May 10th, 2005
Usianya hampir 84 tahun, ia lahir di Kemusuk pada tanggal 1 Juni 1921. Namanya pasti dikenal diseluruh belahan Indonesia, bahkan dunia. Ia adalah presiden kedua Indonesia, setelah Soekarno. Soeharto namanya. Ia menjabat sebagai Pejabat sementara Presiden setelah menerima Supersemar pada tanggal 12 Maret 1967. Dan resmi menjadi Presiden pada tanggal 21 Maret 1967.
Ia berkuasa selama hampir 32 tahun, dan selama di pemerintahannya, tak ada yang berani berkoar-koar tentang keluarganya, pemerintahannya, atau dirinya. Semua rakyat Indonesia manut. Hebat dia. Itulah salah satu kehebatan yang saya kagumi sampai saat ini.
Dulu, semasa SD, saya belum mengerti tentang dia sepenuhnya. Pun tak pernah menolak ia mencalonkan diri menjadi Presiden saat Pemilu. Hanya Wakil Presiden saja yang berganti-ganti. Ya, tak pernah menolak, karena tak tahu apa-apa saat itu.
Semasa SMP, pikiran mulai terbuka, ada yang aneh dipikiran saya saat itu. Yaitu iklan tentang Pemilu yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Entah, mungkin saat Pemilu tahun 1993 yang telah lalu. Apa yang aneh? ya, disana disebutkan cara menyoblos, tak jauh dengan iklan dari KPU yang baru kemarin kita saksikan. Disiarkan lewat radio, disana disebutkan, kita DIANJURKAN memilih nomor 2, yang saat itu adalah Golkar. Mesin Politiknya. Pikiran saya langsung menuju kepada orang-orang yang memang sama sekali tidak mengerti tentang Pemilu. Apa kira-kira yang terjadi? ya tidak salah lagi, Golkar-lah yang dipilih.
Golkar sendiri tak mau menyebut dirinya sebuah partai -saat itu-, dan sampai sekarang, Golkar sangat identik dengan Orde Baru-nya pak Harto -sebutan hangat untuk Soeharto-.
Dan sampai sekarang, di usianya yang telah uzur, masih kentara bagaimana ia masih berkuasa di negeri ini. Buktinya, proses hukum yang dijalankan sejak ia lengser pada tanggal 21 Mei 1998, tak ada kejelasan. Para pejabat dinegeri ini masih merasa takut dengannya.
Sempat, ia beberapa kali dipanggil oleh pengadilan, tapi hal itu berhenti sejak ia dinyatakan sakit oleh dokter pribadinya. Dan sekarang, proses hukum yang pernah berhenti dulu, ingin diteruskan lagi. Yakin?
Anda suka dengan dia? dan kenapa?
17 Responses
hmmm gimana yaaa
kalo republik suka takut milih, takut kalo salah milih president. Disini sistemnya kerajaan, ntar kalo Beatrix turun takhta yg jadi koning itu Prince w alexander and Princess nya Maxima, begitu seterusnya, selanjutnya constantijn (tp ini nanti, masih lama). pemilu disini bukan tunjuk siapa yg jadi koning atau koningin.
once I choose not to tell whether i like soeharto or not, they all are the same corrupt :P
:) no koment ah
gak tau politik”an
sayah suka ga yah ?? hmm… soeharto busuk lah… udah menjejali negara dengan hutang… busuk !! manis di luar, busuk di dalem…
suka atau tidak.. hmm..
Di gudang masin banyak paket untuk dia, paket-paket itu makin amis aja …. tertempel di depannya : “Ikan itu busuk dari kepalanya” …. !!!
au ah… gewappp… hhih… i hate politics.. ANY kinda politics… including politics back home… :D
dia juga nggak suka sama kita, sama semua manusia gitu pokoknya…
#6 iya, sama gue juga gak komen. gak ngerti pol*k
yah.. biarkan dia diadili di alam yg berbeda kelak.. amien…
hari menjelang maghrib, pak tua ngantuk
istri manis menunggu, istirahatlah
*pak tua – elpamas*
saya suka sama Pak Harto… sungguh… saya sukaaaa sekali…..
suka kalo dia nggak pernah ada…. :D
*ikutan Syahrani*
hmmm gimana yaaa :)
hi still part of our country history..so,gimana yaa…?
