Didats Triadi

iOS Developer dari Malang, Indonesia

Tag: malang

Memilih koneksi internet di Malang. Indihome, First Media, MNC atau MyRepublic?

Tinggal di Malang kota untuk koneksi internet memang bisa dibilang menyenangkan. Sampai saat tulisan ini ditulis ada 4 pilihan untuk warga kota Malang soal koneksi internet rumahan. Dari 4 koneksi yang saya bahas ini, manakah yang paling bisa diandalkan? Teruskan membaca.

Penting diketahui: Saya tidak dibayar untuk menulis ini. Semua murni karena pengalaman saya sendiri. Pengalaman saya bisa saja beda dengan pengalaman Anda, dikarenakan lokasi kita berbeda.

Perlu diperhatikan dan sangat penting sekali adalah lokasi tinggal. Saya tinggal di Sawojajar, dan saat ini sedang menggunakan koneksi MNC untuk rumah, dan MyRepublic untuk kantor. Saya juga pernah menggunakan First Media dan Indihome sebelumnya, jadi boleh dikata tulisan ini adalah sepenuhnya pengalaman saya.

Indihome

Layanan milik Telkom ini ada ketika saya mulai memasang pesawat telepon untuk rumah. Waktu itu setiap bulannya tidak sampai 400 ribu untuk tagihan telepon dan tagihan internet. Sepertinya saya dulu ambil paket yang 5Mbps.

Dari pengalaman saya, Indihome cukup stabil di koneksi yang lelet tidak, cepatpun tidak. Tapi untuk kecepatan upload, indihome termasuk bikin sengsara. Saya yang seorang pengembang juga butuh kecepatan upload tinggi.

Puncaknya saat sekitar 3 hari tidak jelas dengan koneksi, hidup segan mati tak mau, akhirnya saya pasang First Media sebelum akhirnya memutus kontrak Indihome.

First Media

Saya cukup tertarik janji sales First Media yang berani janji koneksi Upload saya akan tinggi. Tapi ditunggu-tunggu tidak juga sampai dengan janjinya. Lihat tulisan saya di review First Media di kota Malang.

MNC

Sampai saat ini saya cukup puas dengan koneksi MNC di rumah. Kecepatan download dan upload bisa bikin senyum-senyum sendiri. Silahkan dilihat saja.

speedtest mnc

Yang menyenangkan adalah melihat kecepata Uploadnya yang lebih besar dibandingkan kecepata downloadnya.

MyRepublic

MyRepublic dan MNC sebenarnya sama, mereka cukup bisa diandalkan di daerah Sawojajar. Tapi yang perlu jadi perhatian adalah perangkat MyRepublic yang disediakan tidak sebagus kepunyaan MNC.

Dengan MyRepublic, Anda saya anjurkan untuk menyediakan kabel ethernet dengan kecepatan sampai deengan 1000 Mbps. Dengan begitu Anda bisa memaksimalkan koneksi yang disediakan MyRepublic. Jika tidak, Anda tetap dapatkan koneksi bagus, tapi sayang aja sudah bayar cukup mahal, tapi tidak bisa memaksimalkan koneksi yang ada.

Berikut perbedaan koneksi dengan menggunakan koneksi Wifi:

Myrepublic-sawojajar-wifi

Dan berikut ini adalah koneksi dengan menggunakan kabel ethernet.

Myrepublic-sawojajar-kabel

Kesimpulan

Jika pilihan di daerah Anda hanya Indihome, artinya sabar saja. Tapi jika ada tambahan First Media, pilih yang paling murah antara First Media dan Indihome, sambil tetap sabar. Koneksi mereka berdua sama saja, jadi pilih yang tidak terlalu bikin sesak dada.

Dan jika keempat koneksi yang saya bahas di atas tersedia, saya akan tetap memilih MNC dikarenakan lebih stabil walaupun kecepatannya masih kalah dibanding MyRepublic.

Masalah MyRepublic adalah kurang stabilnya koneksi. Beberapa minggu lalu selalu bermasalah dengan koneksi yang sangat lambat. Walaupun tidak sering bermasalah, tapi koneksi MNC jauh lebih jarang bermasalah.

Tinggal di Malang, 3 tahun kemudian

Ketika dulu merencanakan untuk pulang kampung setelah bertahun-tahun di Kuwait, jujur saya saya cukup khawatir bagaimana kehidupan saya di Indonesia nanti. Di Kuwait hidup kami terlalu nyaman dengan yang ada di sekitar. Tidak semua nyaman, tapi cukup tanpa merasa kekurangan suatu apapun. Setiap akhir pekan, saya dan istri jalan-jalan ke tempat-tempat nongkrong rata-rata semua umat di sana, Mall.

Kalau ada waktu lebih dan niat yang lebih, kami bisa ke negeri seberang seperti Turki. Karena biaya perjalanan cukup murah. Ketika sedang bulan diskon, bisa dengan 2-3 juta perorang saja. Total-total dengan makan dan penginapan, 15-20 juta saja berdua, untuk 3-5 hari.

Dengan hidup nyaman seperti di atas, cukup beralasan untuk khawatir. Karena saya tahu, gaji yang akan saya dapat di Indonesia pastinya akan berkurang jauh. Tapi saya langsung menepis anggapan itu, karena saya yakin, rejeki gak akan kemana. Tinggal di Kuwait terlalu monoton. Kerja, kerja, ke mall. Tiap 2 tahun, pulang ke Indonesia. Begitu terus. Walaupun cukup nyaman.

