blog
Merayu Orang Tua Untuk Buku
September 19th, 2005
Dulu, sewaktu masih sekolah di STM 8 (Sekarang SMK 39), Gramedia Matraman menjadi tempat saya bermain tiap hari Minggu pagi sampai sore. Jarak dari rumah ke sana tidak cukup dekat. Saya harus naik 2 kali kendaraan. Ongkos yang saya keluarkan sekitar 2500 rupiah untuk pulang dan pergi. Uang itu saya sisihkan dari uang jajan yang jarang saya gunakan.
Selama beberapa tahun bolak-balik Sumur Batu - Matraman membuatku hafal dengan judul buku-buku baru. Buku-buku yang saya baca dulu lebih banyak yang mengandung unsur tutorial, itulah sebabnya kenapa saya lebih suka buku seperti itu. Untuk buku-buku novel, jarang saya singgahi saat itu. Selain karena tempatnya tidak cocok untuk membaca di tempat, juga dulu saya berpendapat buku-buku novel adalah buku cewek.
Buku-buku yang mau saya beli, saya catat, kemudian saya urut kembali, mana yang memang benar-benar saya butuhkan. Sesampainya di rumah, saya coba untuk memanjakan bapak. Memanjakan itu bisa dengan cara memijitnya, sambil merayunya.
“Pak, ada buku bagus loh tadi. Harganya cuma 30 ribu. Tapi sayang, aku gak punya duit” Rayuku.
“Hayah, kamu memang selalu gak punya duit! kapan kamu dikasih lebih sama mamamu” jawabnya, sambil tertawa.
“Kapan kamu mau beli? minggu depan kan? ingetin ya…” tambahnya lagi.
“Asiik… ” jawabku kegirangan sampai lupa dengan pijitan.
“Eh.. eh.. terusin pijitin sebelah sini!” protes bapakku.
Ya, dalam hal pendidikan bapak saya tidak pelit. Walaupun saya tahu, keadaan keuangannya tidak selalu lancar. Nah, sebagai anaknya yang paling besar, saya paling aktif untuk meminta les, buku, atau uang tambahan untuk memakai komputer di sebuah rental.
Buku-buku yang sudah saya beli, kemudian saya simpan di tempatnya. Kalau tidak salah ingat, hampir ada sekitar 25 buku hasil rayuan, dan beberapa buku hasil simpanan uang.
Entah kenapa, semua buku-buku itu kini tak tahu kemana. Hilang tak berbekas sama sekali. Ya, saya akui ini memang kesalahan saya, terkena rayuan teman-teman yang ingin meminjamnya, kemudian lupa meminta kembali. Catatan yang menunjukkan siapa saja yang meminjam juga tak ada.
Bagaimana dengan sekarang? hampir tak ada buku yang saya urus. Berhubung buku-buku yang berjenis tutorial sudah digantikan oleh e-book yang bertebaran. Toh kalau mau beli juga bisa pakai uang sendiri. Tapi sejak bisa cari duit sendiri, malah jarang beli buku. Bahkan bisa dikatakan tidak ada.
Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog
















beli komik aja =))
walau skr udah ada gramed depok yg paling cuma 15 menit dr rumah, tapi tetep aja gw jarang ke sono.. biasanya dulu rajin ke gramed blok m ato ke pim. knp ya?