May 11th, 2008
Wiken kemarin saya dan istri akhirnya bisa nonton film sejarah Cina, The Children of Huangshi. Sebuah film kolosal yang bercerita tentang kepahlawanan seorang bule Inggris kepada rakyat Cina ketika Jepang menginvasi mereka pada tahun 1931.
Cerita dari film ini adalah kisah nyata seorang George Hogg yang sebelumnya sudah terlebih dahulu ditulis di buku.
Film ini bercerita bagaimana George Hogg datang ke Cina pada tahun 1937 dimana saat itu Jepang menguasai Cina dan membantai ribuan rakyat Cina. George Hogg juga seorang saksi dimana ia melihat ribuan orang Cina ditembaki dan dibakar tentara Jepang.
Peran penting seorang George Hogg adalah ia menjadi orang yang bisa membuat sukses sebuah tempat penampungan yang menyimpan banyak anak-anak yatim piatu. Dimana ketika ia datang, anak-anak disana adalah anak yang kotor dan kelaparan.
Kemudian ia memulai perannya dengan mengajari anak-anak aktif untuk menghidupi diri sendiri yaitu dengan berkebun. Ia juga mengenalkan olahraga basket kepada anak-anak. Dengan begitu, tempat penampungan menjadi tempat yang bersih dan anak-anaknya tidak lagi kelaparan.
Dan George Hogg meninggal tahun 1945 karena terkena tetanus.
Di akhir film, beberapa anak-anak yang berada dipenampungan dan yang masih hidup sampai sekarang memberi kesaksian tentang George Hogg.
Judul: The Children of Huangshi
Pemeran:
- Jonathan Rhys Meyers (George Hogg)
- Radha Mitchell
- Chow Yun-Fat
- Michelle Yeoh
Rating: 8.5/10
Yang saya pikirkan sampai sekarang, kenapa Indonesia belum bisa bikin film sejarah ya? Apa yang sudah ada sampai sekarang? G30SPKI?
Eleuh… eleuh…
16 Responses
P.E.R.T.A.M.A.X
DVDnya besok dibawa ke kantor atuh.
~mauMinjem
ada!
nagabonar :D
** kabur **
ada kan mas ? .. pilem Fatahillah , itu kan sejarah, yang pemeran utama Igo Ilham
:p
oh iya sih,
tapi sekrang sekarang ini?
palingan juga cerita cinta sama komedi dewasa yang ga jelas juntrungannya.
Di Indonesia dah ada belu ya ? pinjam DVDnya juga dong. Nonton naga bonar lagi neh..
sejarah kita memang banyak yang buram dan abu-abu…
jadi kalo dipilemin gak jelas kahn… lebih jelasan biru.. (blue) f… kali
wah….
setelah lama banget ditunggu tulisan barunya eh sekarang gw dah ketinggalan 3 post…
kenapa nih,koq gk teratur sih posting blognya…
senangnya mas didats sudah menulis lagi.
salam hangat dari sini
Trims.
boleh jg nih film
#8 itu gara-gara cache. coba liat tanggal-tanggalnya deh.
gak laku mas kalo bikin pilem gitu di indo :P
masyarakatnya demennya cinta2an ama horor doang.
Kemarin mau pinjam itu, tapi ndak jadi soalnya ada IRONMAN
setau saya film sejarah itu macam pitung sm nagabonar. Eh, ada lagi judulny “May” ttg tragedi mei 98, mas didats. Yg terakhir judul film baru.
@ Bluedee:
Pitung tuh masih kontroversial apakah fiksi atau bener ada
nagabonar jelas tokoh fiksi
jadi ke-2 fil tersebut gak bisa disebut film sejarah.