Halo Mas Tri (Didat Triadi…panggilan yang ini boleh khan)
Aku punya tulisan berhubungan dengan blog ini, judulnya :
Koki Masak Vs Pemimpin Bangsa, silahkan berkomentar.
Salam
Ridwan Fakih
Koki Vs Pemimpin Negara
Renungan – by Ridwan Fakih
Negara Indonesia sudah berumur 62 tahun tapi belum kuat untuk berdiri kokoh salah siapa?
Negara Indonesia sampai saat ini sudah akan berumur 62 tahun, tetapi kita harus mengakui kita belum mempunyai sistem negara yang solid. Dulu pernah Demokrasi Terpimpin, pernah Demokrasi Pancasila, sekarang mau masuk kealam Deemokrasi “tanpa embel2″ maunya Really Democracy. Bisa dikatakan sekarang ini masih berproses, dan bisa dikatakan non sistem.
Salah Siapa? Kok sudah 62 tahun berproses, kok juga belum terbentuk. Kalau diandaikan sedang masak kapan masaknya selesai, kok nggak selesai-selesai, sudah lapar nih – kata rakyat.
Yang salah kokinya, atau yang salah fasilitasnya atau bahannya? Kalau yang salah bahannya, nggak juga, rakyak Indonesia sebenarnya mudah menyesuaikan. Kalau begitu fasilitasnya (alat masaknya) belum ada atau belum memadai, artinya sistem belum ada atau ada tetapi belum solid, sehingga menyebabkan masakan nggak kelar. Atau penyebabnya kokinya nggak becus, ini juga bisa jadi penyebab.
Kalau koki nggak becus, sebenarnya pemimpin-pemimpin kita merupakan manusia koki yang pilihan dan merupakan koki terbaik juga. Nah kalau begitu mungkin fasilitasnya kurang memadai atau dengan kata lain kita bernegara ini belum punya sistem bernegara yang benar.
Antara 2 penyebab itu mari kita sekedar mengupasnya sekedar merenung. Bisa jadi, si Koki karena merasa pinter, lalu fasilitasnya/alat masaknya direkayasa SOP nya dia rubah sedemikian supaya si koki bisa leluasa masaknya sesuai selera si koki. Marilah kita berandai seperti itu.
Kalau kemungkinan yang terakhir, si Koki (tukang masak) bisa disalahkan. Mungkin sebaiknya, koki kita perlu dibimbing dan dipaksa memakai SOP (Standard Operating Procedure) yang benar oleh koki yang berpengalaman supaya masaknya berhasil sehingga bahan yang dimasak bisa segera menjadi matang dan menjadi santapan yang enak ( yaitu masyarakat Adil & makmur seperti rencana resep semula).
Dari analogi diatas, kawan diskusi saya menyimpulkan, kenapa Indonesia ini sangat lamban untuk bangkit karena para pemimpin kita sebagai koki banyak merekayasa SOP bernegara seenaknya supaya dia tetap enak menduduki jabatan koki negara.
Kalau kita menengok kebelakang, Jepang sewaktu menjajah Indonesia sudah membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan, untuk membuat fasilitas Alat Masak dengan SOP yang benar. Tetapi karena Jepang kalah perang. Kita mengambil alih dengan alat masak seadanya dengan tekat yang baik ingin membuat masakan yang enak.
Tetapi ditengah jalan, koki kita merekayasa SOP sesuai selera akhirnya kita tidak pernah bisa bikin makanan yang enak (kemakmuran negara) untuk bisa dinikmati rakyat.
Dengan analogi diatas bisa juga negara kita seakan akan “Stateless” SOP (baca : HUKUM) tidak bisa ditegakkan. Akhirnya yang untung yang kuat saja, yang lemah “mongso bodo” sakarepmu, kalau kamu mau hidup yah berjuanglah, kalau kamu lemah yah matilah, ini seakan akan kaya ”stateless” kaya dihutan hukum rimba yang berlaku..
Tetapi saya bersyukur SBY sudah ada NIAT yang benar2 untuk menegakkan SISTEM walaupun “suangaat syuusyah”.Tetapi saya yakin dengan NIAT yang benar, point ini sudah merupakan langkah strategis untuk meletakkan pondasi bernegara yang benar ( bernegara dengan memakai SOP yang benar).
Kalau niat SBY hanya lip service, saya yakin sampai 100 tahun umur bangsa ini masih seperti sekarang ini, Yang kaya makin kaya (jumlahnya hanya sedikit ) dan sebagian besar rakyat masih tidak terlindungi dan tidak tentram karena tidak pasti masa depannya. Berarti masalah HAM makin runyam. Mungkin akan kalah dengan Timor Timur yang rakyatnya akan lebih lebih duluan menikmati kemakmuran, walaupun SDA terbatas karena sistem negara (SOP Negara) sedang berproses dibantu persiapannya oleh KOKI yang berpengalaman (PBB/UN/Negara Besar)……. dan saya takut kawan saya akhirnya pada kesimpulan, kalau begitu sebaiknya Indonesia tidak perlu merebut kemerdekaannya, biar dijajah dulu untuk di ajari membuat SOP bernegara yang benar dan si KOKI dididik untuk disiplin melaksanakan SOP. Kawan saya yakin kalau kemerdekaan tidak direbut kita rakyat Indonesia bisa lebih cepat matang berbangsa & bernegara terbiasa disiplin hidup memakai aturan hukum yang sudah ditetapkan dan aturan (hukum) bukan untuk direkayasa.
Sebagai contoh kita menegakkan aturan memakai “safety Belt” saja susah sekali, melaksanakan/menegakkan aturan dilarang merokok ditempat umum saja syuusyahnya bukan main, ini baru contoh yang sederhana.
Kawan saya malah lebih keras, jangan-jangan kita terburu buru memerdekakan diri supaya pemimpin kita bisa menduduki jabatan koki negara. Kalau kesimpulan ini muncul …wah, alhasil kita kehilangan pahlawan kemerdekaan Bung Karno, pahlawan Pembangunan/bapak bangsa seperti Suharto dan lain-lain..dan kita bukan bangsa yang besar karena tak menghargai para pahlawannya.
Yah walaupun dalam hati saya mengakui kita belum bangsa yang besar, kalau besar penduduknya, yah siapa bisa bantah!
(Ridwan Fakih – Kuwait Awal Oktober 2007)
Apa Parameter Pemimpin Indonesia Yang Baik
September 19, 2007 by rfakih
Tanggal 17 Agustus 2007, Indonesia tercinta akan berumur 62 tahun. Ada seorang pakar psikologi mengatakan, kita perlu waspada untuk mengamati posisi umur memasuki angka 18-40-60. Umur negara mungkin tidak identik dengan umur manusia. Memang. Tetapi tidak ada salahnya kita perlu merenung dengan umur negara kita yang sudah berumur 62 tahun ini, untuk mengetahui sudah seberapa jauh kita berjalan. Sudah benarkah arah perjalanan kita. Apakah jalan kita yang kita tempuh sudah mengarah kepada tujuan yang kita tetapkan.
Indonesia memasuki umur 62 tahun, banyak anggota masyarakat menyatakan rasa tidak puas dengan kondisi negaranya sendiri. Kadang-kadang kita sadar kenapa kita justru selalu mengeluhkan kondisi negaranya sendiri yang tidak pernah kunjung memuaskan. Apalagi kalau kita melihat negara-negara tetangga di ASEAN. Apanya yang salah, siapa yang perlu disalahkan apa rakyatnya atau pemimpinya? Apa kedua-duanya perlu dipersalahkan? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup menggelitik. Mungkin kedua-duanya ada kesalahan, secara system. Tetapi menyalahkan rakyat bisa kurang mengenai sasaran karena alamatnya tidak jelas, rakyat yang mana, sehingga paling mudah bagaimana kita mencoba melihat dan mencoba menilai para pemimpin kita sebagai perwakilan rakyatnya untuk melihat posisi negara kita saat ini.Renungan ini akan menuju sebuah pertanyaan. Apakah pemimpin-pemimpin negara kita sudah baik dan benar dalam mempimpin. Menjadi sulit kita akan menilainya kalau kita tidak mempunyai parameter atau ukuran yang jelas. Menentukan ukuran dan parameter mungkin juga menjadi susah, karena perlu criteria yang variabelnya banyak sehingga bisa menjadi tolok ukur atau sebagai parameter. Mungkin untuk menyederhanakan kita perlu parameter yang sesedikit mungkin, sehingga kita bisa berpikir lebih linier, dan memakai bahasa yang sederhana, mungkin tidak perlu memerlukan referensi literatur yang menumpuk di perpustakaan, tetapi cukup dengan kejujuran hati untuk menilai diri sendiri. Seorang pemimpin negara mungkin bisa disebut sebagai negarawan. Pertanyaan berikutnya apakah negarawan kita sebagai pemimpin bangsa kita sudah baik dan sukses memimpin negara kita, sesukses kepopuleran mereka? Nah marilah kita merenung sejenak tentang kepemimpinan negara kita.
