Aplikasi Android Lacak Paket JNE dengan In-app purchase

Sudah sekitar 2 minggu satu aplikasi kami ada di Playstore hadir dengan satu fitur penting, In-app purchase. Berikut adalah tulisan saya bagaimana respon para pengguna Android di Indonesia.

Aplikasi kami, Lacak Paket, sudah hadir sejak awal Desember 2015. Dan baru lebih dari sebulan kemudian kami nekat untuk memasukkan in-app purchase tanggal 21 Januari 2016 untuk menghapus iklan yang menurut kami sendiri cukup mengganggu 😛

Harga pertama yang kami tetapkan adalah 5 ribu rupiah. Walaupun menurut kami, harga ini tidak cukup untuk menutup biaya pembuatan, tapi kami mencoba untuk realistis saja di pasar Indonesia. Hasilnya, selama 3 hari hanya ada 1 pembeli saja.

Kemudian di hari ketiga, kami mengubah harganya menjadi 3 ribu rupiah saja. Tanpa diduga, sampai dengan saat ini ada 3 – 5 pembeli setiap harinya. Dan yang paling menarik adalah, jumlah unduhan kami naik 1,5 sampai 2 kali lipat tiap harinya. Dengan jumlah unduhan yang naik, maka secara otomatis jumlah pendapatan kami dari iklan juga naik.

Menarik sekali.

Apple Music, 2 bulan kemudian

Dari awal kehadiran Apple Music, saya agak ragu untuk mulai mendaftarkan diri. Karena saya gak terlalu suka dengar musik, gak tau apa-apa tentang musik, dan malu-maluin kalo udah mulai coba nyanyi. Makanya jadi programmer, bukan artis. Dan saya gak nyesel dengan pilihan saya itu. Andapun seharusnya begitu.

Kemudian kartu kredit datang setelah berbulan-bulan daftar. Tepatnya lebih dari 5 bulan. Dengan adanya kartu kredit, artinya saya harus mengubah lokasi Apple ID ke Indonesia dari versi Amerika. Setelah mengikuti semua petunjuk dari Apple, akhirnya resmi akun Apple ID saya berpindah lokasi. Begitu juga dengan Apple ID kepunyaan istri, Bapak dan Ibu.

Dan kakak Isyana Sarasvati, bidadari lain yang turun dari langit setelah Raisa, mengeluarkan albumnya. Dan sukses saya beli. Dari situlah saya mulai daftar Apple Music. Toh, 3 bulan gratis ini.

Apple Music, semua ada.

Saya terdaftar sebagai akun keluarga dengan biaya sekitar 100 ribuan perbulan, dengan 3 bulan gratis. Semua lagu ada, dari lagu-lagu lama di tahun 70-an, 80-an, 90-an, sampai yang paling menarik perhatian saya, ada ustad Mishary Rashid dengan semua album Qurannya!

Kenapa saya singgung lagu-lagu 70-80an -walaupun saya lahir di akhir 80an (ini jelas pencitraan), semata-mata karena orang tua. Mereka antusias sekali ketika tahu tidak perlu lagi buka Youtube untuk mendengarkan lagu-lagu lama, lagu sunda, lagu jawa, dan lagu-lagu khas bapak-bapak dan emak-emak langsung dari telepon genggam mereka.

Bacaan Quranpun ada!

Jelas ini pencitraan. Tapi memang benar, rata-rata semua pembaca Quran terkenal punya album di iTunes store. Yang paling banyak jelas ustad Mishari Rashid yang asli Kuwaiti.

Kesimpulan akhir, lanjut kita… Entah sampai kapan.

*foto diambil tanpa ijin dari sini.

Review kecepatan First Media di Malang

Satu-dua minggu ini saya banyak melihat promosi First Media di Malang yang cukup intens di sosial media. Setelah melihat cakupan jaringan yang bisa dipasang, ternyata Sawojajar 1 masuk. Sudah ada niat untuk pasang dan coba-coba, tapi ternyata setelah dihitung-hitung, mereka juga memasang harga sewa alatnya, jatuhnya jadi mahal.

