang bis. Secara sejak jaman SMP selalu saja kena “palak”.

Lalu muncullah segerombol anak-anak Kuwaiti yang aku perkirakan SMP kelas 2 atau kelas 3. Perlu diketahui, 1 orang anak Kuwaiti yang bandel, bisa disamaratakan dengan 10 orang anak Indonesia yang bandel. Dan, saat itu ada sekitar 5 sampai 7 orang. Berarti, aku sedang menghadapi sekitar 70 anak Indonesia yang bandel!

Mereka membuat kegaduhan di dalam bis yang dimataku jelas norak. Ngerokok di dalam bis ber-ac. Berteriak-teriak di dalam bis, menyampah, dan segalah hal yang norak-norak.

“Eh, elu dari mana?” Tanya mereka dengan suara kencang. Layaknya ngobrol dengan teman biasa. Yang jelas, mereka tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku masih diam.

“Woi! elu dari mana?” tanya mereka lagi dengan suara lebih keras.
“Dari jepang? Dari China?” tanya mereka lagi.

“Goblok! emang mata gue sipit?” Aku bilang gitu dengan bahasa Indonesia tentunya.

“Malaysia” jawabku singkat.

Maaf Indonesia, jika aku mengaku orang Indonesia kepada anak-anak kecil tidak berotak itu, pasti aku akan lebih mendapatkan hal yang bisa jadi di luar dugaan. Karena yang mereka tahu, Indonesia adalah pembantu. Their home maid. Dan mereka Kuwaiti. Mereka kebal terhadap hukum di negara mereka.

Kemudian di suatu saat yang lain.

“Didats, how much 1 KD in your currency” tanya seorang teman kantor.
“Ooops!” tiba-tiba aku tertelan biskuit yang sedang aku makan.
“Why you asking that question?” tanyaku balik.
“Why you not answer it directly?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum kecut.

“Its thirty thousand” jawabku singkat.
“It’s three and zero or one and zero?” tanyanya lagi meyakinkan.
“It’s three and zero” jawabku.

“Wow! that’s much man! I thought currency from (some country) was bad already” Dan semua orang dikantor menanyaiku tentang hal ini.

Dan aku senyum-senyum menahan malu.

Related posts:

  1. Membawa nama Bali lewat Eat, Pray, Love Nama Indonesia itu gak populer di negeri Arab sebagai tempat...
  2. Bertambah lagi orang Indonesia di Kuwait Alhamdulillah. Ini Kuwait emang negara super kaya. Jadi walaupun cuaca...
  3. Indonesia vs Kuwait Masalah sumber daya alam Kuwait: Punya sumber daya alam minyak,...
  4. Kenaikan standar gaji TKW Indonesia Sebuah kabar gembira tentunya untuk para TKW Indonesia. Tapi sebuah...
  5. TKW Indonesia di Kuwait Saya sudah lama tidak memberi kabar tentang bagaimana keadaan para...



Kategori:blog, kuwait



53 Responses

  1. bebek says:

    dengan kondisi indonesia yang seperti sekarang jujur aku ga pernah bangga…
    karena memang ga bisa dibanggakan, cuman aku tetap saja orang indonesia. karena itu memang kenyataannya… sad huh? :(

  2. funkshit says:

    hix sedih.. ternyata bangsa indonesia kalah nakalnya. . .