Parameter 1. Suksesi Yang berhasil
Pengertian sederhana seorang negarawan adalah secara jelas harus mempunyai visi kenegaraan yang mengarah untuk membangun negara menjadi tegak berdiri kokoh, Mampu memimpin dengan hati yang tulus untuk negara dan rakyat sesuai dengan sumpahnya. Pembangunan negara tentu saja tidak seperti membalik telapak tangan dan memerlukan waktu yang cukup. Pemimpin negara yang mempunyai visi jauh kedepan sangat sadar bahwa kepemimpinanya harus bisa diteruskan pemimpin generasi berikutnya. Sehingga seorang negarawan musti minimal mampu berkontribusi meletakkan dasar-dasar pembangunan negara yang dicita-citakan dengan membangun pondasi dasar untuk berdirinya suatu bangunan negara yang dicita-citakan bersama.Kira kira parameter seorang negarawan itu apa? Jawaban yang paling mudah ditangkap parameter negarawan yang sukses adalah “sewaktu suksesi” jalannya mulus dan tidak ada gejolak yang membuat terjadi “point of return” terhadap pembangunan atau terjadi degradasi pembangunan itu sendiri. Bisa dianalogikan secara sederhana kalau seorang anak menyusun balok bertingkat membentuk bangunan balok bertingkat, begitu bangunan selesai dan tangan yang meletakkan tumpukan terakhir dilepaskan bangunan tumpukan balok tetap berdiri dan tidak roboh. Ini adalah parameter pertama.
Parameter 2: Mempunyai Visi memprioritaskan pendidikan
Parameter kedua pemimpin negara bisa dianalogikan dengan sebagai kepala keluarga suatu bangsa jadi untuk menyederhanakan parameter apa yang baik sebagai kepala keluarga bangsa, dapat kita kiaskan apa yang baik buat seorang pemimpin suatu rumah tangga. Apa yang dipikirkan oleh seorang kepala rumah tangga? Yang pertama, dengan segala daya dan kemampuan dan bakatnya, kepala rumah tangga harus menegakkan ekonomi keluarga dan memberikan prioritas dengan cara apapun harus memikirkan: bagaimana pendidikannya anak-anaknya bisa dilakukan sebagai bentuk investasi pertama supaya anaknya dapat menyiapkan masa depannya secara mandiri dan kalau bisa lebih baik dari orang tuanya. Jadi seorang negarawan harus mempunyai prioritas meletakkan dasar perekonomian negara dan memprioritaskan anggaran pendidikan untuk mempersiapkan “human capital” pada saat awal pembangunan. Dengan kata lain pembangnan harus dimulai dengan membangun SDMnya dengan anggaran pendidikan sebagai prioritas. Ini penting karena ini merupakan fondasi pembangunan atau fondasi rumah Negara yang akan ditegakkan atau yang akan dibangun.
Dua parameter diatas adalah merupakan pondasi dasar pembangunan yang harus dibangun terlebih dahulu.
Parameter 3: Mempunyai Visi memprioritaskan Kebutuhan Publik (Rakyat).
Dari kedua parameter pondasi dasar, bisa dilanjutkan dengan parameter-parameter berikutnya sebagai pilihan strategi pembangunan yang harus diletakkan pada dua koridor pondasi dasar pembangunan. Sebagai seorang negarawan harus mampu mempunyai strategi pembangunan yang bisa memberikan fasilitas-fasilitas publik dengan sistematis. Kemampuan menegakkan strategi ini harus ditunjang urutan prioritas yang logis. Strategi pembangunan harus dibuat untuk mendahulukan mana yang lebih penting. Ini menyangkut kemampuan mengeliminir pengaruh-pengaruh dari luar yang berupa : Kancah perpolitik Internasional, gejolak ekonomi international, regional dan domestik. Tentu ini merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat kompleks, ruwet. Karena kompleks dan ruwet itulah kenegarawanan seorang pemimpin negara diuji dan ditantang.