kalo:
Gie
Walisongo
bisalah kita sebut film sejarah
Saya juga sudah nonton film itu. Buat saya film itu bagus banget… Btw, mas barangkali tau dimana saya bisa mendapatkan buku / novel cerita aslinya? Terima kasih banyaaaakkk…
Film dengan ide yang lumayan, tetapi dengan akting dan alur yang tak bagus. Lagipula film ini sebenarnya “highly fictionalized screen dramatization” atas kisah hidup Hogg di Cina, antara 1937 sampai meninggalnya tahun 1945. Dalam buku Hogg yang sebenarnya, sekolah tersebut merupakan jaringan CIC (Chinese Industrial Cooperative), organisasi yang dikelola janda Dr Sun Yat Sen, wanita berpengaruh Madame Soong Ching Ling. Organisasi ini mengumpulkan dana asing, terutama dari pada simpatisan Cina, seperti Ibu Negara AS, Nyonya Roosevelt dan jutawan pemiliki Time corporation, Henry B Luce. Untuk sekolah di Suangshi (sebenarnya bukan Huang Shi, tetapi Suangshi), pengurusnya sebenarnya adalah Mr. Rewi Alley, seorang Selandia Baru. Jadi, itu sebenarnya sekolah, bukan panti asuhan. Malahan, bukan anak yatim yang ada di sana, melainkan dari anak-anak kelas menengah yang karena kondisi politik tak menentu, jadi susah beradaptasi. Ada juga indikasi Rewi Alley tersebut seorang homoseksual pedofil yang menyalahgunakan anak-anak itu. Kemungkinan itu sebabnya sekolah tersebut ditinggalkan karena para pengurus hariannya muak dengan perilaku Rewi Alley. Semua itu ada di buku Hogg, namun tidak ditampilkan di film ini. Hogg ditampilkan sebagai heroic single player di “panti asuhan” itu. Apakah Chen yang militer dan dokter perempuan itu benar-benar ada, entah juga.
Film ini dibumbui dengan adegan-adengan yang Hollywood banget, seperti momen-momen kritis yang tiba-tiba saja “saved by the bell”. Tepat ketika leher Hogg bakal putus oleh ayunan samurai, mendadak si algojo ditembak mati oleh Chen, seorang perwira komunis yang muncul bersama teman-temannya dari balik puing-puing, menghabisi para eksekutor Jepang, dan menyelamatkan Hogg. Peran perwira komunis
yang baik dan manis ini wajar mengingat film dibuat di dan tentang Cina. Jadi harus baik-baik lah sama pemerintah komunis Cina. Karena itu yang ditampilkan adalah keburukan pesaing mereka : kaum nasionalis Kuomintang. Diperlihatkan bagaimana mereka menaikkan para prajuritnya berjejalan ke dalam gerbong barang, dan ketika terjadi serangan dari pesawat Jepang, semua pada lari dengan membiarkan prajurit-prajurit itu tersekap di dalam gerbong. Si Chen yang komunis ini kemudian yang membebaskan mereka. Terlepas dari semua itu, bagi orang Suangshi, Hogg dikenang dan dihormati karena pengorbanannya yang memang nyata di masa itu. Ada tugu untuk dirinya di kota itu. Lagipula, saksi-saksi hidup masih ada hingga kini dan bisa bercerita.
Belakangan memang banyak film yang didasarkan atas true story, bahkan peristiwa besar dalam sejarah, namun dengan dramatisasi dan bumbu yang sedemikian, sehingga antara fakta dan fiksi jadi campur aduk. Apakah film seperti ini bisa dibilang film sejarah? Tentu tidak. Dengan setting sejarah mungkin iya. Film THE GREAT DEBATERS, misalnya, adalah contoh lain. Tokoh Melvin B Tolson (diperankan Denzel Washington) memang nyata dan memang memimpin tim debat sekolah hitam Wiley College. Demikian juga salah satu personil tim debat itu, James L Farmer, Jr, memang nyata dan salah seorang dari empat besar tokoh pergerakan kulit hitam Amerika. Namun tokoh lainnya fiksi dan Wiley College tidak pernah debat melawan Harvard seperti dalam film itu. Jadi setelah melihat film yang menyatakan “based on a true story”, sebaiknya segera cari referensi. Mana yang fakta, dan mana yang fiksi, di film tersebut.
Komentar kritis tentang Children of Huangshi bisa dilihat di http://therunagatesclub.blogspot.com/2008_06_01_archive.html.