October 12th, 2005

Aku teringat kejadian lucu tentang tilang-menilang dengan polisi setelah di akhir pertemuan dengan seseorang dalam rangka buka puasa bersama tadi sore berkata “Kamu gak ada 2 helm, hari gini polisi lagi kejar setoran”.

Malam itu, sepulang dari daerah kemang aku mengambil jalan yang salah. Maklum, sudah malam, aku jadi terlupa untuk mengambil jalur motor di sebelah kiri. Di bundaran Ratu Plasa ternyata ada seorang polisi dengan motor gagahnya mencegatku, dan menyuruhku menepi tepat di depan halte.

“Kamu tau apa kesalahan kamu?” tanyanya, memulai pembicaraan.
“Tau pak, maaf… saya kelewatan, lupa ngambil jalur motor” jawabku memelas.
“Ya, tapi kamu tetap saya tilang! Mana surat-suratnya?” Pintanya tegas.
“Ini pak” kataku sambil menyerahkan SIM dan STNK kepadanya. Saat itu kebetulan aku sudah punya SIM, jadi tak terlalu khawatir dan panas dingin jika bertemu polisi.
“Gimana, kamu mau sidang disini apa nggak? murah kok! cuma 40 ribu saja!” begitu katanya, sambil mengeluarkan surat tilang.
“Duh! Maaf pak, bukan saya gak mau, tapi malam ini saya benar-benar gak ada duit” Kataku, sambil memperlihatkan dompet yang memang tak ada selembar duit pun didalamnya.
“Oke kalau begitu, sidang aja ya…” Katanya.
“Iya pak, habis mau gimana lagi…” Kataku, sedikit memelas sambil mengiba kepadanya.
“Sidangnya jauh loh, dan besok pagi. Kamu ada waktu?” begitu katanya sambil sedikit menyindir.
“Iya pak, saya tahu… habis mau gimana lagi pak, saya gak punya duit” jawabku memelas dan pasrah.

Aku hanya bisa melihatnya mencatat namaku dan alamat rumahku di surat tilang itu. Pikiranku macam-macam saat itu, dari mulai aku harus mengambil cuti untuk mengurus surat tilang itu, sampai penyesalan karena lupa mengambil uang di ATM sewaktu di perjalanan tadi.

“Kamu beneran mau sidang nih?” tiba-tiba ia memecahkan pikiranku, sambil mencoba mempengaruhiku.
“Habis mau gimana lagi pak, saya gak punya duit” jawabku dengan tetap memasang muka melas.
“Kamu dari mana tadi? dan pulang ke mana?” tanya polisi itu.
“Dari rumah temen pak, habis belajar buat ujian besok. Sekarang mau pulang ke kost-an di Sumur Batu” jawabku, mencoba berbohong demi kebaikan.
“Mana coba lihat dompetmu, bener gak punya duit sama sekali?” tanyanya, penasaran.

Aku memperlihatkan semua sudut dompetku. Layaknya dipalak oleh preman kampung yang mencoba melihat semua isi dompet. Dan, memang tak ada duit sama sekali waktu itu. Untung saja ia tidak memintaku untuk mengambil uang di ATM. Karena jarak dari TKP ke ATM cukup dekat.

“Ya sudah, kamu pulang aja” Katanya sambil menyerahkan kembali SIM dan STNK.
“Beneran pak?” tanyaku seolah tak percaya.
“Iya, sana gih pulang. Jangan diulang lagi ya…” Jawabnya dengan memelas.

Aku kegirangan! Setelah menaiki motor, aku hanya bisa tertawa dan tersenym penuh arti. Sukur! salah sendiri menilang pegawai dengan tampang mahasiswa! Hihihihi….

Moral of the story:

  1. Pasang tampang memelas di depan polisi.
  2. Kalau tampang cukup meyakinkan sebagai mahasiswa, mengakulah sebagai mahasiswa yang tinggal sendiri dengan bantuan orang tua yang ada di kampung.
  3. Kalau tampang tidak meyakinkan sebagai mahasiswa, cukup mengaku pegawai rendahan bertugas sebagai kurir atau office boy.
  4. Amankan kartu ATM dan uang pecahan 50 ribu sampai 100 ribu. Cukup tampilkan uang ribuan lecek.
  5. Bermanis-manislah di depan polisi.

Related posts:

No related posts.



Kategori:blog



67 Responses

  1. testeras says:

    People who know Bob Miller here?
    need icq nubmer of bob miller

  2. yusnar says:

    pak po, he.he… ciaan de loo.