November 5th, 2009

jakarta-sukabumi

Seingat saya, dulu saya sempat beberapa kali ke Sukabumi. Dalam ingatan, beberapa itu adalah Villa tempat dimana ayah saya bekerja, dan Salabintana. Oh, hanya 2 kali ternyata. Itupun waktu saya masih SD.

Jika disebut beberapa kata yang mewakili Sukabumi dulu adalah, Dingin, Sejuk, dan Udara bersih.

Sudah tak ada yang begitu istimewa sekarang di Sukabumi, ketiga kata yang menggambarkan nama Sukabumi yang dulu menclok di otak saya hilang tak berbekas. Cuma tinggal air yang dingin di pagi hari. Selain air yang dingin, ada satu lagi yang sangat menganggu saya. Transportasi.

Terlihat sekali bagaimana pemerintah daerah di Sukabumi, Bogor dan Jakarta berjalan sendiri-sendiri. Membiarkan masyarakatnya kreatif untuk menciptakan alat transportasi sendiri. Alhasil, sangat tidak teratur.

Cuma ada 2 cara yang bisa anda tempuh jika ingin pergi ke Sukabumi. Kereta api, dan transportasi darat. Itupun, pilihan pertama hanya ada dari Bogor. Selebihnya, jalan darat. Kereta api hanya ada di pagi hari sekali dan sore hari sekali. Maksudnya, subuh dan maghrib. Persis waktu sholat. Itupun cuma Bogor – Sukabumi.

Jalan darat Jakarta – Sukabumi

Cuma bis pilihan anda. Dari Jakarta (Jakarta Pusat), akan ada 2 pilihan bis. Menuju langsung Sukabumi, atau transit ke Bogor dulu. Pilihan-pilihan tersebut tentunya menimbulkan konsekuensi. Ada yang positif, walau banyak juga yang negatif.

Jakarta – Bogor – Sukabumi

Beruntung, ada bis AC dari Jakarta Pusat (Depan Gedung Djarum – kenek bisa biasa menyebutnya Pengadilan). Buat saya, naik bis di Jakarta tanpa AC itu kriminal. Kecuali jarak dekat. Bis inilah yang membuat “perasaan” saya jarak Jakarta – Bogor itu cukup dekat. Ber-ac, jalan tol, cepat, dan sampai. Kira-kira jarak tempuh bisa memakan waktu 40 menit (tidak termasuk waktu tunggu bis hingga jalan)

Dari Bogor, ada 2 pilihan buat anda. Naik bis kecil (mirip dengan metromini) atau naik kol (angkot versi besar). Bis kecil tentunya tak ada AC. Dapet bonus pengamen yang kalau tidak anda kasih receh, bisa-bisa kacau urusan.

Pilihan kedua, naik kol. Sama tidak nyamannya dengan naik bis kecil. Tapi gak dapet bonus pengamen. Kalau anda sedang tak beruntung, bisa jadi teman sebangku anda disamping mabok darat. Hehehe. Ditambah, kewarasan sang supir yang perlu ditanyakan. Keunggulan naik kol itu cepat. Gancang kata orang Sunda. Waktu tempuh bisa 2 – 3 jam, tergantung keadaan jalan.

Total jendral: 3 – 4 jam.

Jakarta – Sukabumi

Jangan pernah mencari bis AC untuk trayek Jakarta – Sukabumi. Siap-siaplah kecewa. Juga jangan lupa uang receh 500 rupiah 20 keping. Karena menurut perhitungan kasar saya, akan ada sekitar 10 – 15 pengamen yang akan anda temui selama dalam perjalanan.

Waktu tempuh bis ini luar biasa. Pernahkan anda berfikir naik angkot itu lama, muter-muter, dan sering berhenti mengambil penumpang? bayangkan lebih buruk dari itu. Menurut perhitungan kasar saya, waktu minimal yang anda butuhkan bisa 4,5 jam. Total jendral bisa jadi 1/4 hari, yaitu 6 jam!