Untuk sekadar informasi, saya juga telah memasang Speedy 5mbps (saat memasang belum masuk Fiber optic, entah saat tulisan ini ditulis). Karena kebutuhan kerja yang memaksa saya untuk lebih sering mengunggah aplikasi yg saya buat untuk dites, dan kebetulan kecepatan unggah Speedy cukup mengecewakan.

Tepatnya hari Jumat kemarin (27 Nov 2015), seseorang dari First Media menawarkan untuk memasang First Media. Beliau berani jamin kalau saya bisa dapat kecepatan unggah 1 Mb perdetik. Dengan jaminan itu, saya akhirnya terseret untuk mau memasang.

Setelah pemasangan, cukup kecewa karena kecepatan Unduh yang saya dapat hanya 1,8 Mbps. Jangan ditanya kecepatan unggahnya. Berikut bukti yang sempat saya catat:

firstmedia-malang

Setelah saya konfirmasi, kata mereka kecepatan ini hanya sementara, dan saya bisa menikmati kecepatan sebenarnya keesokan harinya.

Dan bisa ditebak, hari Sabtu (28 Nov 2015) kecepatan tidak berubah. Setelah hari Minggu, kecepatan berubah ke yang sebenarnya. Kecepatan unduh yang saya dapat melebihi 4 Mbps yang mereka janjikan, tapi kecepatan unggah tidak ada perubahan berarti.

First Media Malang

Dengan kecepatan di atas, saya masih penasaran dengan jaminan 1 Mb perdetik yang sudah dijanjikan sebelumnya. Tapi sepertinya saya gak akan pernah saya dapatkan. Saya juga cukup curiga dengan kecepatan unduh yang lebih dari 4 Mbps di atas, karena untuk streaming lagu dari Apple Music saja tersendat-sendat.

Kesimpulan saya, First Media ini bukan pilihan tepat untuk saya. Jika kontrak habis (kira-kira 5 bulan, menurut seseorang dari First Media), akan saya putus.

Fase pengguna sebelum bebas dari produk bajakan

Walaupun sekarang saya sudah bebas dari produk bajakan, terutama di dunia digital, saya sadar sepenuhnya bahwa saya pernah dalam kondisi pemakai produk bajakan. Untuk itu saya menulis ini agar selalu diingatkan betapa beruntungnya saya dan betapa harus bersyukurnya saya sudah dilepaskan dari produk-produk bajakan.

Produk bajakan yang saya maksud adalah berupa musik digital, perangkat lunak, sistem operasi, film, dan sejenisnya.

Berikut ini adalah fase-fase yang saya lalui sebelum bisa bebas dari produk bajakan.

Tidak tahu kalau itu bajakan

Fase ini biasanya dilalui oleh semua orang di Indonesia, terutama ketika masa sekolah sampai awal-awal kuliah. Mungkin saya tergolong telat, karena saya baru tahu kalau bajakan ketika seorang teman yang tinggal di luar negeri saya mau ajari penggunaan Adobe Photoshop.

Beliau dengan entengnya bilang, “Saya gak punya Photoshop, belinya mahal banget“. Dek, saya kaget bukan main. Karena di Indonesia, Adobe Photoshop bisa didapatkan dengan hanya 25 ribu rupiah (jaman jadul dulu, entah berapa sekarang).

Tahu itu bajakan, tapi tidak perduli

Setelah cerita di atas, akhirnya saya tahu mana yang bajakan dan mana yang bukan. Tapi saya tidak perduli. Lagipula, dari mana saya bisa membeli perangkat lunak yang harganya beratus dolar itu sedangkan saya masih mahasiswa.

Ketidakpedulian itu akhirnya lama-lama terkikis ketika saya tahu betapa sulitnya membuat perangkat lunak.

Beralih ke Linux

Akhirnya, karena masih kuliah, saya sempat 100% meninggalkan Windows dan mulai menggunakan Linux. Kebiasaan seorang pemula yang baru terjun dan merasa pintar, saya mulai mengejek pengguna Windows. Saat itu saya merasa paling benar karena menggunakan Linux yang gratis.

