Sulitnya untuk tidak melanggar peraturan lalu-lintas di Jakarta

Jakarta, yang katanya adalah kota besar kini semakin menjadi besar. Kemacetan terjadi di setiap ruas jalan. Pagi hari dan sore hari di hari kerja adalah waktu-waktu yang sulit untuk dihindari dari kemacetan. Setiap orang rasanya maklum dengan keadaan ini.

Nah pengalamanku selama tinggal di Jakarta dalam beberapa minggu ini mendapati hal-hal yang sepertinya sulit untuk dihindari untuk tidak melanggar.

Memakai Helm

Pada suatu pagi aku mengantar ayahku untuk pergi ke kantor. Jarak dari rumah ke kantornya mungkin kurang dari 10 km. Tapi masalahnya, harus melewati jalan besar Let. Jend Suprapto di daerah Cempaka Putih.

“Kamu mau pakai motor kan nanti? ayo kamu anterin bapak ke kantor” begitu katanya.
“Loh, bapak gak pake helm?” tanyaku
“Gak usah ah, lagian deket kok. Cuma nyebrang doang” jawabnya santai
“Tapi kan nyebrangnya nyebrang ke jalan besar” tanyaku lagi
“Halah, gak usah deh. Repot banget sih” jawabnya.
“Kan penting buat keselamatan” begitu kataku.
“Mau nganterin gak?” tanyanya seperti malas menjawab pertanyaanku
“Iya deh… ” jawabku dengan kebingungan

Budaya menggunakan helm ternyata hanya terjadi jika perjalanan jauh. Untuk sekedar pergi ke pasar, atau bahkan pergi ke rumah teman yang hanya beberapa komplek, jangan harap helm melekat di kepala. Padahal, helm dipakai untuk melindungi kepala, bukan karena takut kena tilang polisi bukan?

Kenapa? heran? lihat saja orang Bali. Di Mall saja masih tetap menggunakan helm…
*ngumpet*

Dilarang memutar

Juga pada suatu hari, sebagai pengangguran aku ditugaskan untuk mengantarkan ibuku ke suatu tempat.

“Anter emakmu ke belakang Arion di Rawamangun yuk” ajaknya.
“Tapi pake helm kan?” tanyaku.
“Ya iya laaah” jawabnya.

Oke. Jarak antara Arion Rawamangun dengan rumahku di Sumur Batu memang agak jauh. Lagipula melewati jalan besar. Sesampainya di daerah Arion, Ia menunjuk suatu tempat yang berada di seberang jalan.

“Kamu mutar di jalan itu aja” katanya sambil menunjukkan jalan
“Loh, itu kan ada tanda gak boleh muter?” tanyaku kebingungan
“Ah, biarin aja. Jauh kalau musti ke sana lagi. Lagian kamu gak sendiri kok. Itu banyak yang muter kok” jawabnya santai.

Sesuatu yang dilakukan bersama-sama rasanya lebih nyaman. Walaupun itu salah. Bukan tidak mungkin, nanti suatu saat jalur busway adalah jalan yang juga dilalui sepeda motor dengan beramai-ramai. Mungkin saja bukan?

Melewati garis lampu lalu lintas

Masih ingat GDN (Gerakan Disiplin Nasional)? Saat GDN digalakkan, maka jalan protokol dijadikan tempat uji coba. Di tiap lalu lintas, ada orang yang ditugaskan untuk membawa plang dengan tulisan “Berhenti di belakang garis” ketika lampu merah menyala. Sampai sekarang mungkin masih berbekas, tapi HANYA di jalan protokol saja. Selain itu? jangan harap!

Pengalamanku, ketika lampu lalu lintas berwarna merah, seperti biasa, aku tetap berada di belakang garis. Tapi mobil yang berada di belakangku tetap saja mengklakson agar aku lebih maju lagi. Tapi tetap saja aku tidak bergeming. Kalau lawan kita mobil pribadi mungkin menjadi agak mudah.

Yang sulit adalah, ketika ternyata aku menutup jalan untuk motor lain yang ingin berada di garis depan (letaknya sekitar 3 sampai 5 meter dari garis lalu lintas), maka tak ayal anda akan dimaki-maki! Makian kebun binatang bisa saja muncul… hihihi… :D

Itulah sekelumit cerita dari pengalamanku berkendara dengan sepeda motor. Sebenarnya, dari sejak mulai naik motor dulu, aku sudah mengetahui bagaimana sulitnya. Tapi akhir-akhir ini kok menjadi lebih sulit ya. Untuk pengalaman bermobil di Jakarta, aku tidak punya pengalaman sama sekali. Secara nggak punya mobil gitu loh…

Solusi?

Jika menengok iklan dari sebuah produk rokok yang gencar menyindir itu, maka mungkin itulah SATU-SATUnya cara. Polisi harus tegas, dan berjaga di seluruh lampu merah yang ada di Jakarta. Terapi takut kena tilang sepertinya akan berhasil. Atau, beberapa polisi berjaga dengan berpura-pura sebagai pohon seperti yang divisualisasikan oleh iklan tersebut.

Dan khusus untuk yang melewati garis rasanya sudah agak sulit. Karena walaupun polisi berada di dekat tempat tersebut, mereka hanya diam saja. Serba salah memang menjadi polisi, menilang orang-orang yang berada di depan garis lalu lintas bisa jadi disangka cari duit, tapi jika tidak, maka kebiasaan ini bisa menular kemana-mana!

The last words is, Welcome to Jakarta!

55 thoughts on “Sulitnya untuk tidak melanggar peraturan lalu-lintas di Jakarta”

  1. Nomorku jauh banget.. 51 ‘tipikalblogartis’ Tapi jujur aku mo cerita waktu aku ke jakarta.. Sewaktu berhenti karena lampu merah.. tiba-tiba ada mobil polisi dari belakang maen terobos -melanggar- padahal nggak ada yang diuber. Di Jakarta.. polisi boleh seperti itu ya dats?

  2. emang orang Indonesia gak bisa disiplin :)

    jakarta kota yang ‘ndeso’* semrawut, full polusi, cuma nempelin helm di kepala aja males. :D

    *ndeso, bahasa jawa artinya desa

  3. Masih berusaha tertib …
    Masih berusaha tertib …
    Masih berusaha tertib …

    Biar bisa mengumpat pengguna jalan lain yang nggak tertib .. Huahahaha

Comments are closed.