August 13th, 2007

Tukang Sampah

Inilah wajah tukang sampah di Kuwait. Mereka pasti menggunakan pakaian seragam berwarna kuning. Tugasnya adalah membersihkan tempat-tempat umum dari sampah. Jumlahnya? mungkin ratusan bahkan mungkin ribuan.

Rata-rata dari mereka berasal dari Bangladesh. Sisanya mungkin dari Nepal. Walau cuma tukang sampah, aku menaruh simpatik ke mereka. Entah karena jenggotku ini, tiap yang melihatku pasti mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” yang tentu saja aku jawab disertai senyum. Hal lain, mereka sangat gigih dalam bekerja. Satu ruas jalanan bisa mereka bersihkan seorang diri.

Gaji yang mereka dapat secara resmi mungkin sekitar 60 KD (2 juta rupiah) sampai dengan 80 KD (2,5 juta rupiah). Selain dari gaji, mereka biasanya juga mendapatkan uang dari para Kuwaiti-kuwaiti baik hati. Mereka biasanya bolak-balik di lampu merah berpura-pura membersihkan jalanan, sambil menunggu orang baik hati memberikan sedekah. Berpura-pura? sepertinya begitu. Terlihat dari mata mereka yang lebih banyak melirik ke arah mobil. Di Kuwait sangat dilarang adanya pengemis. Kalau ada, akan ditangkap dan dipulangkan.

Tidak tanggung-tanggung, mereka bisa mendapatkan total pendapatan sampai dengan 200 KD (6 juta rupiah) dari sedekah tiap bulannya. Sangat jauh melebihi apa yang mereka dapatkan dari pemerintah Kuwait.

Mau jadi tukang sampah di sini? lebih baik jangan. Uang gaji yang 2 juta rupiah memang terlihat cukup besar di Indonesia. Tapi lihat juga bagaimana mereka hidup. Makanan yang mereka makan setiap hari rata-rata hanya Khobus.

Photo dijepret oleh mba Raida.

Daftar Projek30 sebelum tulisan ini dipublish:

1. Hari pertama: Pohon Kurma
2. Hari kedua: The dangerous streets are in Kuwait
3. Hari ketiga: Makan siang roti shalaweet
4. Hari keempat: Pasar Mubarokiyah, Blok M versi Kuwait
5. Hari kelima: Mesin penghasil pulsa telepon
6. Hari keenam: Beli parfum merek terkenal
7. Hari ketujuh: Maliya, Kuwait City yang sangat Asia tenggara
8. Hari kedelapan: Dishdasha, baju arab yang punya nilai lebih
9. Hari kesembilan: Makan siang hari ini: Kebab dan Khobus
10. Hari kesepuluh: Tinggal bareng demi kata hemat
11. Hari kesebelas: Jam kerja yang aneh
12. Hari keduabelas: Kirim uang ke Indonesia
13. Hari ketigabelas: Liberation Tower tertinggi di Kuwait
14. Hari keempatbelas: Krisis energi di Kuwait

Related posts:

  1. Menjadi warga negara terpinggirkan Saya tahu ini jaman modern. Tapi tak menutup kemungkinan rasis...
  2. Di Kuwait, 17 Agustus itu Hari Anak Nasional Hihihi… :P *ngumpet dari kejaran panitia* Daftar Projek30 sebelum tulisan...
  3. Peminta-minta di Kuwait Memang tidak masuk akal kalau negara yang punya kekayaan luar...
  4. Potret Stasiun Bus di Kuwait Wajah stasiun bus yang punya citra buruk di sebagian pikiranku...
  5. Denda 50 dinar bagi yang tidak menghormati orang puasa Selamat datang di negara arab. Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari...



Kategori:blog, kuwait



18 Responses

  1. Anang says:

    waa 2 juta itu gaji PNS golongan 4

  2. aKu says:

    andaikan di endonesah juga gitu.

    btw, sory kita2 lg ngrasani oM didats di blog aLe ^_^

  3. hielmy says:

    gaji 2 juta tapi kalo biaya hidup mahal ya sama ajah…

  4. didats says:

    #1 huehehehe…
    itulah kenapa mereka rela bekerja seperti itu di negara orang. sebulan sekali mereka kirim uang ke negaranya. sedangkan dia hidup sehemat-hematnya. saat sudah tua, mereka pulang menikmati hasil kerja mereka.

    #2 ngrasani iku opo to?

    #3 embeeeer….. gaji segitu terhitung kecil di sini. sangat kecil.

  5. adjiee'Duren says:

    emangnya oM didats gag tertarik geto???. bekal pemasukan sampingan tuh…khan lumayan…:))

  6. rd Limosin says:

    berarti mata uang indo memang parah ya

  7. sama ya dengan di indonesia, bajunya kuning. eh, di sini oranye ya?

  8. dental says:

    gw mau jadi tukang spam ajah

  9. ayahshiva says:

    kalo di indonesia cuma 200rb perbulan

  10. Hedi says:

    kalo jadi bosnya tukang sampah, layak ga gajinya Dats?

  11. irwansyah says:

    Ternyata “Makanan” mat Bangla (gelaran bagi warga Bangladesh yang bekerja di Malaysia) jauh lebih baik berbanding di Malaysia sendiri dats. Percaya atau tidak, inilah pertama kali saya melihat bagaimana seorang yang bergelar manusia sanggup makan nasi ama garam agar dapat membawa wang pulang ke kampung semaksima mungkin. Terkadang terasa pilu bagaimana mereka sanggup hidup dalam keadaan yang sedemikian. Tidakkah mereka terfikir, paling tidak mereka sadar bahwa makanan juga merupakan agen penting untuk melestarikan kehidupan yang sementara ini. Selain Bangla bangsa apa lagi yang bekerja sebagai cleaner dats disana?

  12. bodhi says:

    hmm, gimana kalo magang seminggu aja, sambil bawa perbekalan dari indo gitu.. hehe.

  13. didats says:

    #10 bosnya mah kuwaiti. gajinya? jangan ditanya… para kuwaiti yang kerja punya gaji minimal 600 dinar (18 juta lebih)

    #11 loh, para banggali di sini juga gitu bang. mereka cuma makan kobus doang tiap hari. kobusnya doang loh, rotinya doang itu…

    #12 mau?

  14. didi says:

    **nunggu cerita kehidupan malam

  15. saylow says:

    Dasar Jenggot Tukang Sampah!

  16. Agam says:

    Rata-rata dari mereka berasal dari Bangladesh. Sisanya mungkin dari Nepal.

    Dari Indoensia gak ada? :))
    hehehe..

  17. saylow says:

    Dasar Jenggot Tukang Sampah!

  18. Indra Diky says:

    #14 sama nih nunggu cerita yang gitu aja. Di sana ada tempat dugem gak yah? Heuheuheu. penasaran aja ada ato gak.