blog
Pantai Dreamland merenggut korban lagi
April 11th, 2006
Sepulang dari tempat makan, aku punya 3 pilihan untuk aku kunjungi. Pantai Kuta, pantai Dreamland, dan Toko Buku. Dan tak mungkin jika semua tempat aku kunjungi pada sore hari. Di pantai Kuta, aku ingin melihat perkembangan abrasi di sana, sekaligus melihat pekerjaan traktor yang katanya mulai merapihkan pantai tersebut. Pantai Dreamland, sudah cukup lama aku tidak ke sana. Dan aku juga ingin melihat perkembangannya setelah terakhir kali cukup banyak sampah. Sedangkan toko buku, ada beberapa buku yang ingin aku beli.
Dan pilihan jatuh ke pantai Dreamland. Walaupun cukup jauh, tapi sepadan dengan apa yang akan aku dapatkan nantinya. Entah mengapa, di tengah jalan aku punya pendapat lain, mengunjungi Tanah Lot. Tapi dorongan untuk menuju pantai Dreamland lebih kuat. Saat itu aku sudah tak ingat kalau pantai itu sudah pernah merenggut kamera yang aku pinjam.
Sesampainya di sana, aku cukup khawatir dengan air laut yang pasang. Dengan ombak yang agak lebih besar dari biasanya (pantai Dreamland memang punya ombak yang cukup besar), aku memperingatkan diriku sendiri untuk menjaga gadget yang aku bawa. Barang elektronik yang aku bawa saat itu hanya handphone dan kamera. Handphone aku taruh di saku celana, dan kamera aku ikatkan di pergelangan tangan.
Setelah cukup lelah berjalan di bibir pantai, aku duduk di pasir. Sengaja aku duduk jauh dari bibir pantai. Sambil melihat-lihat ulang hasil bidikanku, aku juga sedikit memperhatikan para peselancar yang sedang beraksi.
Dan tiba-tiba saja orang-orang berteriak.
Ternyata ombak yang datang cukup besar. Hingga membuat sebagian bajuku basah, dan celana pendek yang aku kenakan dipenuhi pasir-pasir pantai. Beruntung kamera sudah aku angkat tadi ketika ombak datang.
Aku berdiri, dan melihat sandalku hilang terseret air laut. Lalu aku teringat handphone di saku celana.
“SOKOOOOOOOOOOORRRRRRR…!!!” batinku berteriak.
Nafasku sesak, jantungku berdetak kencang, aliran darahku mengalir cepat, dan mulutku menganga melihat handphone di genggamanku dipenuhi air dan pasir di sekujur tubuhnya. Ia bergetar di telapak tanganku, seperti manusia yang hendak dicabut nyawanya. Dan akhirnya, getaran itu semakin melemah kemudian mati. Sayang sekali ia tidak meninggalkan kata-kata terakhirnya… :D
Hiks. Tanpa handphone, aku tak punya penunjuk waktu, aku tak bisa dihubungi atau menghubungi, dan aku tak bisa bertegur sapa dengan teman-temanku yang jauh.

Sebenarnya, handphone itu belum genap berusia setahun. Jadi masih ada garansi sampai beberapa bulan lagi. Tapi apa mungkin bisa dibetulkan atau diganti dengan berkedok garansi? Aku gak yakin.
Kapok pergi ke pantai Dreamland? Tentu saja tidak!
Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog
















pertama