Sepeda

Polygon Zeta 2, setelah satu hari

Polygon Zeta 2 saat tulisan ini ditulis seharusnya sudah ada di jaringan Rodalink seluruh Indonesia. Tapi saya tidak beli langsung di toko Rodalink melainkan dari situs Rodalink.com seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Karena saat itu setelah tanya-tanya Rodalink terdekat, mereka belum punya stoknya. Padahal besoknya setelah saya pesan daring, di toko langsung tersedia. Nasib.

Proses pembelian

Saya membayar pesanan di hari Jumat, tanggal 8 Januari 2021. Kemudian di hari Selasa, tanggal 12 Januari 2021 status pesanan saya berubah menjadi terkirim dari Surabaya. Dan akhirnya tanggal 15 Januari 2021 sampai di rumah.

Yang jadi masalah adalah, pihak Rodalink membayar uang pengiriman ke pihak JNE sebesar 105 ribu rupiah, sedangkan saya membayar sejumlah 328 ribu rupiah ke Rodalink. Saat saya tanyakan soal ini, mereka tidak memberikan alasan apapun, tapi hanya bertanya nomor rekening saya sehingga mereka bisa melakukan kembalian selisih pembayarannya. 🤦🏻‍♂️

Ban meleduk!

Karena dikirim dalam paket kardus, saya perlu memasang sendiri 2 komponen saja, yaitu stang dan roda depan. Tidak ada masalah berarti karena cuma tinggal putar baut saja. Selesai semua komponen terpasang, saya yang pemula ini memompa ban sampai dengan 70 psi di ban bagian belakang.

Duar! Ban dalam meleduk. Sangat kencang. Ternyata maksimum hanya sampai 60 psi saja.

Perlu diketahui, saya juga punya Polygon Gili Velo yang ban luar dan ban dalamnya sama dengan Polygon Zeta. Selama ini memompa ban Gili Velo lebih dari 60 psi tidak menjadi masalah. Jadi saya pikir harusnya sama 😁. Ternyata saya hanya beruntung saja.

Tapi memang, kualitas ban dalamnya tipis. Sehingga mau tidak mau saya pergi ke Rodalink untuk membeli ban dalam Schwalbe AV7 seharga 90 ribu rupiah. Langsung saya beli 3 buah untuk mengganti semua ban dalam di Polygon Zeta, dan 1 untuk jaga-jaga si Gili Velo.

Beda Gili Velo dan Polygon Zeta

Ada 2 perbedaan mencolok di bagian rangka sepeda diantara kedua sepeda ini. Pertama adalah tabung bagian depan (Head Tube) dan tabung bagian bawah (Down Tube). Ukuran Gili Velo di kedua tabung tersebut lebih besar sedangkan Polygon Zeta lebih ramping. Di bagian tabung bawah, Gili Velo punya beberapa siku dan cenderung lebih kotak. Polygon Zeta cenderung bundar, walaupun di bagian bawahnya cenderung bersiku.

Pada bagian Groupset, Gili Velo punya Claris dan Altus di bagian RD dan pemindah gigi (Shifter) dengan 8 percepatan. Polygon Zeta punya Tiagra di RD dan pemindah gigi (Shifter) dengan 10 percepatan. Di bagian crank, keduanya sama-sama punya Prowheel dengan 48T. Dari komponen groupset ini, terus terang, daya tarik Polygon Zeta juga terletak pada komponen Shimano Tiagra. Ini adalah groupset level menengah pada sepeda balap.

Berat keduanya sangat mencolok. Polygon Zeta di 12,8kg dan Gili Velo hampir 18kg. Jadi, dibanding Gili Velo, mengangkat ban belakang untuk posisi parkir, membuat Polygon Zeta sangat enteng. Ya seperti sepeda biasa pada umumnya. Tapi tentu kalah jika saat dorongan pertama setelah berhenti, Gili Velo menang telak. Dengkul lawan listrik 🤭.

Kesan Pertama

Tadinya hari ini, Sabtu, 16 Januari 2021, yaitu sehari setelah saya menerima sepeda, mau diajak nanjak ke Batu seperti saudara tuanya si Gili Velo. Tapi apa mau dikata, hujan tak berhenti sejak sebelum subuh sampai jam 9 pagi.

Jadi karena baru bisa keluar jam 9 pagi, akhirnya sepedaan cantik keliling kota Malang. Cuma 18km bersama istri yang pakai Gili Velo. Jalanan cenderung datar, sehingga belum terasa pol olahraganya. Dan belum saya gunakan secara maksimal. Karena walaupun istri pakai Gili Velo, tetap saja kecepatan rata-ratanya cuma antara 18-23km per jam.

Tapi ada beberapa hal mengganjal dari konfigurasi awal di sepeda ini. Mungkin beberapa hari ke depan akan saya bawa ke Rodalink untuk bantu konfigurasi ulang sekalian membawa Freehub Raze yang 36 lubang biar jangkrik bos. 😁.

Beberapa yang mengganjal adalah sebagai berikut:

  • Crank kurang maksimal. 48T untuk pengetasan jalur mendatar sangat terasa. Mau saya ganti ke 50 atau sekalian ke 52T
  • Rem cakramnya kurang pakem dibanding Gili Velo. Saya tebak ini perlu dikonfigurasi ulang saja. Karena merek dan modelnya sama dengan kepunyaan Gili Velo, Tektro M275

Dan sepertinya, sepeda ini akan saya jadikan semi sepeda balap. Rencananya beberapa komponen berikut akan saya ganti 😅. Tentunya mempertimbangkan keadaan dompet.

  • Stang akan saya ubah ke Dropbar. Statusnya masih nunggu barang dari AliExpress. Saya beli yang bahan karbon untuk menggantikan Strattos S3 saya, dan dropbar bawaan Strattos S3 akan dipindah ke Polygon Zeta
  • Ganti ban luar. Saya mau ganti ke yang lebarnya 1.5 inchi saja.
  • Ganti freehub biar jangkrik. Barang sedang dalam perjalanan 😅
  • Mau ganti Crankset ke 50T minimum atau 52T maksimum.
  • Agak ragu mau ganti pedal ke cleat, karena akan digunakan sehari-hari seperti cari sarapan, ke pasar, Indomaret, dan lain-lain. Mungkin butuh pedal cleat yang Quick Release 🤭
  • Mungkin perlu FD? Tidak terlalu butuh sih, tapi kalau nanti butuh bisa dipasang. Masalahnya, untuk pasang FD, kabel harus ditaruh di luar rangka sepeda. Jadi bisa mengurangi kegantengan sepedanya.

Tunggu saja, ketika kondisi cuaca mendingan dan tidak hujan, saya akan tulis pengalaman lain menggunakan sepeda ini setelah dibawa nanjak. Untuk sementara jika ada pertanyaan silahkan ditanya di bagian komentar di bawah.

2 thoughts on “Polygon Zeta 2, setelah satu hari

  1. Halo Om…. mohon di update ya Om klo sudah pake dropbar dan diupgrade2 lainnya…. penasaran juga bentuknya klo zeta2 dibikin semi balap…

Comments are closed.