Review Produk

Setelah divaksin Astra Zeneca

Awal bulan Juni 2021 di Malang mulai digiatkan vaksin untuk masyarakat yang berumur 18 tahun keatas. Saya yang sangat ingin divaksin mencari banyak informasi kesana kemari, dan akhirnya mendapatkan info untuk vaksin di hari Kamis, 10 Juni 2021 di klinik Universitas Brawijaya. Saya dan istri datang di pagi hari, dan sayang sekali, hari itu hanya punya jatah 40 dosis saja.

Tentu saja kami terlambat. Dengan cukup kecewa, akhirnya kami pulang dan berharap hari Selasa, 15 Juni 2021 bisa datang lagi dan mendapatkan jatah vaksin.

Sampai di rumah, sekitar beberapa jam kemudian, seorang teman memberitahu kalau ada klinik di sekitar rumah yang masih ada jatah vaksin terakhir karena orang yang sudah terdaftar batal menggunakannya dikarenakan tensi yang cukup tinggi.

Karena saya mau cerita apa saja yang terjadi setelah vaksin, maka perlu diketahui latar belakang saya dan istri terlebih dahulu. Saya aktif berolahraga 5 hari seminggu. 2 hari untuk berlari, minimal 10km di hari Selasa, dan lebih dari 10km di hari Rabu. Sedangkan hari Jumat, Sabtu dan Minggu saya bersepeda minimal 50km dari Malang ke Batu. Berbeda dengan istri, dia hanya bersepeda di hari Minggu, dan hari biasa jalan kaki sendiri sekitar 3-4 km.

Jika Anda bertanya, kenapa saya mau divaksin, baca tulisan saya yang lain dengan topik 3 alasan saya mau divaksin di sini.

Tepat sebelum vaksin

Sebelum divaksin, saya dicek tekanan darah dan ditanyakan beberapa pertanyaan terkait penyakit bawaan. Jika tekanan darah normal, dan jawaban saya tidak bermasalah, maka saya siap divaksin.

Tepat setelah vaksin

Setelah jarum selesai menusuk lengan kiri saya, dan dilepaskan, saya mencatat jam dan menit saya divaksin di sebuah kertas absensi. Kemudian baru bisa keluar dari klinik setelah 30 menit. Jadi setelah divaksin dan 30 menit kemudian, saya harus tetap berada di lingkungan klinik, jaga-jaga kalau ada apa-apa.

Dokternya juga merekomendasikan untuk meminum obat paracetamol setelah sampai rumah. Karena dari cerita teman-teman lain ada kemungkinan demam, maka saya juga beli paracetamol tambahan. Sekadar jaga-jaga kalau butuh.

Seharian setelah vaksin

Selama satu hari itu, saya tidak merasakan apa-apa. Semua tampak normal. Ada sedikit rasa nyeri di bagian disuntiknya.

Malam hari setelah vaksin

Istri saya mulai merasakan panas badan. Saya sedikit lebih hangat. Maka dari itu, kami minum paracetamol lagi sebelum tidur.

Hari pertama setelah vaksin

Bangun tidur, saya tidak merasakan apa-apa. Semua tampak normal, walaupun saya sedikit merasakan detak jantung terasa lebih cepat naik. Berbeda dengan istri saya, dia demam dan nyeri di kepala, walaupun masih dalam tahap wajar.

Siang harinya, saya merasakan hangat di badan. Setelah makan, minum lagi paracetamol. Setelah itu normal dan tidak terjadi apa-apa lagi sampai besok paginya. Tapi lagi lagi berbeda dengan istri saya. Dia demam tinggi, sampai saya kaget ketika menyentuh kulitnya.

Hari kedua setelah vaksin

Setelah bangun tidur, saya berencana untuk lari, tapi batal begitu mengetahui istri demam tinggi. Dia juga merasakan nyeri di sekujur badan dan sangat lemas. Beli sarapan, dan dia minum lagi paracetamol dan multi vitamin. Sedangkan saya sudah berhenti mengkonsumsi paracetamol karena memang sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

Di sore harinya, saya lari 7km. Niatnya 10km, tapi karena berangkat terlalu sore, maka jika dilanjutkan, saya bisa maghrib di jalan. Yang bikin kaget, detak jantung saya lebih tinggi dari biasanya.

Jika biasanya dengan kecepatan lari seperti gambar di atas, rata-rata detak jantung saya antara 145-150, setelah divaksin, rata-rata naik jadi 160! Sangat mencengangkan.

Dan di hari itupun saya perhatikan memang rata-rata detak jantung saya memang lebih tinggi.

Sementara itu, seharian di hari kedua ini, istri saya masih demam.

Hari ketiga setelah vaksin

Hari Minggu, berarti harinya saya bersepeda santai ke Pujon dari Malang. Dan memang, detak jantung masih saja terasa tinggi. Sedangkan istri saya, demamnya sudah turun dan badannya sudah tidak panas lagi. Tapi nyerinya masih terasa sedikit.

Selama bersepeda, tak ada halangan selain detak jantung yang naik lebih cepat dan turun lebih lambat. Maka itu saya terus memperhatikan detak jantung jangan sampai naik terlalu tinggi.

Hari keempat setelah vaksin

Semua mulai normal. Detak jantung juga sudah mulai turun. Sedangkan istri juga sudah normal. Hanya sedikit merasakan nyeri di kepala. Seharian tidak ada kejadian yang patut dicatat.

Hari kelima setelah vaksin

Saya mulai lari lagi, 12km di pagi hari. Sengaja lari panjang dengan kecepatan yang santai. Detak jantung sudah sedikit lebih normal walaupun belum normal-normal amat. Istri saya juga sudah normal, hanya sedikit terasa nyeri di bagian yang disuntik.

Kesimpulan

Setelah vaksin, memang terasa ada perubahan. Tapi setelah 4-5 hari semua menjadi normal lagi. Jika Anda pekerja, lebih baik disuntik di hari Jumat atau maksimal Kamis. Jadi tidak mengganggu waktu kerja Anda ketika demamnya menyerang.

Tips lain, beli beberapa obat paracetamol sekadar jaga-jaga kalau kena demam. Jika bisa, jangan olahraga berat di hari Anda divaksin.

Semoga Indonesia bebas Covid 19 wes. Biar bisa jalan-jalan lagi.

Gambar di atas diambil tanpa ijin dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210610164827-255-652793/efek-samping-setelah-menerima-vaksin-covid-19-astrazeneca

2 thoughts on “Setelah divaksin Astra Zeneca

    1. Tapi sudah vaksin om? Yang penting, sudahnya. Masalah mau beda hari atau gimana, itu kan urusan diri sendiri, karena situasinya beda-beda tiap orang.

Comments are closed.