Di lingkungan Linux, saya sudah banyak mencoba distro-distro yang dulu tenar. Sayapun mulai bereksperimen dengan LTSP (Linux Terminal Server Project), yaitu Anda hanya membutuhkan 1 server dan client tidak lagi memerlukan HDD lagi, karena tergantung sepenuhnya dengan server.

Tergoda dengan game di Windows

Setelah full 100% di lingkungan Linux, saya mulai tergoda dengan beberapa game yang cuma ada di Windows. Dan suskseslah saya memasang dual-boot.

Saat itu (mungkin sampai saat ini), game yang ada di Windows lebih beragam dan lebih canggih. Jangan tanyakan apakah game yang saya mainkan bajakan atau tidak, karena sudah pasti bajakan. Dan saya sudah gak peduli. Hehehe

Pindah lagi ke Windows sejak pertama bekerja

Saat itu saya bekerja dengan komputer desktop dengan sistem operasi Windows. Mulailah saya melupakan Linux dan mulai menggunakan Windows secara 100%. Tidak hanya itu saja, saya juga lebih sering membeli CD bajakan untuk menonton film dan mengunduh lagu-lagu mp3.

Jadilah kumplit. Bekerja membuat perangkat lunak, tapi tidak tergerak sedikitpun dengan hasil kerja keras orang lain.

Pindah ke Mac, mulai peduli

Dikarenakan penasaran dengan sistem operasi yang satu ini, saya mengumpulkan uang dan berhasil membeli komputer Mac. Dikarenakan lebih sulit mencari perangkat lunak bajakan di Mac, dan rata-rata aplikasi berbayar, akhirnya saya mulai meninggalkan aplikasi bajakan dengan pengecualian.

Pengecualian itu adalah, saya tetap menggunakan Adobe Fireworks. Dikarenakan harganya yang cukup mahal, maka saya belum bisa membelinya. Sampai saat saya minta ke kantor untuk dibelikan lisensinya, Alhamdulillah dibelikan beneran.

Bebas bajakan dari perangkat lunak, tapi tidak dengan musik dan film

Fase ini terjadi beberapa tahun kebelakang. Saya masih belum bisa terima kalau harus membeli musik dan film. Kalau aplikasi okelah, karena saya juga berkutat di bidang pengembangan perangkat lunak. Agak sayang rasanya untuk mengeluarkan uang membeli musik dan film.

Untunglah saya diselamatkan dengan rusaknya Mac pertama saya. Semua data hilang. Termasuk musik dan film.

Bebas dari semua produk bajakan

Alhamdulillah, sekarang saya ada di fase ini. Dan saya juga berusaha untuk tidak mengejek orang yang masih menggunakan produk bajakan, karena saya pernah di posisi mereka.

Saat ini saya tidak lagi menggunakan aplikasi, perangkat lunak, atau mendengarkan musik ilegal. Saya juga tidak lagi mengunduh film dan mp3 sembarangan. Jika ingin mendengarkan musik, saya cukup buka Youtube saja. Semua aplikasi yang saya punya adalah 100% gratis atau 100% hasil pembelian.

——

Bagaimana untuk lepas dari produk bajakan menurut versi saya? berusahalah menghargai hasil karya orang lain, dan berusahalan untuk membeli perangkat lunak atau aplikasi yang murah-murah dulu dan pas di kantong. Jika aplikasi yang Anda inginkan berharga mahal, maka carilah alternatifnya yang lebih murah.

Facebook SDK for iOS now using Safari Web Controller to authenticate

Facebook SDK is one of the worst SDK I have implemented. They constantly changing their APIs on each version, and its driving me nuts as developer.

When you are using iOS9 with SDK 4.6+, you are no longer get fast-app switching. It will open the Safari instead. The bad thing with this behaviour is, user will need to enter his username and password again. This is one other reason not to use Facebook SDK anymore in my next project. Unless the client asked it.

I am not sure why we should put few of their URL Schemes on our plist file if they couldn’t use the fast-app switching. You may need to read this in detail on this Stackoverflow post.

Bye-bye Facebook SDK!

Review Apple Watch

Sebenarnya sudah banyak review pemakai Apple Watch, tapi tidak ada salahnya saya buat versi saya sendiri sebagai seorang pengembang juga pemakai. Di bahasan kali ini, saya akan menulis sebagai pemakai dulu. Kalau sempat, akan saya review sebagai pengembang.