Disinilah visi kenegaraan seorang pemimpin diuji kemampuannya. Dari tingginya tingkat keruwetan memimpin suatu negara karena adanya pengaruh badai perpolitikan internasional yang kuat, seorang pemimpin negara harus tetap memegang amanah bahwa “pemimpin” itu terpilih dan dipilih untuk mewakili rakyatnya untuk maju secara bersama, sehingga parameter berikutnya adalah pemimpin yang baik harus mengarah dan memulai pembangunan yang mendahulukan fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan publik yang merupakan kebutuhan rakyat yang mendasar, yang merupakan pembangunan phisik suatu bangsa. Penentuan strategi pembangunan mendahulukan fasilitas public dapat dipakai sebagai parameter ketiga.
Beberapa contoh kebutuhan pokok public yaitu : Air dan Listrik. Apakah pemimpin kita sudah punya Grand Planning untuk mencukupi kebutuhan ini? Seorang pemimpin harus tahu kebutuhan air perkapita, kebutuhan listrik perkapita. Karena itu 2 kebutuhan pokok manusia. Belum lagi kesehatan,
Ketiga parameter adalah pondasi bangunan Bangsa.
Ketiga parameter akan membentuk suatu hirarki pondasi pembangunan. Dan pondasi utamanya adalah “Prioritas Pendidikan”.Parameter ketiga memang sangat luas, karena itu bentuk pembangunan phisik suatu bangsa dan negara harus diletakkan dalam fondasi bangsa yang kokoh dan kuat yang berupa “kwalitas SDM yang memadai”, membentuk karakter bangsa yang yang berupa “human capital” yang berkarakterif dalam bentuk kwalitas bangsa atau ”corporate culture” yang yang berkwalitas.
Pendidikan adalah salah satu usaha membangun “human capital”, meletakkan dasar kearah pembetukan karakter dari anak-anak bangsa yang bisa mengarah pada “corporate culture” bangsa yang bergerak pada arah watak bangsa yang disiplin, patuh pada aturan, bersemangat untuk maju dan membangun negara secara bersama. Pembanguan pendidikan adalah salah satu usaha yang kearah pembentukan fondasi pembentukan karakter bangsa yang lebih berkwalitas, karakter bangsa yang makin tertib dan teratur dan berketaatan pada hukum atau aturan yang sudah ditetapkan, sehingga “corporate culture” suatu bangsa terbentuk mengarah pembentukan negara yang yang tertib, kuat dan memperkuat kedudukan marwah negara yang besar, kuat dan berpengaruh.
Banyak negara maju tidak mempunyai sumber daya alam yang cukup, tetapi mempunyai sumber daya manusia yang unggul atau dengan kata lain mempunyai “human capital” yang baik. Human capital yang baik ditandai dengan produktivitas masyarakatnya tinggi dan membuat negaranya menjadi negara yang kaya dan kuat secara ekonomis. Kwalitas SDM yang baik untuk Indonesia dan bangsa-bangsa yang lain berawal dari pendidikan yang membentuk etos kerja suatu anak bangsa menjadi lebih baik, lebih produktif dan lebih sadar akan pentingnya kedisiplinan, ketertiban dan tingginya kesadaran pada pentingnya akan ketaatan hukum, sehingga sistem suatu negara berjalan secara mulus dan “corporate culture” suatu bangsa terbentuk pada tingkat kwalitas yang terus membaik, baik kepada pemimpinnya dan juga pada masyarakat yang dipimpinnya.
Parameter-parameter diatas mungkin akan memberikan kilas balik kepada negara kita yang sudah memasuki umur yang sudah cukup tua yaitu 62 tahun untuk mawas diri. Kita perlu rendah hati untuk mau menilai diri kita, pemimpin-pemimpin kita. Kemerdekaan Indonesia merupakan perwujutan perjuangan para pemimpin dan rakyat Indonesia. Kalau ingin kita lebih baik dan lebih maju, kita harus berani menilai diri kita secara jujur. Kita harus berani mengakui ketertinggalan kita. Tidak ada salahnya kita meniru bangsa lain yang bisa berjuang lebih maju dan lebih baik dari kita. Kita harus mulai sekarang.
Ridwan Fakih – Kuwait, 13 Agustus 2007