blog
Resolusi 800×600 yang sudah terlupakan
June 7th, 2006
Di dalam dunia desain, khususnya desain web, resolusi menjadi sebuah masalah yang cukup diperhitungkan selain masalah lain seperti browser, warna dan image (gambar). Yang akan aku bahas di sini bukan resolusi layar yang 72 sampai 96 ppi (pixel per inch). Tapi yang akan kita bahas disini adalah ukuran resolusi.
Di jaman dahulu kala (halah! kaya udah lama aja), ketika memori komputer masih berjenis EDO (Extended Data Output) dan SD (Single Data), resolusi 800×600 sudah termasuk kategori mewah. Dan resolusi 640×480 adalah ukuran standar (terbayang gag sih pake ukuran 640×480?). Sekarang, dimana memori VGA dan RAM sudah tinggi, maka sedikit banyak resolusi 640×480 sudah lama tertinggal. Dan sepertinya sudah tak ada lagi yang menggunakannya. Atau masih ada? Buset, hare gene?
Jaman telah berubah. Teknologi pun makin canggih. Begitu juga dengan masalah resolusi ini. Tercatat, tahun 2004 pemakai resolusi 800×600 berjumlah 35% dan 1024×768 50%. Sisanya yang lain. Dan seperti bisa ditebak, pemakai 800×600 berkurang jauh menjadi 28% pada tahun 2005.
Saya pemula, resolusi apa yang saya gunakan sekarang?
Bagaimana menyesuaikan diri untuk membuat template yang sesuai dengan resolusi 800×600?
1. Buat template dengan lebar relatif (biasa disebut liquid).
Ini adalah hal yang susah menurutku. Banyak hal yang biasa aku lakukan tidak bisa dilakukan di sini. Ciri-ciri template jenis ini adalah lebarnya yang relatif terhadap resolusi layar. Semakin lebar layar monitor, semakin besar pula lebar template.
2. Jika menggunakan fix width (lebarnya mempunyai nilai tertentu), jangan lebih dari 760 piksel.
Banyak yang mempunyai pendapat lain, lebar paling besar pada ukuran fix width ini adalah 780 piksel. Memang benar, tapi perlu diingat, ukuran tersebuh hanya berlaku tanpa scrollbar di bagian kanan.
3. Hati-hati menggunakan 3 kolom
Bukan tidak mungkin dengan menggunakan fix width, kita membuat 3 buah kolom untuk setiap template. Tapi hati-hati, karena jatah tiap kolom jadi lebih sempit. Lebih baik diberikan space 5 sampai 10 piksel pada jarak tiap kolom, agar tidak akan menjadi masalah dikemudian hari.
Salahkah dengan resolusi 1024×768?
Tidak ada pernyataan salah untuk sebuah hasil desain. Yang ada adalah, menarik dan tidak menarik, atau mungkin ada tambahan lain, kurang menarik. Aku mengerti untuk seorang desainer web yang ingin menggunakan 3 kolom agak sulit berinteraksi dengan ukuran layar yang cukup sempit, maka dari itu ia mengacuhkan pengguna 800×600. “Hare gene pake 800×600?” begitu pikirnya.
Dan aku sangat berharap, pengguna resolusi 800×600 akan berkurang jauh di akhir tahun ini. Jika nilainya sudah di bawah 10%, maka aku berani untuk mengubah template yang aku buat agar jadi lebih lebar. Sekarang? masih mikir… :D
Daftar sekarang juga untuk cara gampang dapat uang lewat blog
















Merubah: menjadi rubah. Mengubah kali ya, Dats? :D