Seperti kebanyakan produk Apple, atau mungkin ini pengalaman pribadi saya saja, ketika Anda sudah enak di platform buatan Apple, Anda mungkin tidak ingin lagi pindah ke lain hati. Beberapa orang sudah saya tanya, dan mereka bilang persis seperti yang saya tulis ini.

Begitu juga dengan Apple Watch, setelah menggunakannya selama kurang lebih 1 bulan, saya sudah tidak lagi tertarik dengan jam biasa. Ya iya pasti, harga termurah Apple watch bisa beli hampir 3 buah jam merek Swatch asli yang terhitung lumayan bagus.

Berikut ini adalah pengalaman pribadi saya sebagai pengguna Apple Watch. Sebagai informasi, saya menggunakan Apple Watch Alumunium 42″.

Apakah layak dibeli?

Kalau Anda pengguna iOS, dan akan terus menggunakan iOS, tidak perlu ngutang atau nyicil untuk membeli Apple Watch, dan ada dananya, maka jawabannya adalah layak.

Dengan perangkat ini, Anda akan lebih jarang nengak-nengok ke layar iPhone karena notifikasi akan datang ke pergelangan tangan Anda. Yang perlu diingat, jika Anda sedang menggunakan iPhone, maka notifikasi hanya akan datang ke iPhone Anda, bukan Apple Watch.

Baterai?

Selama ini tidak ada masalah dengan baterai jika Anda tidak terlalu aktif. Hari teraktif saya waktu itu, kondisi 100% baterai saat bangun tidur, kemudian lari 10km di jam 6 – 7, ditambah bersepeda 24km, maka jam makan siang baterai sudah berkurang lebih dari setengahnya.

Jika Anda tidak lari, tidak olahraga aktif seperti saya di paragraf atas, pekerjaan Anda lebih banyak duduk, maka saat akan tidur jam 10 – 11 malam, baterai bisa tersisa sekitar 30%.

Kelebihan dan kekurangan

Salah satu hal yang saya suka dari Apple Watch adalah, tali jam yang bisa diganti-ganti. Bentuknya yang unik, keren dan cocok disandingkan dengan tali jam model apapun. Walaupun sampai saat ini tali jam yang saya punya masih yang untuk olahraga saja, tapi dalam waktu dekat ini versi lainnya akan datang.

Selain tali jam, Apple Watch juga meminimalisasi kebutuhan saya untuk selalu melihat layar iPhone ketika ada notifikasi.

Kekurangannya adalah, harganya yang masih terbilang mahal dan kurang responsifnya aplikasi yang ada. Entah karena perangkat keras yang ada di dalamnya, atau perangkat lunaknya. Selain itu, tidak ada lagi kekurangan.

Untuk olah raga?

Jika Anda aktif berolahraga, Apple Watch adalah pilihan tepat. Saya dulu pengguna Fitbit Flex, lalu setelah pemakaian beberapa bulan, karet Fitbit sudah gak jelas kemana dikarenakan kualitasnya yang kurang mumpuni. Ditambah, lebih cepat bau karena bercampur keringat.

Untuk fitur olahraga, Apple Watch punya aplikasi native yang berjalan lebih cepat dibandingkan Nike+ atau aplikasi lain. Tapi untuk bisa menggunakannya, Anda harus tetap membawa iPhone dikarenakan Apple Watch tidak mempunyai GPS sendiri.

Kesimpulan saya, selain sisir sebagai obat ganteng, Apple Watch juga bisa bikin ganteng.

Hackathon Merdeka 2.0 di Malang

Saya memang paling senang kalo ada acara Hackathon, walaupun sudah tak lagi muda, tapi cukup percaya dengan kemampuan sendiri untuk tetap melek semalaman.

Tapi sayangnya, saya ditakdirkan untuk jadi Mentor daripada jadi peserta Hackathon. Walaupun sudah saya bilang dari awal kalau saya akan jadi peserta, tapi panitia di Malang bersikukuh kalau saya sudah tidak lagi cocok jadi peserta. Jadi begitulah, akhirnya saya menyerah dan memilih jadi mentor.

