blog

OB juga manusia

April 19th, 2005

Saya mencoba menulis dari sudut pandang berbeda, karena sudah bukan rahasia lagi kalau blog itu hanya norak, katarsis, dan gak kompeten. hi roy! Tulisan ini meneruskan dari sebuah tulisan dari egghead yang bisa membuat saya berempati.

Aku hanya lulusan SMA. Bahkan, temanku seperjuangan hanya lulusan SMP. Disaat jaman sudah gila seperti ini, mencari pekerjaan yang sulit, apalagi bagi lulusan seperti saya. Menjadi Office Boy (OB) pun saya terima, walau nantinya akan ada banyak kesulitan yang saya temui. Yang pasti, saya hanya mencoba untuk mandiri, dan tidak tergantung kepada orang tua.

Tempat kerjaku memang elit, kawasan Sudirman di Jakarta Pusat. Tapi perlu diingat, pekerjaan yang saya geluti tidak se-elit kawasannya. Untuk makan siang saja, saya harus berhemat membawa dari rumah, kadang, makan siang saya telat, suruhan kesana dan kemarilah penyebabnya.

Upah saya disini juga tidak ikut elit, tapi toh sudah cukup untuk saya sendiri. Diteriaki, dimaki-maki, dan disuruh kesana kemari sudah menjadi sarapan dan jadwal saya setiap harinya. Tak pernah saya bertemu dengan hari kantor dimana saya tidak diteriaki dan dimaki-maki. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari lebaran buat saya, karena tak ada teriakan dan makian saat itu, tidurpun jadi teman, untuk melepas beban selama seminggu.

Memang, tak semua orang dilingkungan kantor meneriaki saya, bahkan, jika disuruh untuk membeli makanan yang letaknya tak jauh saja, saya diberi imbalan. Bisa berupa uang, bisa juga berupa makanan. Yang jelas, ucapan terima kasih selalu terpancar, walaupun kadang saya salah membeli karena terlalu banyak pesanan.

Tapi juga tak banyak orang seperti itu. Perbandingannya mungkin hanya 1 dari 4 orang. Lebih banyak yang membuat saya stres dengan pekerjaan ini, karena teriakan dan makian selalu saja saya terima. Kadang, mereka tak tahu kalau saya ini juga butuh istirahat. Waktu makan saya saja kadang diganggu untuk membeli ini dan itu, padahal, bukan pekerjaan kantor. Ucapan terima kasihpun tak pernah saya dengar dari mulutnya.

Inilah pekerjaan saya, hanya sebagai Office Boy, yang kadang dianggap pembantu, bahkan babu. Saya harus berada dikantor setiap harinya sebelum pegawai lain datang, dan harus pulang larut malam, setelah pegawai lain datang. Tapi mereka tak mau tau itu. “I don’t care!” itulah kalimat bahasa inggris pertama yang saya pelajari dari para bule itu.

Resiko memang berat, aku dituntut untuk bekerja keras, dengan gaji yang seminimal mungkin. Kapan ya aku bisa seperti yang lain, berada didepan komputer dan asyik mengetik. Kursus? maaf, uang yang saya punya tak cukup untuk itu. Waktu yang bisa saya gunakan untuk berada didepan komputer hanya malam, disaat tak ada lagi pegawai lain, atau ada beberapa pegawai lain yang mengerti posisiku. User dan passwordnya pun kuminta dari seorang anak muda yang duduk sebagai IT itu.

Oh, sudah malam, waktunya aku pulang kerumah. Cucian piring sudah kuselesaikan tadi, juga pintu ruangan bos sudah saya tutup, dan besok, aku harus menghadapi lagi teriakan itu, yang tak bisa ditebak dari mana asalnya.


Share:
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.

  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • Ma.gnolia
  • StumbleUpon
  • Technorati

Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog


12 Comments


Gravatar
#1. arjuna » 19.04.2005

orang2 kaya yang punya jabatan sering lupa dengan bawahannya. Padahal tanpa ada bawahan, mereka bukanlah orang2 yang punya jabatan tinggi.

Salah satu cara untuk menilai orang itu adalah dengan melihat bagaimana ia memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya, bukan yang sederajat. (kata sirius black)

Gravatar
#2. geblek » 19.04.2005

betul kata arjuna.karena bisa menjadi atasan krn ada dan punya bawahan coba kao sendiri jadi apa mereka.mandiri gak yakin ah.dat coba tes komenku lg kok ke banned trs sih

Gravatar
#3. lantip » 19.04.2005

terimakasih sudah menulis tentang saya. saya juga cuman lulusan sma. :p

Gravatar
#4. rhay » 19.04.2005

hmmm crita yg bagus dats!

Gravatar
#5. isni » 19.04.2005

setuju sama yg arjuna.. “Salah satu cara untuk menilai orang itu adalah dengan melihat bagaimana ia memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya, bukan yang sederajat.”
**ko jadi sedih yah..**

Gravatar
#6. Syahrani » 19.04.2005

Hmm sedih… hiks.. masih ada juga yaa orang memperlakukan begitu. Ini warisan jaman belanda nih ketika orang yang diatas memperlakukan orang dibawah dengan semena-mena.. :(

Gravatar
#7. echa » 19.04.2005

bukan warisan jaman belanda spt kata si Syahrani. Tapi tergantung dari tiap orang, orang indo kan mentang2 ada yg mau nolongin ini itu jadi keenakan, MALES gitu! Sorry dats tapi orang2 kantor kmu betul2 keterlaluan!!!! :@

Gravatar
#8. echa » 20.04.2005

sorry if my comment was rude. Tapi baca postingannya itu bikin naik pitam. ihh :(

Gravatar
#9. goiq » 20.04.2005

menjadi ob itu jauh lebih mulia daripada jadi koruptor, maling, dsb…

Gravatar
#10. frozi » 20.04.2005

kalo jujur, kadang teman sejawat pun masih banyak yang jiwanya juragan… maunya dilayani mulu, terkadang hanya sekedar melayani diri sendiri pun males… maunya dilayani mulu, gila kali ye…

Gravatar
#11. dodY » 20.04.2005

cerita yg bagus, pak! pembuka mata hati paling dahsyattt :) semoga bisa menjadi renungan berarti buat kita!

Gravatar
#12. emaq » 23.04.2005

biasanya org2 bekas jajahan yg suka menjajah, karena lama mengidam utk balas dendam

Leave a Reply




Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog