Sepeda

Review Polygon Gili Velo setelah sebulan pemakaian

Kalau review hanya boleh satu kata, maka saya berani menulis: Menyenangkan! ๐Ÿ˜. Dan kalau harus lebih dari satu paragraf, maka mulailah membaca lebih banyak lagi.

Sampai dengan tulisan ini ditulis, saya sudah menggunakan Gili Velo sejauh 800 km lebih. Naik dari kota Malang ke Batu, Cangar, Selecta dan terakhir Pujon sudah saya jalani semua. Dan memang sangat menyenangkan! Tidak berlebihan kalau ebike adalah masa depan.

Kebanyakan salah kaprah orang-orang yang tidak tahu soal ebike adalah, naik ebike gak kerasa olahraga. Ini paling banyak saya dengar. Dan kalimat kedua yang cukup populer, mending beli motor!. Padahal, mereka hanya tidak tahu dan mencoba sok tau. Karena faktanya, tidak seperti itu. Kecuali untuk harga yang lebih baik beli motor, itu tergantung selera.

Ebike gak kerasa olahraga!

Dulu sebelum punya Gili Velo, saya juga punya pikiran seperti ini. Niat beli Gili Velo dikarenakan saya gak suka naik motor, dan berharap bisa jalan-jalan di kota Malang seperti ketemu teman, ngopi, atau sekadar makan di restoran naik sepeda dan gak pake keringetan. Itu saja niatnya.

Ternyata, Gili Velo juga bisa jadi alat berolahraga seperti sepeda biasa pada umumnya. Faktor kecepatan maksimum yang dibatasi adalah kunci. Karena dengan batasan seperti itu, Anda bisa dibuat berolahraga. Ketika batasan kecepatan sudah maksimum, maka bantuan dari motor listriknya akan dihentikan, dan seterusnya kekuatan jantung dan kaki Anda yang menentukan.

Jadi, mau gowes santai atau olahraga? Kalau santai, Anda bisa gowes dengan santai dan tetap mendapatkan kecepatan yang Anda harapkan. Dan kalau mau olahraga, paculah kecepatan sepeda melebihi 25km/jam. Anda akan merasakan olahraga dan sekaligus senang terutama ketika membalap orang lain dan bilang “Monggo…”. saat di tanjakan ๐Ÿคญ.

Jadi pusat perhatian

Dulu awal-awal menggunakan sepeda lipat, orang-orang pasti melihat dengan tatapan “boleh juga sepedanya”. Tapi sejak banyak yang punya dan berkeliaran beragam jenis sepeda lipat, tatapan seperti itu sudah nyaris tidak ada.

Beda dengan Gili Velo. Bentuk rangka sepedanya yang nyeleneh, kecil, dan warna yang menarik, menjadi banyak yang menatap dan mungkin bergumam “Keren amat sepedanya”. Iya, ge-er. Tapi memang ganteng sih sepedanya.

Terlebih jika Anda membalap para pesepeda saat di tanjakan, dijamin mereka akan keheranan dan menengok sepeda yang Anda gunakan. Kalau yang tahu itu ebike, mungkin dalam hatinya bergumam: “Curang, pake ebike!”. Tapi bagi yang tidak tahu, “Buset, gak punya udel nih orang”.

Digunakan untuk apa Gili Velo?

Selama sebulan menggunakan Gili Velo, saya menggunakannya hampir setiap hari. Sehari-hari, saya gunakan untuk ke masjid, beli kopi kekinian, nyari sarapan, dan ke Indomaret.

Saya adalah pengguna sepeda balap (Road Bike), jadi suka selang-seling tiap harinya. Terutama kalau lagi hujan atau setelah hujan, saya agak ngeri kalau pakai sepeda balap. Jalanan turun yang gak umum dan bergelombang akan sangat menyulitkan pengguna sepeda balap. Jadilah Gili Velo yang saya bawa untuk nanjak.

Selain untuk saya sendiri, kini istri juga hanya mau menggunakan Gili Velo. Bangganya bukan main ketika sampai di Batu untuk pertama kali. Walaupun pakai Gili Velo, dia juga sempat istirahat di jalan sampai 3 kali. Itu juga yang saya alami waktu pertama kali nanjak, tapi sepedanya RB. ๐Ÿคญ

Jadi, sampai saat ini, saya puas sekali menggunakan Gili Velo untuk berbagai keperluan. Saya ada motor di rumah, tapi hampir tidak pernah digunakan sejak ada Gili Velo. Kemana-mana jadi lebih enak naik sepeda. Paling tidak, kita tidak ikut andil menjadi manusia yang membuat bumi lebih panas.

Apa gak enaknya Gili Velo?

Karena biasanya yang mau beli gak mau dikasih lihat bagus-bagusnya, maka berikut ini beberapa hal yang saya kurang sreg.

  1. Ban bawaan terasa berat. Saya mau ganti ke yang lebih enteng, tapi nanti saja setelah sudah pakai lama.
  2. Waktu charger yang 4 jam. Karena nanggung sekali. Kalau mau digunakan besok paginya, saya harus sudah mulai mengisinya maghrib, dan copot ketika mau tidur di jam 10
  3. Terus terang, baterai kurang banyak. Tapi kalau dibuat lebih banyak, mungkin posisi baterai bukan berada di bawah rangka sepeda. Jadi ini gak apa-apa deh.

Sudah? iya. Karena memang sepedanya menyenangkan sekali! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

2 thoughts on “Review Polygon Gili Velo setelah sebulan pemakaian

  1. Ban nya udah berat, soft compound lagi, td pagi kena beling bocor ban belakang, bawa ban dalam cadangan ndak bisa pasang d jalan karna hub belakang ndak quick release, ketemu kang tambal ndak berani nambal vulkanisir karena ban dalem nya tipis, ndak kuat dipanaskan, untung bawa patch kit cap jempol, akhirnya nambah sendiri beli angin ke kang tambalnya.. Kayaknya perlu ganti ban luar yang medium/hard compound biar gak terlalu gampang bocor
    Btw iso udah 500km lebih..

    1. Betul sekali, memang ban-nya kurang bagus. Termasuk ban dalam. Di grup diskusi Polygon Gili Velo di Facebook bahkan sudah ada 4 orang yang laporan bannya pecah karena terlalu kencang.

      Ketebalan ban luar yang sampai 2 inchi juga bikin lebih berat. Setelah 1000km mau saya ganti aja kalo gitu, daripada-daripada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.