Kondisi peserta di Malang

Dari 68 tim yang terdaftar (1 tim hanya beranggotakan 3 orang), hanya ada 48 tim yang akhirnya datang dan ikut berkompetisi. Itu artinya ada sekitar 150 sampai 160an orang (ditambah panitia) dalam ruangan Dilo Malang yang tidak terlalu besar itu.

Dari total 48 tim yang hadir, saya bisa bilang 90%-nya adalah mahasiswa semester 3 – 5 yang belum pernah ikut hackathon sama sekali. Sisanya dari kalangan anak muda yang sudah lulus, dan ada 3 tim dari SMK.

Kebetulan Rimbunesia ikut serta dalam Hackathon kali ini, dan akan sayangnya tidak menjuarai kompetisi ini, walaupun saya yakin mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Apa yang rata-rata dibuat

Karena kondisi sebagian besar peserta yang masih mahasiswa, rata-rata mereka berkutat dengan data. Ada yang membahas data kemiskinan, data anak jalanan, data anak putus sekolah, dan lain-lain. Jadi kalau bahasa kita yang sudah lulus dan tua ini, mereka hanya membuat CRUD (Create, Read, Update, Delete) saja.

Sangat bisa dimaklumi, karena mungkin kalau saya seusia mereka, sayapun mungkin akan membuat hal yang sama. Hehe.

Yang jadi juara

Perlu diingat, saya hanya mentor di acara kali ini, jadi penentuan pemenang murni di tangan para juri.

Juara pertama, mereka hanya terdiri dari 2 orang yang mengandalkan reader RFID e-ktp. Mereka berharap pemerintah yang punya data penduduk akan bisa mengandalkan reader ini dan ketika e-ktp ditempelkan ke alat, data penduduk akan keluar. Data ini akan bisa digunakan dalam pendataan bencana (CRUD saja), dan atau pembagian raskin (CRUD juga).

Juara kedua, mereka membuat aplikasi antrian yang lebih efektif dengan cara memberikan push notifikasi ke telepon genggam pengantri.

Juara ketiga, mereka membuat aplikasi untuk melaporkan jalan rusak dengan menyertakan latitude dan langitude.

Apa yang Rimbunesia buat?

Ide yang kami tawarkan adalah yang tidak terkait dengan birokrasi kependudukan di lingkup nasional. Sejauh pengalaman saya selama tinggal di luar negeri dan menjadi panitia pendaftaran PEMILU, ternyata KBRI tidak punya data pasti WNI yang tinggal di suatu negara karena tidak adanya koneksi antara bagian imigrasi dan pihak KBRI.

Aplikasi dari kami menawarkan solusi untuk permasalahan di atas yaitu dengan membuat pengguna mendaftarkan data dirinya, kemudian ketika terdeteksi pindah negara, aplikasi akan mengunggah dokumen tersebut langsung ke KBRI terkait. Sehingga setiap KBRI bisa punya data real-time siapa saja WNI yang saat ini berada di negara tempat KBRI berdiri.

Berikut video dari tim Rimbunesia.

Seminggu di Kuwait

Kemarin saya baru sampe lagi di Malang, setelah kira-kira seminggu berada di Kuwait untuk mengurus ijin tinggal dan kerja keras. Ini adalah kunjungan kedua saya setelah resmi keluar dari Kuwait dan memulai hidup di Indonesia.

Nah loh?

Jadi menurut hukum Kuwait, ijin tinggal yang ada akan otomatis kadaluarsa ketika orang yang mempunyai ijin tinggal meninggalkan tanah Kuwait lebih dari 6 bulan terhitung sejak dia keluar. Dengan kata lain, untuk tetap mempunyai ijin tinggal di sana, saya harus hadir di Kuwait tiap 6 bulan sekali.

Dan kenapa saya masih saja kembali ke sana ketika sudah balik ke Indonesia? Yang ini panjang ceritanya. Dan tidak akan saya bahas di sini, karena judulnya adalah Seminggu di Kuwait. Hehe.

Yang berubah?

