Olahraga lari, Review Produk

Review produk lokal, sepatu lari League Kumo 1.5

Sepatu lari merek Adidas dan Diadora saya jebol setelah berhasil melewati lebih dari 3 tahun. Ini artinya, saya hanya punya sisa 1 sepatu bermerek Sketcher yang kira-kira sudah 1,5 tahun. Untuk itulah saya butuh paling tidak 1 lagi sepatu lari.

Dikarenakan pandemi, maka keputusan saya sudah bulat untuk membeli hanya produk lokal saja. Masalahnya, kaki saya agak lebih besar dibanding kebanyakan orang Indonesia yang menggunakan nomor 42-43. Kaki saya hanya bisa menggunakan nomor 45 keatas. Sebuah tantangan mencari ukuran besar untuk sepatu lokal.

Seperti biasa, saya mulai mencari info produk lokal yang bisa saya andalkan. Beberapa kali melihat review di Youtube, dan mendapati beberapa merek yang katanya bagus. League, Eagle, Ortuseight, Piero, dan 910. Eagle dan Piero gugur dikarenakan ukuran sepatu yang tersedia online tidak cukup besar untuk saya. Jadi tersisa League, Ortuseight dan 910.

Dari ketiga merek sisa tersebut, saya mencari toko yang menjual sepatu dengan merek mereka di kota Malang. Dan saat itu hanya mendapatkan League saja.

Datanglah saya, dan pergi membeli. Lupa tepat harganya, tapi antara 400-450 ribu rupiah.

Beberapa kelebihan dan kekurangan yang saya tulis di sini adalah berdasarkan pemakaian setelah 150km. Jadi sudah valid untuk menulis review. Saya lebih banyak berlari pada pagi hari, dan sesekali di sore hari. Rata-rata saya berlari 10km perhari. Bisa kurang sedikit kalau lari sore karena mendekati maghrib, sedangkan di pagi hari saya bisa lari sampai dengan 18km.

Tali sepatu

League Kumo 1.5 menggunakan teknologi bernama Quick Lace. Yaitu dua buah komponen plastik yang direkatkan di bagian ujung tali dan pertengahan tali. Sehingga Anda tidak perlu lagi mengikat sepatu seperti biasa. Tinggal tarik tali ke atas, dan lingkarkan sisa tali untuk sekadar mengunci agar tali tidak kemana-mana.

Idenya menarik, tapi eksekusinya biasa. Kualitas tali menurut saya terlalu kaku, dan plastiknya juga terasa ringkih. Saat pertama kali mencobanya di toko, secara reflek saya menarik plastiknya untuk mengencangkan sepatu, dan putus 😂. Walaupun ternyata bisa dipasang lagi, tapi orang toko bilang yang ditarik bukan plastiknya, tapi talinya. Agak janggal menurut saya, karena saya pikir bagian plastiknya dipegang untuk menarik tali. Ternyata tidak 😅.

Saya memberi nilai 6 dari 10 untuk eksekusi League di teknologi Quick Lace ini.

Desain sepatu

Salah satu daya tarik membeli League Kumo 1.5 adalah desainnya. Saya menyukai mereka mendesain produk ini. Saya menilai desain League Kumo 8,5 dari 10. Tidak ada komplain berarti.

Tipe sepatu lari jarak pendek

Sepatu ini buat saya adalah tipe sepatu lari jarak pendek. Karena setiap saya pakai lebih dari 10km, kaki saya tidak nyaman di bagian ujung jari. Padahal saya berniat mencari sepatu lari jarak panjang. Jadi agak sedikit menyesal. Masalahnya, waktu mengetes sepatu ini, memang cukup nyaman kalau dicoba sebentar.

Kalau Anda menginginkan sepatu lari dengan jarak 1-10km, saya kasih nilai untuk kenyamanannya 7,5 dari 10. Tapi jika Anda mencari sepatu lari jarak jauh, saya menilai sepatu ini 5 dari 10.

Komponen

Kalau saya mau bandingkan dengan Sketcher Go Run yang saya punya, League Kumo tidak terlalu lembut. Tapi jelas saja beda kelas. Harga yang saya bayar untuk Sketcher adalah 800 ribu, dan League Kumo setengahnya. Kalau bisa membuatnya lebih lembut, pasti akan sangat nyaman sekali.

Untuk ini, saya menilainya 7 dari 10.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, dengan uang saya keluarkan, saya agak sedikit kecewa karena niatnya mencari sepatu lari jarak jauh. Tapi kalau mau mencari sepatu lari jarak pendek, bolehlah saya kasih nilai 7 saja.

Untuk harga, sepatu ini memang pantas berada di sekitar 400-450 ribu. Lebih dari itu, gak terlalu layak. Kalau Anda bisa mendapatkan sepatu ini di bawah harga 400 ribu, dan Anda mencari sepatu untuk lari jarak 1-10km saja, maka ambil saja.