Beyazit Kapali Carsi. Beyazit Grand Bazaar.
Kata-kata itu yang masih saya ingat sekali sampai sekarang. Diucapkan oleh suara rekaman dari seorang perempuan yang memberitahukan stasiun berikutnya ketika naik Tram.
Hotel yang saya tempati ada di Aksaray. Setelah Aksaray akan ada stasiun Lalite Universite (Universitas-nya Istanbul), dan selanjutnya baru Beyazit Kapali Carsi. Bisa dibilang Grand Bazaar itu dekat dari hotel.
Sebenarnya bisa jalan kaki, tapi yang pasti capek. Kami-kami ini mau menghemat tenaga biar nanti di Grand Bazar bisa keliling. Toh hanya mengeluarkan uang kecil 1,4 lira (kira-kira 10 ribu rupiah atau 100 fils Kuwait) perorang.
Sampai di terminal, menurut petunjuk GPS yang saya bawa, kami menuju ke arah kiri dari pintu keluar. Pemandangan pasar sudah terlihat dari jauh. Sayang sekali waktu itu hujan, jadi saya tidak sempat foto-foto. DSLR yang saya bawa hasil penjeman euuy! Ngeri! Hehehe…
Dari gerbangnya, terlihat lorong panjang yang hanya berisi kios-kios. Kami berjalan mulai dari gerbang, dan melihat-lihat. Penjual emas, perak, pernik-pernik khas turki, manisan khas turki, semua ada. Baru beberapa langkah, kita diberikan pilihan untuk ke kiri, ke kanan, atau lurus terus.
Konon, kalau sudah belok ke kiri atau ke kanan, akan sulit menemukan dimana tempat keluar. GPS tak berfungsi, karena satelit tidak ditemukan lagi setelah berada di dalam pasar.
Kebetulan saat itu hari Jumat, dimana beberapa jam lagi saya harus sholat Jumat. Jadi kami tidak mau main-main dengan belok-belok. Akhirnya lurus saja dan menemukan gerbang lain. Saya pikir, nanti saja belok-beloknya kalau masih ada waktu panjang.
Setelah sampai di gerbang, kami keluar mencari makan sekedar pengisi perut sambil menikmati ramainya pasar.
—
Besoknya, yang bisa dibilang hari terakhir kami jalan-jalan di Grand Bazaar, Saya dan istri memberanikan diri belok-belok. Wuaaaaaah…. tambah terbelalaklah saya. Grand Bazaar memang sangat luaaaas! Dan ceritanya kami tersesat.
Saya bingung mau belok kanan atau belok kiri, atau terus lurus. Saya benar-benar tak tahu dimana gerbang keluar. Menghibur diri, jadilah kami lihat-lihat barang2 yang dijual. Dan membeli beberapa pasminah untuk oleh-oleh beberapa kerabat.
Sampai akhirnya, saya menemukan sinar matahari. Saat itu kami gembira akhirnya bisa menemukan jalan keluar….!