Tidak banyak perubahan yang bisa saya lihat. Tapi ada satu mall baru yang sudah selesai dan saya punya kesempatan melihat-lihat. Tidak ada yang menarik, semua tampak seperti mall seperti biasa. Kebiasaan dan perilaku orang arab juga sama saja. Tidak ada yang berubah sama sekali. Saya sungguh harus bersyukur tinggal di Malang.

Ada satu perubahan yang jelas kentara pada saya sendiri. Kini bahasa inggris saya mulai pudar karena jarang terpakai. Walaupun masih bisa ngomong dan masih lumayan lancar, tapi lebih sering keseleo. Ngomong masih tercampur dengan bahasa Indonesia, walaupun sedikit sekali. Cukup mengkhawatirkan, tapi gak apa-apalah.

Harga-harga?

Tinggal di Malang ini benar-benar membuat semua harga di luar Malang jauh terlihat lebih mahal. Ketika dulu saya tinggal di Kuwait dan pergi ke Istanbul dan Seoul, saya berpikir semua harga di sana terlihat lebih murah.

Dan selama setahun tinggal di Malang, saya melihat harga-hara di Kuwait sudah tidak lagi bersahabat dengan hati saya. Jangankan Kuwait yang sudah di luar negeri sana, dibanding dengan Jakarta saja saya sudah mikir beberapa kali.

Kesimpulannya, bersyukur saja saya tinggal di Malang. Tiap pagi bisa menikmati udara pagi yang sejuk sambil lari-lari cari keringat. Malamnya bisa keliling naik sepeda sekadar membeli sesuatu dengan harga yang sangat bersahabat.

Teringat ibu saya bertanya beberapa hari lalu, enak mana, tinggal di Malang apa Kuwait? Tentu saja, jawabannya enak di Malang!

Setahun di Indonesia

Bulan Oktober tahun ini menandai saya kembali ke Indonesia satu tahun yang lalu. Keputusan yang cukup berani dengan meninggalkan zona nyaman saya di sana. Mungkin banyak orang yang mengernyitkan dahinya ketika tahu saya akan meninggalkan Kuwait dan kembali lagi ke Indonesia.

Terus terang kepulangan saya juga ditentukan dengan hasil Pemilu 2014 kemarin. Kalau saja bukan Jokowi yang menang, saya mungkin masih di sana. Dan terus terang setelah setahun ini saya sangat bersyukur diberikan petunjuk untuk pulang kampung setahun yang lalu.

Penyakit baru

Yang saya takutkan beberapa tahun ke belakang terjadi. Saya menderita penyakit yang disebabkan oleh kurang teraturnya makan, kurang makan sayur, dan kurang berolahraga. Kolesterol. Jikalau saya masih di Kuwait, akan menjadi sulit untuk berolahraga dikarenakan situasi tempat tinggal saya yang kurang mendukung.

Sejak tinggal di Malang, semua ikut mendukung. Lari pagi, tapi makan enak jalan terus. Akhirnya di akhir bulan puasa kemarin tercatat kolesterol saya mencapai 265 dari yang seharusnya 200. Inilah yang menyebabkan saya rutin lari pagi (walaupun kadang bolong-bolong), dan berhenti dari makan sembarangan.

Dan siapa yang sangka, dibandingkan setahun lalu, berat badan saya berkurang sampai 10kg. Memang tidak semua penyakit membawa dampak buruk buat tubuh. Ada juga yang berlaku sebagai peringatan jikalau umur tak lagi muda.

Rejeki baru

Sayapun tidak mengira, rejeki saya bertambah sejak tinggal di Malang melebihi versi Kuwait. Tapi ini mungkin dikarenakan lebih banyak kepala yang rejekinya diberikan melalui saya. Jadi kelebihan itu adalah jatah mereka.

Begitulah, yang jelas saya senang dengan keputusan meninggalkan Kuwait setahun yang lalu. Jika ditanya untuk balik lagi untuk hidup ke sana,

Gak mau ah.

Facebook Graph no longer give you friend list

Since the Graph API 2.0, you will no longer get the friend list of the user. For developer like me, this is bad move from Facebook. Sending me/friends to Graph API will give you a an empty data.

So, move on Developers, no need to use Facebook Connect anymore. Use Twitter or Instagram instead.