Renungan

Tiga alasan kenapa saya mau divaksin?

Sudah lebih dari 1 tahun kita semua, penduduk bumi ini dihantui virus pandemi Covid 19. Dan ini sangat berpengaruh buat semua orang. Semua sektor kena pengaruh, termasuk saya, walaupun tidak terasa-terasa banget. Masih Alhamdulillah.

Dan mulai tahun 2021, beberapa vaksin sudah bisa didistribusikan kepada manusia. Saya sebagai orang awam dibidang kesehatan dan medis, hanya sekadar tahu kalau vaksin berisi virus yang sudah dilemahkan, atau bahkan dimatikan. Dengan begitu antibodi tubuh bisa mengenal jenis virus ini, dan sudah punya senjata untuk menanggulanginya di kemudian hari.

Tapi, tidak menutup kemungkinan ada banyak orang yang tidak mau divaksin dengan berbagai alasan. Saya tidak akan membahas apa saja alasan mereka tidak mau divaksin, karena saya bukan di sisi mereka dan tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya.

Dan berikut adalah alasan kenapa saya mau divaksin.

Vaksin adalah usaha saya untuk tidak kena virus

Saya beragama Islam, dan Nabi ﷺ saya pernah berkata yang intinya: “Tawakal itu tidak semata-mata menyerahkan segala urusan kepada Tuhanmu. Tapi usahakan dulu apa yang bisa dilakukan, baru menyerahkannya kepada Tuhanmu”.

Ceritanya, ada seorang sahabat Nabi ﷺ yang datang ke masjid naik unta. Lalu dia masuk masjid tanpa mengikat untanya. Ketika Nabi bertanya, kenapa dia tidak mengikat untanya, jawabannya adalah mirip-mirip kaum yang tidak mau divaksin: “Saya serahkan semuanya kepada Allah”. Lalu Nabi ﷺ menjawab: “Ikatlah dulu untamu, baru serahkan semuanya kepada Allah”.

Dari cerita di atas, sebelum menyerahkan diri mau kena atau tidak virusnya, vaksin adalah usaha saya untuk tidak terkena. Selain menjaga jarak, mencuci tangan, dan tidak kemana-mana kalau tidak perlu-perlu amat.

Jadi saya cukup miris dengan banyaknya orang Islam yang tidak mau divaksin dengan alasan yang mereka buat-buat. Mereka mencontoh siapa?

Saya tidak punya ilmu soal medis dan virus

Bidang yang saya tahu adalah kode program, itupun hanya di beberapa bahasa pemograman saja. Maka itu jika saya ditanya soal medis dan virus, saya tidak tahu apa-apa.

Maka dari itu, jika ada otoritas yang bisa saya percaya soal ini, maka saya akan mengikuti anjurannya. Karena dianjurkan untuk divaksin, maka sayapun mau divaksin. Jika Anda tidak divaksin karena gak percaya pemerintah dan tenaga medis, dengan pengetahuan Anda, siapa yang bisa Anda percaya? Menyesal datangnya selalu terlambat.

Saya mau dunia balik lagi ke keadaan normal

Dengan divaksin, saya berasumsi, paling tidak saya sudah pakai baju untuk melindungi diri dari virus dibandingkan jika sama sekali tidak divaksin, saya bertelanjang dada menghadapi virus. Mau berapapun tingkat efektifitasnya, saya tidak memilih mau divaksin merek apapun. Karena vaksin yang didapat Astra zeneca, maka Alhamdulillah saya sudah divaksin.

Sudah itu saja, saat ini saya sedang menunggu vaksin tahap kedua yang dijadwalkan di bulan September 2021 awal.

Gambar di atas diambil tanpa ijin dari http://p2p.kemkes.go.id/program-vaksinasi-covid-19-mulai-dilakukan-presiden-orang-pertama-penerima-suntikan-vaksin-covid-19/