Bayangkan, anda cuma bisa duduk di dalam bis selama itu. Waktu segitu sebenarnya sudah bisa bikin aplikasi web sederhana, atau desain beberapa halaman web. Tapi jangan pernah lakukan di dalam bis. Sama saja anda mengundang orang-orang jahat menjadi lebih jahat di mata anda.

Hmmph… Ternyata, cerita transportasi saja bisa sepanjang ini.

Saya sebenarnya hanya ingin pemerintah daerah Jakarta, Bogor dan Sukabumi lebih fokus ke transportasi publik. Ada banyak jam yang terbuang percuma di sini. Ditambah, ada banyak pungli yang ada di sekitar jalan raya Ciawi. Kasihan itu para supir angkot, supir kol, dan supir bis.

Akan lebih baik jika jalan dari Sukabumi ke Bogor, dan Sukabumi ke Jakarta dipisahkan. Buat jalan baru lagi. Saya lihat tata kota juga berantakan. Menaruh pasar tradisional dan terminal Cibadak di pinggir jalan utama dan jalan kecil adalah kesalahan sangat fatal.

eh, kayaknya percuma berharap.

Related posts:

  1. Sukabumi 2 – Jalan-jalan 2009 Setelah membahas masalah transportasi, saatnya cerita tentang keadaan kota Sukabumi....
  2. Jalan-jalan 2009 – part 1 Rasanya saya tak sabar lagi untuk segera mengemas barang-barang yang...
  3. Pesta Blogger 2009 Akhirnya, setelah 2 tahun cuma bisa ngeces melihat teman-teman blogger...
  4. Golput 2009 Dengan tak ada rasa menyesal, inilah pertama kalinya dari akan...
  5. Jakarta, sekarang. Total sudah 2 hari saya di Jakarta. Jadi pantas kalau...

Label:, , , , , , ,



Kategori:blog, general, indonesia, jalanjalan2009, opinion



5 Responses

  1. zam says:

    ada anekdot begini: Indonesia itu adalah lokasi backpacking utk para backpacker level advance. sistem transportasi dan akomodasinya semrawut.

    jalur kereta Bogor-Sukabumi itu juga dibuka baru-baru ini. sebelumnya sempat ditutup. jalur ini dibuka juga karena ada sedikit nuansa nostalgia. konon jalur ini termasuk jalur kereta tertua yg dibangun Belanda setelah jalur Batavia-Buitenzorg (Bogor).

    kalo wiken, waktu tempuh bisa lebih ngeselin. macet di jalur menuju Puncak (Ciawi), bisa makin menambah gila.

    saya pernah ke sana (pas mau ke Ujung Genteng), sampe Sukabumi tengah malam. angkot udah habis, dan kami mengandalkan ojek. untung Elf (mobil colt diesel) masih ada, dan itu satu-satunya angkutan terakhir… :D

    welcome to Indonesia, dangerously beautiful! :D

  2. az&fa says:

    sukabumi kalo seingetku (tahun 1995)
    -dari terminal kota untuk sampai rumah temenku.. harus naik elf 2 jam muter2..
    + naik ojek.. yang nyebrangin 5 sungai.. harus turun ojek kalo pas lewat jalan licin..
    + sampai dirumahnya… ternyata belum ada listrik… + mandi dikali….
    - skr masih ada gak daerah yang belum masuk listrik yah???

    wah udah mulai rajin posting nih…

  3. Didats Triadi says:

    @zam: hahaha… nah, saya tadi rencananya mau ke ujung genteng gak jadi. liburan kemaren baru maen di darat aja.

    @bang aziz: beneran tuh tahun 95 kaya gitu? huehehe…

  4. didut says:

    @zam: tp katanya indonesia msh jauh lbh mending drpd mesir loh :) dan bbrp ngr yg lbh ekstrim

  5. [...] membahas masalah transportasi, saatnya cerita tentang keadaan kota [...]