Sukabumi 2 – Jalan-jalan 2009

sukabumi

Setelah membahas masalah transportasi, saatnya cerita tentang keadaan kota Sukabumi.

Dibandingkan dengan kota-kota disekitarnya, Sukabumi masih bisa saya kategorikan tempat yang enak untuk menghirup udara segar. Menjelang maghrib, udara semriwing mulai menghiasi malam-malam saya di Sukabumi. Pemandangan hijaunya juga masih bagus. Untuk hidup tenang, dan tak terganggu macam-macam memang cocok sekali di daerah ini.

Tapi sayangnya, keadaan yang cukup menarik itu tak disertai dengan ketertarikan pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan keadaan kota dan masyarakatnya. Semua seolah-olah jalan di tempat. Lapangan pekerjaan di kota ini terbilang sangat sedikit. Tak jarang, banyak orang Sukabumi yang lebih memilih mencari kerja di Jakarta.

Transportasi untuk berkeliling kota Sukabumi hanya angkot dan ojek. Jalanan yang kecil, tak memungkinkan untuk alat transportasi lain.

Semrawutnya pasar

Satu hal paling saya gak suka dari Sukabumi adalah, keadaan pasar yang sangat semrawut di tengah kota. Bahkan sampai turun ke jalan. Sampai-sampai saya yang suka komen ini itu bingung harus diapakan keadaan yang seperti itu. Mungkin bapak-bapak yang duduk di pemerintah daerah Sukabumi ini juga bingung, makanya tak ada geraknya sama sekali.

Selain pasar-pasar di tengah kota, penempatan pasar di daerah Cibadak, Cisaat, dan Cicurug yang di pinggir jalan utama juga salah besar. Macetnya bukan main.

Wisata Kuliner

Di sekitar pusat kota, jajanan banyak di sini. Inilah salah satu yang membuat saya betah di Sukabumi. Pemandangan sekitar pusat kota, banyak sekali kaki lima yang menjual berbagai makanan yang saya suka. Mulai dari pempek, batagor, mie ayam, martabak, dan segala macam.

Mimpi saya, yang sampai saat ini belum tercapai, mencoba semua makanan di sepanjang jalan menuju pusat kota dalam satu hari. Tapi ini susah, secara saya lagi diet. :p

Penduduk Sukabumi

Saya harus mengakui kalau penduduk Sukabumi sudah agak ke-kota-kota-an. Sebagian besar orang muda gayanya lebih kentara. Pengangguran bisa dibilang cukup banyak. Tingkat kedisiplinan di jalan sama seperti orang-orang di Jakarta.

Yang membuat saya tetap bangga adalah penggunaan bahasa daerah yang masih jadi ciri khas. Tidak seperti di Bandung, dimana bahasa Indonesia lebih dominan dibandingkan bahasa daerah.

Kesimpulan:

Keramahan penduduk: 7/10
Transportasi (dalam kota)
: 6,5/10
Transportasi (ke luar kota)
: 4/10
Aksesibilitas
: 6/10
Nyaman dan aman: 7/10
Cuaca: 7,5/10

3 thoughts on “Sukabumi 2 – Jalan-jalan 2009”

Comments are closed.