Beberapa hari lagi harga BBM resmi naik. Setelah beberapa minggu yang lalu harga BBM jenis Pertamax sudah lebih dulu naik. Jepri yang biasa minum Pertamax, saya biasakan untuk turun kasta dengan meminum Premium sebulan sebelum harga Pertamax naik. Hasilnya, masih belum ada masalah sampai saat ini. Tapi semoga saja penurunan kasta ini membuatnya mengerti.
Pagi tadi, jalanan terasa begitu macet. Kemacetan terjadi disekitar pintu masuk pom bensin. Orang-orang sudah berebut untuk mengisi BBM lebih awal, agar tidak terjadi antrean yang sangat panjang besok. Tapi ternyata sama saja, masih saja antre disana-sini. Entah esok hari. Mungkin akan lebih panjang lagi antrean.
Aku jadi inget cintah tentang antre BBM. Di sekitar rumahnya (Kemang) ada pom bensin yang cukup sepi di malam harinya. Dan aku jadi tak perlu antre disana. Aku memang agak sering untuk pulang malam setelah mengantarnya sampai rumah. Kadang terpikir, untuk mengisi BBM disana, tapi jarak yang saya tempuh cukup jauh.
Terlepas dari pro dan kontra kenaikan BBM, aku lebih melihat efek kenaikan ini. Satu hal yang pasti adalah kenaikan harga disegala jenis kebutuhan, apalagi menjelang lebaran. Hal lain, bagaimana kompensasi kenaikan BBM ini dialihkan kepada yang lebih bermanfaat. Tunjangan 100 ribu rupiah kepada setiap warga miskin mungkin salah satunya (walaupun saya sendiri agak kurang setuju), asalkan jalur distribusi benar-benar diawasi.
Sudah menjadi rahasia umum, orang-orang Indonesia tidak pintar dalam hal operasi pembagian. Apalagi operasi pembagian yang berhubungan dengan perut. Sebagai contoh, uang 1 juta dibagi 2 hasilnya 700 ribu untuk atasan, dan 300 ribu untuk bawahan… :D
No related posts.
doeljoni @29.09.2005
ironi ya bro’… negeri yang dulu kaya banget akan minyak jadi sampe segini parahnya …
kebijakan itu sendiri mirip seperti buah simalakama. mana moment nya juga sepertinya gak pas banget…