Kenapa Malang?

Saat memutuskan pulang ke Indonesia, ada 3 syarat untuk kota yang mau kita jadikan tempat tinggal. Yaitu gampang akses lewat kereta api. Dan yang paling penting, udaranya tidak terlalu panas. Dari 2 syarat itu, ada Bandung dan Malang. Sebenarnya ada Wonosobo, tapi kota itu terlalu kecil dan sulit diakses walaupun udaranya cukup menyegarkan.

Setelah Bandung dan Malang, kami menambahkan Denpasar. Memang tidak masuk syarat, tapi dari Denpasar begitu mudah mencari pantai dan jalan-jalan di sekitarnya.

Bandung, Malang, dan Denpasar. Saya ajak istri untuk menengok sekitar 3-5 hari di tiap kota tersebut. Buat saya, tidak ada masalah tinggal di 3 kota tersebut, tapi istri belum tentu mau. Dan kami akhirnya sepakat untuk memilih Malang, karena udaranya yang masih sejuk dan akses ke luar kota yang mudah lewat kereta api.

Setelah 3 tahun?

Saya senang. Hidup senang. Nyaman, dan gak ada perasaan untuk balik lagi ke Kuwait walaupun sudah ditawari lagi. Bahkan saya juga ga ada keinginan untuk tinggal di negara lain. Untuk saat ini tidak ada niat, tapi entah setelah melihat Pemilu 2019 nanti. Semoga gak akan ada apa-apa.

Tulisan ini klikbait. Karena intinya cuma di paragraf kedua dari terakhir. Inipun nambah sedikit. Memang gak penting kok.

Hackathon Merdeka 2.0 di Malang

Saya memang paling senang kalo ada acara Hackathon, walaupun sudah tak lagi muda, tapi cukup percaya dengan kemampuan sendiri untuk tetap melek semalaman.

Tapi sayangnya, saya ditakdirkan untuk jadi Mentor daripada jadi peserta Hackathon. Walaupun sudah saya bilang dari awal kalau saya akan jadi peserta, tapi panitia di Malang bersikukuh kalau saya sudah tidak lagi cocok jadi peserta. Jadi begitulah, akhirnya saya menyerah dan memilih jadi mentor.

Kondisi peserta di Malang

Dari 68 tim yang terdaftar (1 tim hanya beranggotakan 3 orang), hanya ada 48 tim yang akhirnya datang dan ikut berkompetisi. Itu artinya ada sekitar 150 sampai 160an orang (ditambah panitia) dalam ruangan Dilo Malang yang tidak terlalu besar itu.

Dari total 48 tim yang hadir, saya bisa bilang 90%-nya adalah mahasiswa semester 3 – 5 yang belum pernah ikut hackathon sama sekali. Sisanya dari kalangan anak muda yang sudah lulus, dan ada 3 tim dari SMK.

Kebetulan Rimbunesia ikut serta dalam Hackathon kali ini, dan akan sayangnya tidak menjuarai kompetisi ini, walaupun saya yakin mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Apa yang rata-rata dibuat

Karena kondisi sebagian besar peserta yang masih mahasiswa, rata-rata mereka berkutat dengan data. Ada yang membahas data kemiskinan, data anak jalanan, data anak putus sekolah, dan lain-lain. Jadi kalau bahasa kita yang sudah lulus dan tua ini, mereka hanya membuat CRUD (Create, Read, Update, Delete) saja.

Sangat bisa dimaklumi, karena mungkin kalau saya seusia mereka, sayapun mungkin akan membuat hal yang sama. Hehe.

Yang jadi juara

Perlu diingat, saya hanya mentor di acara kali ini, jadi penentuan pemenang murni di tangan para juri.

Juara pertama, mereka hanya terdiri dari 2 orang yang mengandalkan reader RFID e-ktp. Mereka berharap pemerintah yang punya data penduduk akan bisa mengandalkan reader ini dan ketika e-ktp ditempelkan ke alat, data penduduk akan keluar. Data ini akan bisa digunakan dalam pendataan bencana (CRUD saja), dan atau pembagian raskin (CRUD juga).

Juara kedua, mereka membuat aplikasi antrian yang lebih efektif dengan cara memberikan push notifikasi ke telepon genggam pengantri.

Juara ketiga, mereka membuat aplikasi untuk melaporkan jalan rusak dengan menyertakan latitude dan langitude.

Apa yang Rimbunesia buat?

Ide yang kami tawarkan adalah yang tidak terkait dengan birokrasi kependudukan di lingkup nasional. Sejauh pengalaman saya selama tinggal di luar negeri dan menjadi panitia pendaftaran PEMILU, ternyata KBRI tidak punya data pasti WNI yang tinggal di suatu negara karena tidak adanya koneksi antara bagian imigrasi dan pihak KBRI.

Aplikasi dari kami menawarkan solusi untuk permasalahan di atas yaitu dengan membuat pengguna mendaftarkan data dirinya, kemudian ketika terdeteksi pindah negara, aplikasi akan mengunggah dokumen tersebut langsung ke KBRI terkait. Sehingga setiap KBRI bisa punya data real-time siapa saja WNI yang saat ini berada di negara tempat KBRI berdiri.

Berikut video dari tim Rimbunesia.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén